Raja Pemecutan XI Menyambut Hangat Silaturahmi PKS di Bali: Puri Menerima Cahaya

  • Bagikan
Raja Pemecutan XI

Ngelmu.co – Raja Pemecutan Bali Ida Cokorda Pemecutan XI, menyambut hangat kedatangan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Habib Salim Segaf Al Jufri, di kediamannya, Puri Pemecutan, Denpasar, dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan kebudayaan.

Raja Pemecutan XI Menyambut Hangat PKS

Ida yang menyebut, dirinya dan umat Islam memiliki leluhur yang sama, merasa jika kedatangan Habib Salim membawa cahaya ke Puri-nya.

“Kedatangan Habib Salim ini, Puri saya menerima cahaya,” tuturnya.

“Saya tidak jauh dengan Muslim, karena leluhur kami sama,” sambung Ida.

Lebih lanjut ia menceritakan, tentang Muslim yang menjadi leluhur kerajaan Pemecutan.

Ida juga menyebut, hampir semua masjid yang ada di Denpasar, merupakan tanah wakaf keluarga Pemecutan.

“Saya kalau menikah sama Muslim, mungkin juga jadi Muslim,” ujarnya santai, disambut senyum dan tawa pengurus DPP-DPW PKS Bali.

Ida pun menolak, jika Muslim di-identikkan dengan anti-Pancasila, karena menurutnya, kelompok-kelompok yang melawan sistem bukan disebabkan ideologinya, tetapi kemiskinan serta kebodohan.

“Orang melawan, karena dia tidak bisa makan, tidak punya rumah, tidak bisa sekolahkan anak, tidak punya akses pekerjaan,” kata Ida.

“Itu akibat kemiskinan dan kebodohan. PKS punya PR menyelesaikan itu,” pungkasnya.

Kepada PKS Ida berpesan, agar mengutus wakil rakyat, di setiap kabupaten, kota, dan provinsi Bali.

Pasalnya, menurut Ida, akan lebih mudah menyejahterakan masyarakat, jika memiliki banyak wakil rakyat.

Baca Juga: Kami Oposisi di Senayan: Dari Mardani Hingga Rocky Gerung

Habib Salim yang melakukan silaturahmi di Bali, sejak Kamis (6/2), mengapresiasi kehangatan yang diberikan Ida, kepada PKS.

“Alhamdulillah, kita silaturahim, Pak Ida Cokorda bisa mencurahkan curhatnya dengan kita secara akrab. Ini baru pertama bertemu, tapi seperti lama kenal,” ujarnya.

Kader PKS yang menjadi pejabat publik, lanjut Habib Salim kepada Ida, resmi milik masyarakat, bukan lagi milik partai.

“Pejabat publik dari PKS adalah pelayan, semua menjadi milik bangsa, apa pun suku agamanya,” ucapnya.

“Kita hidup di sini, dilahirkan di Indonesia, kenapa harus saling membenci?” pungkas Habib Salim, yang disambut anggukan dari Ida.

  • Bagikan