Puing Logam di Perairan Kalteng: Diperkirakan Serpihan Badan Roket Cina

  • Bagikan
Roket Cina CNSA Kalimantan Tengah

Ngelmu.co – Bukan bagian dari badan pesawat, Kapolres Kotawaringin Barat, AKBP Devy Firmansyah, angkat bicara soal temuan puing logam berukuran besar di Teluk Ranggau, Sei Cabang, Kumai, Kalimantan Tengah.

“Diperkirakan bahwa serpihan benda yang menyerupai badan pesawat tersebut merupakan bagian dari badan roket milik Cina.”

Demikian tuturnya, mengutip Detik, Rabu (6/1).

“[Roket] Yang meledak di angkasa, dan jatuh di perairan Laut Jawa, dan terbawa ombak, terdampar,” sambung Firmansyah.

Pada puing tersebut, terdapat logo dan tulisan CNSA [singkatan dari China National Space Administration–badan antariksa Cina].

Dugaan sementara, puing itu merupakan bagian dari roket Cina yang meledak di langit, pada 10 April 2020.

“Saat ini, serpihan material dan beberapa temuan di TKP, diamankan di Pos AL Kumai, menunggu kedatangan team KNKT,” jelas Firmansyah.

Lebih lanjut, berdasarkan penelusuran polisi, roket tersebut membawa satelit Nusantara Dua [Palapa-N1], tetapi gagal.

Roket dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang, Sichuan, Cina, itu lepas landas pada Kamis (9/4/2020), pukul 7.46 malam waktu setempat, mengutip Xinhua.

Baca Juga: Antara Respons Menhan Prabowo dan Peneliti atas Temuan Seaglider

Belum dijelaskan di mana roket tersebut jatuh.

Namun, kantor Keamanan Dalam Negeri dan Pertahanan Sipil Guam, menyampaikan ada benda berapi-api di langit, yang dikaitkan dengan kegagalan peluncuran.

Di media sosial, saat itu juga beredar rekaman video soal satelit yang terbakar.

Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso, pun buka suara.

Ia, menceritakan saat-saat satelit Palapa-N1, gagal mencapai orbit, karena ada anomali di stage ketiga.

Satelit itu pun jatuh di laut, dan tidak diselamatkan.

Tidak ada kendala pada proses peluncuran oleh Xichang Satellite Launch Center (XLSC), Kamis (9/4/2020).

Namun, tiba-tiba saat berada di angkasa, terdapat puing-puing yang bertebaran.

Ketika peluncuran memasuki stage pertama dan kedua, Adi, mengatakan tidak ada masalah.

Persoalan baru muncul saat stage ketiga, “Ada dua roket, salah satu tidak menyala, sehingga tidak mendapatkan kecepatan yang cukup untuk masuk ke orbit yang ditentukan.”

Demikian jelas Adi, dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (10/4/2020).

Diketahui, Nusantara Dua, diproyeksikan mengisi di slot orbit 113 derajat Bujur Timur (BT).

Di mana kemudian akan dimanfaatkan Indosat Ooredoo, sebagai penyedia jasa satelit untuk menunjang bisnis media broadcasting di Indonesia.

Penemuan puing pada (4/1) sore itu, jelas sempat membuat geger warga sekitar.

Pihak kepolisian, mendapat informasi penemuan puing tersebut dari seorang warga bernama M Yusuf.

Penemuan diduga badan pesat, menurut Yusuf, karena di pantai tersebut sedang musim gelombang.

Maka tak tertutup kemungkinan, puing itu hanyut terbawa arus, sampai ke Dusun Teluk Raggau.

  • Bagikan
ngelmu.co