Ngeri! CAD Ambrol, Terparah Dalam 4 Tahun Terakhir

 

Kabar mengerikan datang dari Bank Indonesia (BI). Diinformasikan, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) pada triwulan III-2018 tercatat sebesar US$ 8,85 miliar. Angka ini setara dengan 3,37% dari Produk Domstik Bruto (PDB). Ini angka terparah dalam kurun empat tahun terakhir.

Kesimpulan ini biisa dilihat dari data sejak kuartal II-2014. Saa itu, CAD mencapai US$ 9,58 miliar, atau sekitar 4,26% dari PDB.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada CAD kita?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita akan sampaikan dulu apa itu CAD.

CAD adalah defisit transaksi berjalan adalah kondisi di mana impor barang dan jasa suatu negara lebih tinggi dari ekspornya. Ini menandakan kinerja industri dalam negeri belum dapat bersaing dengan negara lain.

Dari sisi perdagangan, CAD yang melebar banyak dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang dan peningkatan defisit neraca jasa. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), neraca perdagangan berbalik arah menjadi defisit sebesar US$ 398 juta pada kuartal III-2018, pasca selalu mencatatkan surplus sejak kuartal III-2014.

Kemudian, defisit pendapatan primer juga melebar tipis menjadi US$ 8,03 milliar di kuartal III-2018, dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 8,02.

Neraca Perdagangan Barang

Penyebab memburuknya neraca perdagangan barang karena defisit perdagangan migas yang melebar menjadi US$ 3,53 miliar di kuartal II-2018, naik dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 2,76 miliar.

Fakta ini sungguh menyedihkan karena defisit perdagangan migas sebesar itu menjadi yang salah satu yang terburuk di sepanjang sejarah Indonesia.

Harga minyak mentah jenis Brent memang tercatat menanjak sebesar 4,13%, di sepanjang kuartal III-2018. Bahkan, di akhir September 2018, harganya menembus level psikologis US$ 80/barel. Sebagai negara net importir, akhirnya Indonesia harus menanggung dampak negatif kenaikan harga sang emas hitam, dalam bentuk CAD yang jebol.

Terlebih, nilai tukar rupiah juga terdepresiasi 4,01% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di sepanjang kuartal III-2018. Pada awal September 2018, US$ 1 bahkan sempat dibanderol sebesar Rp 14.930. Hal ini lantas semakin menambah beban importase migas.

Di pihak lain, neraca perdangan non-migas masih mencatatkan peningkatan surplus ke angka US$ 3,43 miliar di kuartal III-2018, meski hanya naik tipis dari US$ 3,24 miliar pada kuartal sebelumnya.

Namun demikian, apabila dibandingkan dengan surplus kuartal III-2017 yang sebesar US$ 6,32 miliar, surplus di kuartal lalu turun cukup dalam.

Impor non-migas di sepanjang kuartal III-2018 tercatat naik sebesar 20,04% secara tahunan (year-on-year/YoY). Peningkatan itu jauh lebih kencang dibandingkan kenaikan ekspor non-migas yang hanya sebesar 9,32% YoY. Wajar jika akhirnya surplus perdagangan non-migas mengerucut.

Terbatasnya pertumbuhan ekspor non-migas utamanya disebabkan penurunan ekspor komoditas minyak nabati di kuartal III-2018, yakni sebesar -14,3% YoY. Hal ini nampaknya tidak lepas dari turunnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di kuartal lalu. Mengutip Refinitiv, harga CPO kontrak acuan di Bursa Malaysia memang anjlok 6,53% di periode Juli-September 2018.

Sementara itu, peningkatan impor non-migas disumbang oleh melambungnya impor barang konsumsi dan barang modal, masing-masing sebesar 36% YoY dan 26,9% YoY (secara nominal).

Neraca Perdagangan Jasa

Sekarang kita lihat neraca perdagangan jasa. Ternyata ada defisit neraca perdagangan jasa, melebar menjadi US$ 2,21 miliar di kuartal III-2018, dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 1,86 miliar. Menurut BI, perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit jasa transportasi/

Defisit jasa transportasi semakin parah seiring naiknya pembayaran jasa transportasi penumpang. Hal itu terjadi karena lebih tingginya jumlah kunjungan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri, antara lain dalam rangka pelaksanaan ibadah haji, dan meningkatnya pembayaran jasa freight seiring dengan meningkatnya impor barang.

Neraca Pendapatan Primer

Kita juga mengalami defisit neraca pendapatan primer,  melebar tipis di kuartal III-2018. Berdasarkan data dari BI, peningkatan defisit yang terjadi pada pendapatan investasi langsung di kuartal lalu dapat dikompensasi oleh penurunan defisit pendapatan investasi portofolio dan pendapatan investasi lainnya

Peningkatan defisit pendapatan investasi langsung terutama dipengaruhi oleh meningkatnya pembayaran pendapatan atas modal ekuitas, sejalan dengan membaiknya kinerja keuangan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada triwulan III-2018.

Namun demikian, sebagian besar pendapatan tersebut ditanamkan kembali (reinvested earnings) pada perusahaan sehingga pada gilirannya menambah aliran masuk investasi langsung ke Indonesia.

Sementara itu, penurunan defisit pendapatan investasi portofolio didukung oleh berkurangnya pembayaran dividen. Pengurangan itu mampu mengompensasi peningkatan pembayaran bunga surat utang pemerintah.

Adapun penurunan defisit pendapatan investasi lainnya terutama karena berkurangnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri, baik pemerintah maupun swasta.

Defisit transaksi berjalan adalah kondisi di mana impor barang dan jasa suatu negara lebih tinggi dari ekspornya. Ini menandakan kinerja industri dalam negeri belum dapat bersaing dengan negara lain.
Terkait jebolnya CAD ini, ada pembelaan dari Presiden Joko Widodo.

“Kita memiliki masalah yang sudah bertahun-tahun tidak bisa kita selesaikan, yaitu urusan defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan,” kata Jokowi mengawali sambutannya saat membuka Trade Expo Indonesia 2018 di ICE BSD, Rabu (24/10/2018).