Pantaskah Kita Meminta Surga?

 

Jika Imam Syafi’i merasa mendapat bencana saat melihat betis gadis yang tak sengaja tersingkap. Ada yang malah merasa mendapat nikmat meski tak diungkap.

Jika Umar menginfakkan kebun yang membuatnya ketinggalan shalat Ashar. Ada yang malah biasa saja berulang kali tertinggal meski azan terdengar.

Jika Urwah bin Zubair tak terganggu salatnya saat pisau bedah mengamputasi kaki. Ada yang bahkan terganggu hanya karena nyamuk yang menggigit ibu jari.

Jika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sangat menyesal karena pernah berbohong meski seumur hidup hanya tiga kali. Ada yang malah santai saja meski jumlah dustanya sudah tak terhitung lagi.

Jika ‘Aisyah menyesali mengatakan “Shafiyah Si Pendek” yang bisa mengubah warna lautan. Lalu bagaimana dengan gunjingan dari mulut lainnya? Mungkin bisa membuat seluruh samudra menjadi busuk dan pekat kehitaman.

Jika Umar bin Abdul Azis bergetar menahan istrinya berbicara di ruangan yang diterangi pelita minyak yang dibiayai negara. Ada yang malah keasyikkan menggunakan fasiltas seakan miliknya saja.

Jika serpihan pagar kayu rumah orang yang dijadikan tusuk gigi bisa membuat “sang kyai” tertahan untuk masuk surga. Ada yang malah woles saja menikmati mangga hasil jarahan kebun tetangga.

Sudah begitu…
Pede pula meminta surga…

Memang hari ini dunialah yang nyata dan akhirat hanya cerita. Namun sesudah mati, akhiratlah yang nyata dan dunia tinggal cerita.

Ya, Allah ampuni kami…

Satria Hadi Lubis