Pengakuan Militer Myanmar: Bunuh 10 Orang Warga Rohingya

Diposting pada 48 views

Ngelmu.co – Militer Myanmar pada akhirnya menyatakan bahwa anggotanya telah menangkap 10 warga Rohingya kemudian membunuhnya. Penangkapan dan pembunuhan tersebut dilakukan saat pemberontakan warga Rohingya terjadi pada 2017 lalu.

“Penduduk desa dan beberapa anggota keamanan lain mengakui bahwa mereka telah melakukan tindakan pembunuhan,” sebut pernyataan resmi Militer Myanmar seperti dikutip dari Reuters, Kamis (11/1).

Sebelumnya, pengakuan tersebut tidak pernah dilakukan oleh pemerintah dan militer Myanmar, meskipun Myanmar mendapat tekanan dunia. Myanmar selalu mengelak segala tudingan pelanggaran HAM yang ditujukan kepada dirinya tersebut.

Militer Myanmar menyatakan bahwa kejadian penangkapan dan pembunuhan terungkap saat mereka membongkar kuburan massal pada 18 Desember lalu di desa Inn Din 50 kilo meter dari ibu kota Rakhine, Sittwe. Di dalam kuburan tersebut terdapat 10 jenazah. Setelah diinvestigasi, ke-10 jenazah ternyata adalah korban pembunuhan yang dilakukan anggota militer Myanmar.

Pernyataan militer yang diposting di halaman Panglima Militer Jenderal Senior Min Aung Hlaing menyatakan bahwa anggota keamanan melakukan operasi pembersihan di area tersebut pada 1 September 2017 lalu, operasi dilakukan saat kelompok teroris Bengali menyerang Militer Myanmar dengan tongkat dan pedang.

“Kesepuluh orang itu ditangkap usai Militer membubarkan kerumunan pemberontak dengan cara menembakkan tembakan ke udara,” jelas pernyataan resmi militer.

Dalam pernyataan militer juga menyebutkan bahwa ke-10 orang itu awalnya ingin dibawa ke kantor polisi terdekat, namun mereka malah melawan dan meledakkan dua mobil polisi.

“Jadi karena kondisi itu kami tidak bisa menyerahkan 10 orang teroris Bengali itu ke kepolisian dan kami putuskan untuk membunuh mereka,” jelas pernyataan tersebut.

Militer Myanmar menyatakan bahwa tindakan seperti ini bisa diambil untuk warga desa serta anggota aparat keamanan yang melanggar ketentuan sesuai aturan yang berlaku.

Kelompok Amnesti Internasional menyebutkan bahwa pengakuan Militer Myanmar sebagai tindakan keputusasaan dari penyangkalan yang selama ini terus menerus dilakukan. Meskipun demikian, ini adalah puncak gunung es untuk melakukan penyelidikan serius atas tindakan kekerasan dan pembersihan etnis yang menyebabkan 650 ribu orang terpaksa melarikan diri dari kampung halamannya.