Mendagri Tito Lomba New Normal

Publik Menyayangkan Langkah Pemerintah yang Mengadakan Lomba Video New Normal

Diposting pada 230 views

Ngelmu.co – Masyarakat menyayangkan langkah pemerintah, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), yang menyiapkan anggaran sebesar Rp168 miliar, sebagai hadiah untuk para pemenang lomba video simulasi protokol new normal—tatanan normal baru—di tengah pandemi COVID-19.

Menurut mereka, dana tersebut, akan jauh lebih baik jika digunakan untuk tes swab massal, terutama di wilayah yang termasuk zona merah.

@EVALockheart: Duit Rp168 miliar cuma untuk lomba video new normal. Apa ga mending buat tes swab massal, atau dipakai yang ada manfaat lebih. Lagi pula yang menang juga sudah bisa diprediksi, pasti dari yang pro pemerintah.

@sobbbeast: “Uang segitu mending buat nambahi kualitas laboraturium kita, supaya bisa meningkatkan kapasitas tes. Malu tuh sama India, kapasitas tes kita kalah jauh. Masa nunggu hasil tes aja sampe ada yang meninggal duluan.

Jokowi, kemarin bingung motong gaji dan THR banyak orang, sekarang uang dihamburin kayak gini. Banyak yang kena PHK woy Pak @jokowi, bawahan Anda tuh gimana sih.

Lagian masa PNS satu pun ga ada tim kreatif ahli bikin video? Ngapain ada kompetisi, bikin dari yang terbaik udah, pake. Wong isinya sama.”

@Yuli_lia90: Yang ngadain lomba beneran punya otak gak sih? Rp168M buat lomba? Uang siapa? Jadi ladang korupsi lagi tuh.

@Daldacookie: Aku tu mau komplain ke pemerintah, tapi takut ada tukang lontong sayur nongkrong di depan rumah, ga jadi deh.

@logic_editors: Kirain habis konser kemaren udah pada balik normal lagi otaknya.

Baca Juga: Rapid Test Bayar, Cholil Nafis Tanyakan Dana Corona: ke Mana Uang Kita?

Terlepas dari itu, saat membuka Penganugerahan Lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman COVID-19, di Kantor Kemendagri, Mendagri Tito Karnavian, menyampaikan jika hadiah akan diberikan dalam bentuk dana insentif daerah (DID).

Bagi 84 pemda, pemenang pertama mendapat Rp3 miliar, pemenang kedua Rp2 miliar, dan pemenang ketiga Rp1 miliar.

“Sehingga total pemenang berjumlah 84, terdiri atas juara I, II, dan III, untuk tujuh sektor kehidupan, dan empat klaster pemda, dengan total hadiah DID Rp168 miliar,” kata Tito, Senin (22/6).

Pemda yang ikut serta, diminta mengirimkan video berdurasi dua menit.

Di mana video tersebut berisi simulasi protokol kesehatan yang dibuat dengan melibatkan ahli kesehatan serta bekerja sama dengan stakeholder lokal.

Setidaknya, lanjut Tito, sudah ada 2.517 video simulasi protokol new normal yang diterima pihaknya dari berbagai pemda.

“Sebagai sesuatu yang baru, maka tatanan ini memerlukan tahap pengenalan atau pra kondisi, agar seluruh masyarakat siap dan mampu beradaptasi,” tuturnya.

“Pra kondisi ini dilakukan dengan membuat protokol kesehatan di berbagai sektor kehidupan, dan melakukan simulasi-simulasi,” sambung Tito.

Menariknya, dalam jajaran pemenang, Provinsi DKI Jakarta, sama sekali tak terlihat.

Padahal sejumlah daerah zona merah Corona, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, berhasil masuk jajaran pemenang.

Alasannya? Tito menyebut karena kondisi new normal DKI, masih ada yang harus dikaji ulang.

Meskipun dirinya tak merinci, tetapi ia menyinggung soal pelaksanaan car free day (CFD), di Bundaran Hotel Indonesia, Ahad (21/6) lalu.

“Mengenai masalah DKI, saya kira DKI sudah banyak aktif untuk menyampaikan sosialisasi tentang new normal,” kata Tito.

“Tapi ya kita melihat perlu diwaspadai, nanti masyarakat dengan adanya new normal, dianggap semua sudah selesai,” pungkasnya.

Lantas, pemda mana saja yang menjadi pemenang Lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman COVID-19? Berikut daftarnya, seperti dilansir Kompas:

Sektor Pelayanan Terpadu Satu Pintu

A. Klaster Provinsi

  1. Sulawesi Tengah
  2. Kalimamtan Utara
  3. Jawa Tengah

B. Klaster Kota

  1. Bekasi
  2. Bandung
  3. Surabaya

C. Klaster Kabupaten

  1. Trenggalek
  2. Sinjai
  3. Situbondo

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Nias
  2. Seram Bagian Barat
  3. Sumba Barat

Sektor Transportasi Umum

A. Klaster Provinsi

  1. Jawa Tengah
  2. Bali
  3. Kalimantan Tengah

B. Klaster Kota

  1. Bengkulu
  2. Banda Aceh
  3. Semarang

C. Klaster Kabupaten

  1. Sintang
  2. Tegal
  3. Tapanuli Utara

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Jayawijaya
  2. Seram Bagian Barat
  3. Kepulaian Sula

Sektor Hotel

A. Klaster Provinsi

  1. Jambi
  2. Kalimantan Utara
  3. Sulawesi Selatan

B. Klaster Kota

  1. Pekanbaru
  2. Surabaya
  3. Semarang

C. Klaster Kabupaten

  1. Trenggalek
  2. Kebumen
  3. Sintang

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Sumba Barat Daya
  2. Seram Bagian Barat
  3. Tojo Una-una

Sektor Pasar Tradisional

A. Klaster Provinsi

  1. Bali
  2. Sulawesi Selatan
  3. Lampung

B. Klaster Kota

  1. Bogor
  2. Semarang
  3. Palembang

C. Klaster Kabupaten

  1. Banyumas
  2. Lumajang
  3. Semarang

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Limbata
  2. Seram Bagian Barat
  3. Pesisir Barat

Sektor Pasar Modern

A. Klaster Provinsi

  1. Jawa Timur
  2. Lampung
  3. D.I. Yogyakarta

B. Klaster Kota

  1. Bogor
  2. Sukabumi
  3. Semarang

C. Klaster Kabupaten

  1. Aceh Tamiang
  2. Kebumen
  3. Tulungagung

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Seram Bagian Barat
  2. Belu
  3. Nias

Sektor Restoran

A. Klaster Provinsi

  1. Lampung
  2. D.I. Yogyakarta
  3. Jambi

B. Klaster Kota

  1. Bogor
  2. Tangerang
  3. Jambi

C. Klaster Kabupaten

  1. Trenggalek
  2. Tabalong
  3. Lumajang

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Sumba Barat Daya
  2. Sumba Barat
  3. Seram Bagian Barat

Sektor Tempat Wisata

A. Klaster Provinsi

  1. Jawa Tengah
  2. Jawa Timur
  3. Sulawesi Selatan

B. Klaster Kota

  1. Semarang
  2. Bogor
  3. Pare-pare

C. Klaster Kabupaten

  1. Sintang
  2. Gunung Kidul
  3. Trenggalek

D. Klaster Kabupaten Tertinggal

  1. Sigi
  2. Rote Ndao
  3. Seram Bagian Barat