Novel Bukan yang Pertama, Dewi Tanjung Memang Gemar Lapor Polisi

Diposting pada 165 views

Ngelmu.co – Penyidik senior KPK, Novel Baswedan, bukan orang pertama yang dilaporkan oleh politisi PDIP, Dewi Ambarwati (Dewi Tanjung). Sebab, melalui jejak yang tercatat, ia memang gemar melaporkan berbagai pihak ke polisi.

Sebelum melaporkan Novel ke Polda Metro Jaya, atas tudingan rekayasa penyiraman air keras, Rabu (6/11) kemarin, Dewi sudah lebih dulu melaporkan beberapa nama pada kepolisian.

Rekam Jejak Dewi Tanjung

Dimulai dari rekam jejaknya, Dewi pernah mencalonkan diri sebagai Caleg DPR RI Dapil V Jawa Barat (Bogor), tetapi ia harus kalah dari pesaingnya, Adian Napitupulu.

Namanya sempat mencuat pada Desember 2018 lalu, karena terlibat perseteruan dengan rekan se-partainya, Kapitra Ampera.

Saat itu, engacara pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Eggi Sudjana, menuding Kapitra melakukan ancaman pembunuhan terhadapnya, dan mengklaim informasi didapat dari Dewi.

Namun, belakangan Dewi justru menemani Kapitra, membantah seluruh tudingan, dan melaporkan balik Eggi ke polisi.

Sementara seperti dilansir Kumparan, di sepanjang 2019, Dewi sering bolak-balik ke kantor polisi.

April 2019

Sebut saja pada April 2019, Dewi pernah melaporkan Eggi terkait dugaan makar, dengan mempermasalahkan video orasi Eggi soal gerakan ‘people power’.

Mei 2019

Sebulan kemudian, Mei 2019, perempuan kelahiran 15 Januari 1980 itu, melaporkan Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais; pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab; dan eks pimpinan 212, Bachtiar Nasir.

Ketiganya juga dilaporkan oleh Dewi, atas dugaan makar.

Masih di bulan yang sama, pada akhir Mei 2019, Dewi melaporkan Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto; Amien Rais; Waketum Gerindra, Fadli Zon; dan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah ke Polda Metro Jaya.

Dewi menuding mereka terlibat dalam kericuhan yang terjadi di Bawaslu, pada 21-23 Mei lalu.

Namun, laporan terhadap Prabowo ditolak oleh Polda Metro Jaya, karena saat itu, Prabowo sedang mengajukan gugatan Pilpres di MK, maka yang bersangkutan dilindungi UU.

Agustus 2019

Selanjutnya, Agustus 2019, Dewi melaporkan akun Twitter @LisaAmartatara3 ke Polda Metro Jaya, atas dugaan pencemaran nama baik.

Di mana cuitan akun tersebut berbunyi, kader PDIP ‘menyewa pekerja seks komersial (PSK)’ saat menggelar kongres di Bali, pada 8-11 Agustus 2019.

Pernah Bermain Sinetron

Sekadar informasi, selain berpolitik, Dewi juga pernah menjadi pemain sinetron ‘Tangis Kehidupan Wanita’ yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta.

Aktif di YouTube

Sampai detik ini pun, ia masih aktif mengunggah berbagai video ke kanal YouTube pribadinya.

Salah satu video berdurasi 21 menit, yang ia unggah pada 14 Oktober 2019, bertajuk ‘Nyai Dewi Tanjung Menantang Novel Baswedan Membuktikan Kebenaran Matanya Buta Asli Atau Buta Rekayasa’.

Berlanjut pada 24 Oktober 2019, Dewi kembali menyindir Novel dengan mengunggah video tutorial make up, berjudul ‘Nyai Dewi Tutorial Make up Buta, lebih serem mana make up Nyai Sama Novel’.

Dewi Laporkan Novel Baswedan

“Saya melaporkan Novel Baswedan, penyidik KPK terkait dugaan rekayasa kasus penyiraman air keras,” ucap Dewi Tanjung di Mapolda Metro Jaya.

“Ada beberapa hal yang janggal, dari semua hal yang dialami, dari rekaman CCTV dia, dari bentuk luka, dari perban, kepala yang diperban tapi tiba-tiba mata yang buta, gitu ‘kan,” ujar Dewi, Rabu (6/11).

Sebagai seorang lulusan seni, Dewi menduga, Novel melakukan beberapa rekayasa, mulai dari penyiraman air keras.

“Saya orang seni, saya juga biasa beradegan. Orang kalau sakit itu, tersiram air panas, reaksinya tidak berdiri, tapi akan terduduk,” jelas Dewi.

“Jatuh terguling-guling, itu yang saya pelajari, dan tidak ada di situ reaksi dia membawa air untuk disiramkan,” sambungnya.

Baca Juga: Politisi PDIP Tuding Novel Baswedan Merekayasa Penyiraman Air Keras

Baca Juga: Respons Novel Baswedan soal Tudingan Rekayasa Penyiraman Air Keras

Seharusnya, kata Dewi, Novel menyiramkan air mineral, setelah terkena siraman air keras, untuk menetralisir.

Namun, sambungnya, Novel tidak melakukan hal itu, maka dia curiga, termasuk dengan luka yang dialami Novel.

Selain mata, kulit Novel, sebut Dewi, harusnya juga ikut terluka. Ketika di rumah sakit pun, Dewi curiga, karena hanya wajah Novel yang diperban, sedangkan matanya tidak.

“Faktanya, kulit Novel ‘kan enggak apa-apa, hanya matanya, yang lucunya, kenapa hanya matanya? Sedangkan kelopaknya, ini-nya semua tidak (rusak),” kata Dewi.