Respons Cucu Sultan Aceh Usai Anies Ganti Nama Jalan Inspeksi Kalimalang Jadi Laksamana Malahayati

  • Bagikan
Jalan Laksamana Malahayati

Ngelmu.co – Cut Putri–cucu Sultan Aceh sekaligus Pemimpin Darud Donya–merespons keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengganti nama Jalan Inspeksi Kalimalang menjadi nama pahlawan nasional dari Aceh, yakni Laksamana Malahayati.

“Kami dari keluarga Kesultanan Aceh Darussalam, sangat bersyukur dan berterima kasih.”

“Atas penghormatan Bapak Anies Baswedan, terhadap jasa nenenda (nenek) kami, Laksamana Malahayati.”

Demikian penuturan Cut Putri yang merupakan cucu Sultan Jauharul Alamsyah Johan Berdaulat Zilullah Fil Alam.

Lalu, ia pun menceritakan kilas balik proses pengusulan Laksamana Malahayati menjadi Pahlawan Nasional pada 2017 lalu.

Saat itu, Cut Putri yang aktif menyukseskan pengusulannya, turut hadir dalam berbagai kegiatan terkait.

Ia juga menjadi narasumber kunci dalam kegiatan verifikasi akhir yang berlangsung di kediaman Wakil Gubernur Aceh, 19 September 2017.

Tim dari Kementerian Sosial yakni Direktur Kepahlawanan Drs Hotman, M.Si, juga ada di sana.

Ia datang khusus ke Aceh, bersama sejarawan nasional, Dr Anhar Gonggong dan Dr Mukhlis Paeni.

Begitu juga dengan Kepala Dinas Sosial Aceh beserta jajaran, serta para tokoh sejarawan setempat.

Di antaranya Rusdi Sufi, Mawardi Umar, Nurdin AR, dan lain-lain.

Cut Putri menghadiri kegiatan verifikasi atas permintaan langsung dari warga Lamreh Krueng Raya Aceh Besar; lokasi persemayaman Laksamana Malahayati.

Bukan hanya mewakili keluarga Laksamana Malahayati, Cut Putri juga hadir sebagai bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Posisinya adalah untuk memperjelas sekaligus menguatkan kepahlawanan sang nenek.

Penjelasan Cut Putri kala itu pun berhasil meyakinkan tim verifikasi dari Kementerian Sosial Jakarta.

Ia menguatkan bukti, betapa heroiknya Laksamana Malahayati.

“Akhirnya, hari itu, seluruh hadirin bersepakat bahwa Laksamana Malahayati, memang layak dijadikan sebagai pahlawan nasional.”

“Dan kami dari Kesultanan Aceh, sebagai keluarga Laksamana Malahayati, turut bersyukur dan berbahagia atas kehormatan itu.”

“Sebagai teladan, bagi generasi penerus bangsa,” tutur Cut Putri.

Selain Cut Putri, Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga berterima kasih kepada Anies.

“Saya mewakili Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh, berterima kasih kepada Pemerintah DKI Jakarta.”

“Khususnya kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan,” sambungnya.

“Yang telah memprakarsai pemberian nama jalan Pahlawan Aceh Laksamana Malahayati, atau Laksamana Keumalahayati,” jelas Nova.

Sebagai informasi, Laksamana Malahayati adalah seorang pejuang wanita Kesultanan Aceh.

Ia pernah menjabat sebagai Kepala Pengawal Dalam Istana, Kepala Intelijen Rahasia, dan Pemimpin Protokol Kesultanan Aceh.

Tepatnya pada masa Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV (1585–1604).

Ia juga menjadi laksamana wanita pertama di dunia yang memimpin ribuan pasukan Inong Balee.

Pasukan perempuan Aceh, dengan kekuatan ratusan armada kapal perang, lengkap dengan persenjataan dan meriam tempur.

Dunia juga mengenal baik Laksamana Malahayati.

Bagaimana tidak? Ia berhasil menghabisi Jendral Belanda Cornelis de Houtman.

Kala itu, keduanya terlibat perang tanding pedang satu lawan satu. Peristiwa berlangsung di atas geladak kapal perang Belanda.

Namun, Laksamana Malahayati justru berhasil menghabisi jenderal perang yang juga penjajah negeri.

Dunia mencatat kisahnya dalam sejarah dunia dengan tinta emas; melengkapi kegemilangan sejarah militer Kesultanan Aceh Darussalam.

Sejarah juga mencatat kisah ratusan tahun.

Para jenderal–kafir–penjajah, tewas bergelimpangan di tangan para pejuang Aceh, baik pria pun wanita.

“Dalam sejarah dunia, hanya Aceh satu-satunya negara di dunia saat itu yang berhasil membunuh banyak jenderal besar, yang berusaha menjajah Aceh.”

“Sehingga membuat kafir Belanda, saat itu menjadi bahan olok-olokan dunia,” kata Cut Putri.

Baca Juga:

Keberhasilan penguasaan persenjataan dan sistem perang modern dalam Kesultanan Aceh Darussalam, tidak lepas dari bantuan serta jasa baik Turki.

Sejarah mencatat, Sultan Turki Sultan Suleiman Al Qanuni (1520-1566), mengirimkan bantuan militer.

Ia mengirim ratusan Perwira Tinggi Pelatih ke Aceh, sehingga Aceh dapat makin menguasai sistem perang modern saat itu.

Dalam megahnya sistem pelatihan militer Turki di Bitai Aceh, dan pembuatan persenjataan–meriam–Turki di Gampong Pande, akhirnya lahir para pejuang tangguh Aceh yang masyhur di dunia.

Termasuk alumni Ma’had Askery [akademi perang] Baital Maqdis Turki di Bitai, yakni Laksamana Malahayati.

Begitu juga dengan Sultan terbesar Aceh Sultan Iskandar Muda.

Paripurnanya kemampuan militer membuat nama Laksamana Malahayati, harum.

Sebagai pahlawan besar Aceh, yang kini juga menjadi satu dari sekian pahlawan nasional.

“Hari ini, nama Laksamana Malahayati juga diresmikan menjadi nama jalan di Jayakarta.”

“Pada zaman dahulu, Jayakarta memang memiliki hubungan amat dekat dengan Aceh.”

“Kota Jakarta ini didirikan oleh seorang Jenderal Perang Aceh bernama Fatahillah,” jelas Cut Putri.

Pemimpin perang dari Samudera Pasai bernama Fadhilah Khan (Fatahillah), adalah pembebas Sunda Kelapa dari Agresi Portugis.

Dengan bantuan rakyat Sunda Kelapa saat itu–yang tidak sudi dijajah–maka Portugis, hancur di sana.

Kawasan Sunda Kelapa pun berganti nama menjadi Jayakarta.

Jenderal Perang Aceh Fatahillah–yang juga disebut Tagaril Khan–kemudian menyebarkan Islam di Jayakarta, dengan damai sentosa.

Hubungan Jayakarta dengan Aceh terus terbina. Bahkan, Pelabuhan Jayakarta menjadi pangkalan penting kesultanan di Melayu Nusantara [untuk menyerang Portugis di Malaka].

Aceh memimpin penyerangan tersebut, dan berhasil menaklukkan Portugis, dengan kembali merebut Negeri Malaka.

Dalam naungan dan pimpinan Kesultanan Aceh Darussalam, negeri-negeri di Melayu Nusantara pun tumbuh berkembang.

Saling bersaudara dan bekerja sama, dalam mengembangkan dakwah Islam ke seluruh kawasan Asia Tenggara.

  • Bagikan
ngelmu.co