Opini  

Pelukan yang Menjawab Keraguan Kapasitas

 

Saya pikir rangkulan antara Presiden PKS M Sohibul Iman (MSI) dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh hanya gimmick belaka yang tak kan jadi pusat perhatian khalayak. Ternyata saya salah. Adegan itu dicemburui pak Jokowi, diangkat dalam tajuk Kompas, dan mendapat tone positif oleh warganet.

Bandingkan dengan peristiwa sebelumnya yang sempat viral, yaitu ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri lewat di depan Surya Paloh dan Agus Yudhoyono tanpa bersalaman di acara rapat paripurna DPR beberapa waktu lalu. Masyarakat heboh dan bertanya-tanya, ada masalah apa antara mereka?

MSI tidak perlu ber-retorika canggih ala motivator atau bergaya layaknya orator untuk menunjukkan kapasitasnya berpolitik. Ia punya body language yang membuat konstelasi politik Indonesia bergejolak dan membuat kesan mendalam buat masyarakat. Menjawab keraguan “under capacity” yang ditudingkan padanya oleh beberapa pihak.

Pelukan kemarin memberi pesan kepada masyarakat bahwa dua entitas politik yang terpisah kubu bisa lebih hangat daripada pihak-pihak dalam internal koalisi. Berbeda bukan berarti bermusuhan. MSI memberi teladan bagaimana bersikap dewasa tanpa ada baper politik.

Kedua, masyarakat bisa melihat bahwa ketulusan beroposisi yang diperlihatkan oleh PKS itu lebih menghindari konflik daripada bergabung dalam koalisi namun sikut-sikutan berebut kekuasaan. Apalagi niat beroposisi PKS cukup fair. “PKS tidak ingin masuk kabinet karena ingin menghormati partai-partai yang berkeringat memenangkan Jokowi-Maruf Amin,” begitu kata Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini. Sikap yang sangat elegan dan melegakan bagi partai lain.

Ketiga, seruan rekonsiliasi jadi lebih mudah dicerna karena tanpa pesan sponsor bagi-bagi kursi seperti – mohon maaf – pertemuan Jokowi Prabowo beberapa waktu lalu. Ya, ada sih latar belakang politisnya yang dilihat publik. Yaitu kesamaan ingin mengusung Anies Baswedan di pilgub Jakarta berikutnya. Tentu tak mungkin dua entitas politik iseng ujug-ujug bertemu tanpa ada kepentingan di belakangnya.

Keempat, pelukan itu mementahkan tudingan radikal-radikul kepada PKS. Bayangkan, seorang Surya Paloh yang dikenal nasionalis, pancasilais, pejuang kebhinekaan, yang dikenang dengan pidato lantangnya di Perayaan Kita Indonesia: “Kitaa… Kitaaa… Kitaaa… Indonesia”, apakah mau merapatkan badannya begitu erat dengan tertuduh radikal? Sekaligus mementahkan anggapan bahwa PKS adalah partai eksklusif yang kaku, membawa ideologi permusuhan, dan anti kebhinekaan.

Dan pelukan kemarin makin menegaskan karakter politik yang ditunjukkan M Sohibul Iman.

Pertama, karakter konsisten dan setia kawan. Terlihat pada lima tahun kemarin, PKS tak dibawanya bermanuver mengemis kursi. Juga ketika mereka harus menerima kenyataan pahit kekalahan di pilpres, PKS sejak awal menyatakan beroposisi, menolak bertemu Jokowi sebelum kabinet terbentuk, dan menghormati lawan-lawan politik yang lebih berhak untuk berbagi kekuasaan.

PKS pun setia berkoalisi dengan Prabowo sampai pendaftaran resmi kandidat capres-cawapres sebagaimana ikrarnya jauh-jauh hari.

Kedua, fleksibilitas politisi. Karena tak mungkin bersikap kaku dalam politik, dunia yang penuh tawar menawar. PKS berpotensi menjadi poros dalam konstelasi politik baru setelah Partai Gerindra merapat ke pemerintahan. Kalau memang harus mengubah kawan sekutu, tak ada masalah selama agenda-agenda umat Islam yang dijaga PKS bisa terakomodasi.

Dalam jalinan komponen umat Islam, PKS adalah mata rantai yang mengambil peran sebagai bargainer yang harus memadukan sikap idealis dan realistis dengan tepat. Mungkin pihak yang lebih kaku akan menggugat keberadaan Nasdem yang dulu mendukung Ahok, mantan terpidana kasus penistaan agama. Tapi mereka lupa, Gerindra pun dulu adalah kawan dekat PDIP dan pengusung Jokowi-Ahok pada pilgub DKI 2012. Pecah kongsi ketika Gerindra merasa PDIP melanggar perjanjian Batu Tulis lalu merapat kepada PKS. Dan bila kini sakit hati itu telah hilang, wajar saja bila partai berlambang Garuda itu kembali kepada kawan lamanya, dan dalam waktu bersamaan muncul Nasdem yang sedang mencari kawan membentuk poros alternatif.

Nah, rangkulan hangat MSI menunjukkan ia mampu bersikap fleksibel. Bukan pada sosok, ia kaitkan jangkar kesetiaan sekutu. Tapi pada kepentingan agenda umat Islam.

Ketiga, tak canggungnya partai-partai nasionalis seperti Gerindra dan Nasdem merapat kepada PKS menunjukkan bahwa ada sikap moderat pada tokoh yang memimpin partai dakwah ini. Sebagai mantan rektor Paramadina, wajar MSI punya citra moderat.

MSI bisa lebih diterima lebih luas lagi bila khalayak mengenalnya lebih dalam. Ilmuwan lulusan Jepang, pelanjut Nurcholis Madjid memimpin universitas yang dikenal sebagai kampus kebhinekaan, namun tak meninggalkan basis Islamnya.

Maka, baik kalangan Islam maupun nasionalis harusnya tak masalah dengan sosoknya.

Itu lah kapasistas seorang Sohibul Iman. Bila ditagih angka, ia telah berkontribusi besar atas 11 juta suara PKS di pemilu 2019. Bila ditanya karakter, ia beserta Ketua Majelis Syuro Habib Salim Segaf Aljufri dan Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayat Nur Wahid bertemu chemistrynya pada politik santun, istiqomah dan berpihak pada umat Islam.

Dan bila dipersoalkan retorikanya, ia jawab dengan body language: pelukan yang merebut simpati masyarakat. Setelah rangkulan itu, PKS kini makin disegani kawan dan lawan.

Zico Alviandri