Perang Mental

  • Bagikan

Ngelmu.co – Perang mental … negeri Islam satu demi satu jatuh di tangan pasukan Tartar. Setiap kali menguasai negeri Islam, pasukan Tartar menghancurkan kota, berikut peradabannya, dan membunuhi penduduknya dengan sadis.

Perang Mental

Sebagiannya dicincang, dan sebagian lagi digantung di pohon-pohon dan jalan-jalan utama.

Ini dilakukan Hulagu Khan bersama pasukannya, untuk meneror dan menghancurkan mental kaum muslimin.

Strategi ini berhasil, hingga tidak ada perlawanan yang berarti, setiap kali pasukan Tartar menyerbu dan menguasai negeri Islam.

Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, pun jatuh tanpa perlawanan berarti. Khalifahnya, al-Musta’shim Billah, dibunuh.

Satu setengah juta kaum muslimin dibantai selama 40 hari. Jutaan buku dibakar dan dibuang ke sungai. Seluruh harta kekayaan negara digarong.

Misi utama pasukan ini hanya menghancurkan peradaban dan kemanusiaan.

Setelah Baghdad jatuh, kaum muslimin makin tidak punya nyali, bahkan sekadar berpikir untuk melakukan perlawanan, sehingga Hulagu Khan melanjutkan missi penghancurannya ke Damaskus, ibu kota Syam, dan kota-kota sekitarnya dengan mudah, tanpa perlawanan berarti.

Nyaris seluruh negeri Islam telah dikuasai dan dihancurkan, tinggal Mesir yang masih menunggu giliran—saat itu Mesir dipimpin oleh raja Mudzaffah Quthuz—karena itu, Hulagu Khan pun memutuskan untuk kembali ke negerinya dan menempatkan Katbugha.

Salah seorang komandan pasukannya di Damaskus, dan memberinya tugas untuk menaklukkan Mesir.

Dengan congkak Hulagu berpesan kepada Katbugha:

“Ketahuilah bahwa kekuatan kaum muslimin telah hancur dan tidak akan bangkit untuk selama-lamanya. Bahkan sekiranya kamu serang mereka dengan sepuluh orang, pasti mereka melarikan diri”.

Hulagu kemudian mengirim surat dan delegasi berjumlah 40 prajurit berkuda. Bersamaan dengan keberangkatan delegasinya ke Mesir, Hulagu pun bertolak ke negerinya.

Isi suratnya meminta agar raja Mudzaffar Quthuz menyerah atau dibunuh, dan seluruh rakyat Mesir dibantai.

Setelah menerima surat Hulagu, raja Mudzaffar Quthuz memanggil dan meminta pendapat semua menterinya serta beberapa orang ulama.

Di antaranya syaikh Izzuddin bin Abdus Salam yang dikenal sebagai sulthanul ulama.

Seluruh menterinya memberikan pendapat agar menyerah dan tidak melakukan perlawanan karena pasti kalah.

Izzuddin bin Abdus Salam menolak

Tetapi syaikh Izzuddin bin Abdus Salam menolak pendapat ini, dan memerintahkan raja Mudzaffar untuk melakukan perlawanan serta menghancurkan mental pasukan Mongol, dengan membunuh delegasi Hulagu dan menyisakan satu orang saja, agar ia memberitahukan apa yang terjadi.

Pendapat ini dilaksanakan, dan setelah itu, raja Mudzaffar Quthuz meminta syaikh Izzuddin bin Abdus Salam untuk mengumumkan jihad, memobilisasi rakyat Mesir, dan menggalang dana untuk membiayai perang.

Syaikh Izzuddin menyetujui permintaan raja Mudzaffar dengan syarat, seluruh kekayaan raja dan keluarganya dikeluarkan terlebih dahulu. Raja pun menyetujui.

Akhirnya terkumpul sekitar 20 ribu pasukan kaum muslimin, termasuk di dalamnya para ulama pimpinan syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.

Pasukan kaum muslimin bergerak ke utara Palestina dan mengambil tempat di Ain Jalut.

Di tempat inilah terjadi pertempuran sengit yang akhirnya dimenangkan kaum muslimin. Di dalam pertempuran ini, raja Mudzaffar berhasil membunuh komandan pasukan Mongol, Katbugha.

Kemenangan inilah yang menghentikan laju pasukan Mongol, dan menghancurkannya untuk selama-lamanya.

Kemenangan ini menjadi kuburan bagi pasukan Mongol yang menakutkan itu.

Setelah kemenangan ini, kaum muslimin di seluruh negeri mereka pun bangkit kembali, hingga sekarang.

Pesan Menyikapi Perang Mental:

Musuh selalu berupaya menghancurkan mental dan semangat perjuangan kaum muslimin, karena jika mental mereka telah hancur, maka mudah bagi musuh untuk menyerang dan menguasainya.

Jika kaum muslimin bersatu, maka mereka menjadi kekuatan besar yang tak terkalahkan oleh musuh yang lebih besar sekalipun.

Jaga semangat perjuangan umat dan persatuan mereka. Jangan dipecah belah karena kepentingan pribadi atau duniawi, agar tidak mudah dihancurkan musuh.

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc.

Baca Juga: Menteri Pengkhianat

  • Bagikan