Puisi Sukmawati dan Sebuah Pekerjaan Bernama Ayah

 

Ketika puisi Sukmawati Soekarnoputri memunculkan kegaduhan tersebab pelecehannya kepada Islam, saya teringat kepada diri sendiri.

Tahun 2002, tepat pada 12 Oktober, di hari yang sama dengan Bom Bali, saya menikah. Setahun berselang memiliki anak. Resmi menjadi seorang ayah. Kini, sudah tiga putra putri membersamai perjalanan saya sebagai seorang ayah.

Semakin hari, saya kian menyadari tak mudah menjadi ayah. Meminjam judul buku sahabat saya Ida S Widayanti, SEBUAH PEKERJAAN BERNAMA AYAH tak bisa dilakoni oleh semua laki-laki. Bahkan teramat banyak yang gagal dan meninggalkannya.

Membesarkan anak-anak sangat mudah. Beri mereka makan, minum dan uang. Sekolahkan mereka dan seterusnya.

Tapi tidak demikian dengan mendidik. Butuh ilmu memadai dan keteladanan. Bukan coba-coba atau trial and error. Hal yang sering dialami pada anak pertama kita.

Menjadikan mereka anak-anak yang sholeh dan sholehah bukanlah pekerjaan mudah. Ikhtiar dan doa serta tak kenal putus asa harus seiring sejalan.

Tak cukup kita azankan mereka saat baru lahir, lalu sim salabim mereka jadi anak yang bertaqwa.

Tak cukup kita suruh mengaji lalu mereka menjadi anak yang cinta agamanya.

Tak cukup kita meminta mereka hapal Al Quran lalu kelak mereka menjadi anak yang mengamalkan Al Quran.

Ada upaya-upaya yang lebih dari sekadar menyuruh dan menginstruksikan mereka agar menjadi anak yang bertaqwa.

Bisa dibayangkan, seorang ayah yang mengarahkan anak-anaknya pada agama dan kebaikan saja belum tentu anaknya jadi baik, bagaimana pula jika ayahnya jauh dari agama?

Terlebih di zaman ini. Saat dunia semakin dalam genggaman. Fitnah kian merajalela. Kebaikan dan keburukan bersalin rupa. Memegang teguh nilai agama bagai menggenggam bara api.

Saya dan siapapun kita, pasti tak ingin anak-anak kita kelak menjadi penista agama. Begitu mudahnya lisan berpuisi melecehkan azan, cadar dan syariat Islam.

Jauhkan anak-anak kami Ya Robb dari perilaku semacam itu. Berikan kami kekuatan dan ilmu sebagai seorang ayah dalam mendidik anak-anak kami.

Cukuplah Sukmawati menjadi pelajaran berharga sehingga kami sadar, sebuah pekerjaan bernama ayah sedang kami jalani saat ini.

Pekerjaan yang jangankan seorang presiden bisa melakukannya, sosok nabi pun pernah gagal menjalaninya.

Bimbing kami Ya Robb…

Erwyn Kurniawan
Ayah tiga anak/Direktur Sekolah Shibghah Akhlaq Quran (Sakura)