Uskup Heinrich Bedford-Strohm

Pemimpin Gereja Jerman: Pendidikan Agama Islam Berhak Diajarkan di Semua Sekolah Negeri

Diposting pada 2.807 views

Ngelmu.co – Belum lama ini, tanah air dihebohkan dengan usulan yang keluar dari mulut seorang Praktisi Pendidikan, Setyono Djuandi Darmono. Ia mengatakan, pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Karena agama cukup diajarkan orangtua, atau lewat guru agama masing-masing, di luar sekolah.

Namun, hal berbeda justru lahir dari Pemimpin Gereja Protestan Jerman, Uskup Heinrich Bedford-Strohm. Ia mengusulkan, agar pendidikan agama Islam, diajarkan di seluruh sekolah negeri, di setiap negara.

Menurutnya, mengajarkan agama Islam di sekolah-sekolah, akan memberikan kesempatan kepada murid-murid Muslim, agar bisa lebih dekat dan memahami agamanya sendiri.

Uskup Heinrich Bedford-Strohm menyerukan hal tersebut, agar Islam bisa diajarkan di sekolah-sekolah negeri di seluruh negara, tanpa hambatan.

Karena menurutnya, dengan mengenyam pendidikan yang layak, upaya tersebut sama dengan melindungi anak-anak muda Muslim dari “godaan fundamentalis”.

Bahkan, pelajaran agama Islam di tujuh dari 16 negara bagian federal di Jerman, mendapat hak yang sama, dengan pelajaran agama Kristen dan Katolik secara tradisional, sebagai mayoritas di sana.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Heilbronner Stimme, pemimpin Gereja Lutheran Evangelis itu menegaskan, semua agama di Jerman harus kompatibel dengan konstitusi demokrasi negara tersebut.

“Toleransi, kebebasan beragama dan kebebasan hati nurani harus berlaku untuk semua agama,” ujar Bedford-Strohm, (29/5/2016), seperti dilansir dari Independent.

Senada dengannya, Perwakilan Gereja Katolik pun mengatakan, mereka setuju dengan usulan Bedford-Strohm. Bahkan sebelumnya, mereka mengaku telah mengusulkan hal yang sama. Apalagi Jerman, memiliki komunitas Muslim terbesar kedua di Eropa Barat.

Seperti yang diketahui, Islam memang berkembang pesat di Jerman, setidaknya dalam dua dekade terakhir. Hingga Juli 2018, penganut Islam di negara itu mencapai 4,7 juta orang atau sekitar 5,7 persen dari total populasi, sebesar 83 juta jiwa.