Presiden ke-9 Israel Shimon Peres Pernah Ajukan Permohonan Jadi WN Palestina

  • Bagikan
Israel Shimon Peres Palestine

Ngelmu.co – Sejarah mencatat, Presiden ke-9 Israel Shimon Peres, pernah mengajukan permohonan untuk menjadi warga negara (WN) Palestina.

Mengutip The Palestinian Information Center, dokumen historis menunjukkan, Peres, tiba di Palestina dari Belarusia, pada 1937 silam, sebagai petani.

Tanda tangan Peres, di formulir permohonan menjadi WN Palestina, terlihat jelas.

Begitu juga dengan isi pernyataannya, “Saya bersumpah, akan setia kepada pemerintah Palestina.”

Lantas, apakah ikrarnya terpenuhi? Mari kupas tuntas sosok Peres yang sebenarnya.

Peres dan Haganah

Mengutip Middle East Monitor, Peres, berdiri dengan topeng pembeda. Membentuk citra Israel, di mata negara-negara Barat.

Ia bersikeras, realita berdarah di Palestina [yang dilakukan oleh pasukan Zionis] adalah murni sebagai tugas. Tak ada pelanggaran perang, sedikit pun, kata Peres.

Pernyataan itu terdengar di saat sejarah justru mencatat Israel, terus menempur Palestina. Keras dan berdarah.

Peres bahkan mengeklaim, sebelum Israel ada, tidak pernah ada apa-apa di tanah yang mereka rampas.

Ia lahir di Belarusia, 2 Agustus 1923, dengan nama Szymon Perski. Baru pada 1930, bersama keluarganya, Peres pindah ke Palestina.

Sebagai remaja, ia bergabung dengan Haganah, yakni milisi yang bertanggung jawab membersihkan etnis di berbagai wilayah, desa, di Palestina [1947-1949].

Semakin dewasa, sebelum menjadi presiden [15 Juli 2007-24 Juli 2014], Peres lebih dahulu duduk di kursi perdana menteri [22 April 1977-21 Juni 1977, 13 September 1984-20 Oktober 1986, 4 November 1995-18 Juni 1996].

Padahal, Peres, tak pernah benar-benar memenangkan pemilihan nasional secara langsung.

Ia juga pernah duduk di kursi menteri pertahanan, menteri luar negeri, dan menteri keuangan Israel.

Negara-negara Barat, mengenal Peres, dalam perannya saat perundingan Oslo, 1993.

Peran tersebut, juga membuat Peres, memenangkan Nobel Perdamaian, bersama Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat.

Otak di Balik Senjata Nuklir

Pada 1953-1965, Peres, menjabat sebagai direktur umum kementerian pertahanan Israel, dan wakil menteri pertahanan.

Jabatan yang membuatnya dikenal sebagai arsitek program senjata nuklir Israel. Bekerja dengan senyap [hingga saat ini persenjataan nuklir Israel, berada di luar pengawasan IAEA atau Badan Energi Atom Internasional].

Peran Peres dalam rezim militer Israel, begitu penting. Terlebih pada 1966, ketika pihak berwenang mencuri tanah.

Saat itu, mereka juga melakukan perpindahan warga ke wilayah yang bukan kekuasaan mereka.

Peres juga menerapkan peraturan, menjadikan tanah-tanah milik Palestina, sebagai zona militer tertutup Israel.

Aturan kebanggaan Peres. Langkah untuk melanjutkan perjuangan permukiman Yahudi serta imigrasi etnis tersebut, kata Peres.

Bocornya Rahasia Nuklir Israel

Berbelok sejenak. Pada 1986, rahasia nuklir Israel, bocor ke media Inggris.

Mordechai Vanunu adalah mantan teknisi nuklir Israel yang mengungkap aib negara tersebut.

Akibatnya, Vanunu, diculik dan harus terperangkap di balik jeruji besi.

Saat itu, ia mengungkap, Peres, bertemu secara rahasia dengan Menteri Pertahanan Afrika Selatan P W Botha.

Hasil pertemuan mereka, menyepakati pembelian tiga jenis bom atom dari Israel.

Dengan demikian, Peres, telah berkontribusi menjual senjata pemusnah massal, pada rezim apartheid.

Berlagak Melindungi

Sebagai wakil perdana menteri [2005], Peres juga membarui serangan untuk Palestina.

Ia, mendorong warga Israel untuk pindah ke Galilea, sekaligus merencanakan pembangunan tertutup untuk [setidaknya] 104 komunitas [mayoritas Yahudi].

Proyek pembangunan pemukiman ilegal, di Tepi Barat, salah satunya juga disebut, digagas oleh Peres.

Selama menjabat sebagai menteri pertahanan [1974-1977], Peres meletakkan sebagian besar bangunan di atas tanah Palestina yang disebut disita oleh perusahaan swasta.

Bukan hanya memainkan peran kunci untuk perusahaan pembangun pemukiman.

Peres, juga mengintervensi. Seolah-olah, ia melindungi perundingan damai dengan memberi sanksi.

Sanksi yang sangat lemah bagi mereka yang tinggal secara ilegal di tanah Palestina.

Berbagai Bantahan Penyerangan

Pada 1966, sebagai perdana menteri, Peres memerintahkan sekaligus mengawasi operasi Grapes of Wrath.

Zionis Israel, menewaskan 154 warga sipil di Lebanon, sementara 351 lainnya, terluka.

Operasi yang berupa serangan bom besar-besaran. Di desa-desa [yang dihuni Muslim Syiah] wilayah selatan Lebanon.

Peres juga menerapkan cara serupa untuk menekan Suriah, serta menahan Hizbullah.

Insiden yang paling terdengar dunia adalah pembantaian Qana. Saat itu, pasukan Israel, menyerang kompleks PBB.

Penyerangan yang menyebabkan 106 warga sipil yang ada di lokasi, tewas.

Namun, Israel membela diri dengan mengatakan adanya kesalahan prosedur saat serangan berlangsung.

Peres, juga mengeklaim segala hal telah berjalan sesuai logika, dan bertanggung jawab.

Ingin Damai? Gaza Terus Jadi Sasaran

Topeng membuat Peres, menjadi salah satu duta Israel yang nampak ingin berdamai dengan Palestina.

Namun, jalur Gaza justru terus menjadi sasaran blokade. Belum lagi hukuman kolektif serta kebrutalan zionis terhadap warga Palestina.

Tetapi lagi-lagi, bagi Peres, tujuan serangan tersebut adalah untuk memberi pukulan kuat kepada warga Gaza.

Agar mereka berhenti untuk mencoba menyerang Israel dengan roket.

Peres, di 2014, juga mencoba menutupi kejahatan perang, setelah pasukan Israel menewaskan empat orang anak.

Saat itu, anak-anak Palestina, tengah bermain di pantai. Mereka tewas karena ledakan bom.

Namun, Peres justru menyalahkan pemerintah Palestina, karena menurutnya, tidak mengimbau warga untuk menjauh dari lokasi [yang telah diperingatkan akan menjadi sasaran bom].

Di tahun yang sama, Peres juga mengatakan, akan tetap mempertahankan Israel, sebagai negara Yahudi.

Ia pun mengatakan, solusi dari perundingan damai, harus menguntungkan kepentingan, agar etnis mayoritas Israel, tak tersingkirkan.

“Prioritas pertama adalah melestarikan Israel sebagai negara Yahudi. Itulah tujuan kami,” kata Peres.

Ia juga pernah menggambarkan Palestina, sebagai pihak yang mengorbankan diri atas kesalahan tak perlu.

“Mereka adalah korban atas kesalahannya sendiri,” kata Peres.

Baca Juga: Fanpage ‘Jerusalem Prayer Team’ Paksa Pengguna Facebook Dukung Israel

Sampai akhir usia, tak ada sedikit pun maaf pun penyesalan yang keluar dari mulut Peres.

Pasalnya, ia memang mendukung solusi dua negara, tetapi Israel, tetap harus mempertahankan mayoritas Yahudi-nya.

Begitu juga dengan Yerusalem, Peres, ingin seutuhnya jadi milik Israel, bukan untuk dibagi-bagi.

Demikian sosok yang meninggal di usia 93 tahun ini–tepatnya pada 28 September 2016.

Sebelum tewas karena kondisi kesehatannya yang terus memburuk (strok), Peres telah menjalani perawatan secara intensif.

  • Bagikan
ngelmu.co