Berita  

Presiden PKS: Jangan Benturkan Nilai-Nilai Islam, Nasionalisme, dan NKRI

Presiden PKS Minta Stop Benturkan Islam Nasionalisme dan NKRI
Foto: detik.com

Ngelmu.co – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu, berharap–khususnya kepada para elite partai–agar mampu bersikap pun bertindak lebih dewasa.

Tepatnya dalam berpolitik. Terlebih saat menyikapi perbedaan. Sebab, dengan demikian, tidak ada lagi pihak yang merasa paling Pancasilais.

“Jangan sampai ada klaim sepihak, ‘Saya Pancasila, kami Pancasila’, ini yang menafikan, orang lain tidak Pancasilais,” tutur Syaikhu.

“Jangan benturkan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan NKRI,” tegasnya, mengutip Detik.

Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam program Blak-blakan, Senin (20/9) kemarin.

Baca Juga:

Lebih lanjut, PKS menyikapi polarisasi yang terjadi di masyarakat. Sering kali, hanya dua kandidat yang tampil dalam sebuah Pemilu.

Potret itulah yang mengakibatkan mengkristalnya pola dukungan, menjadi makin tidak terhindar.

Itu mengapa, PKS, mengaku akan berupaya untuk memperjuangkan penurunan ambang batas parlemen pun pencapresan, dari yang saat ini 20 persen.

Pasalnya, jika ambang batas [threshold] tak setinggi sekarang, ada kemungkinan muncul calon pemimpin lebih banyak.

Sehingga pola dukungan masyarakat juga dapat tersebar, dan persaingan politik bisa menjadi lebih rileks.

“Ini butuh kenegarawanan dari elite politik kita,” kata Syaikhu.

Ia juga mengingatkan, bahwa ke depannya, pembangunan serta kemajuan bangsa, butuh kerja sama dan kebersamaan dari semua elemen anak bangsa.

Syaikhu pun menekankan, bagaimana PKS, menilai empat pilar kebangsaan yang pernah disosialisasikan oleh Ketua MPR Taufik Kiemas, sudah final.

Di antaranya, penerimaan terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Tinggal bagaimana mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Syaikhu.

Di akhir, ia juga menegaskan, perlunya menghentikan narasi dan klaim yang membuat seolah satu koalisi partai adalah pendukung agama.

Sedangkan koalisi partai lainnya merupakan kelompok penista agama.

“Narasi-narasi klaim semacam itu, harus dihentikan,” pungkas Syaikhu.