Berita  

Respons Pedas Ketua MUI ke Susaningtyas yang Khawatirkan Bahasa Arab

Ketua MUI Respons Susaningtyas
Foto: YouTube/medcom id

Berikut Selengkapnya:

Kalau saya melihat, bahwa kondisi yang ada di Afghanistan, itu menimbulkan glorifikasi atau justifikasi.

Bagi kaum yang… ya, sementara ini kita sebut sebagai sel-sel tidur di negara kita.

Tidak pandang itu… pokoknya yang penting, sesama radikal itu memiliki satu semangat yang sama.

Nah, adapun di mana, Menteri Luar Negeri sudah bertemu dengan perwakilan dari Taliban.

Saya melihat bahwa kita harus, bukan saja wait and see, tetapi kewaspadaan itu harus ditingkatkan.

Karena pada kenyataannya, sekarang ini ‘kan, saya mendengarnya bahwa Taliban, tidak lagi memiliki keinginan dan cita-cita khilafah.

Seperti halnya kaum radikal yang ada di negara kita. Melainkan, [Taliban] sudah mencontoh Iran.

Nah, sementara ini pasti ada kaitannya dengan masalah ekonomi, yang tentu mereka akan bangun sedemikian rupa di Afghanistan.

Kalau dengan sistem khilafah, tentu akan sangat sulit membentuk suatu kepemimpinan yang absolut. Begitu.

Itu yang mereka butuhkan. Nah, menurut pandangan saya, kita, itu harus… apa… wait and see, ya.

Tidak perlu terburu-buru untuk menentukan sikap, karena bisa saja di dalam kegamangan di Afghanistan itu berubah.

Kita selalu harus melihat juga bagaimana sikap Amerika. Nah, Amerika di sini ‘kan, kita bedakan, ya.

Bahwa, Trump itu adalah isolasionis, ya. Jadi, tentunya ia tidak ‘cawe-cawe’, dan lain sebagainya.

Lain beda dengan Biden yang kita lihat globalis. Itu sikap yang ‘cawe-cawe’ ke negara lain. Bahkan juga ke negara kita.

Terasa atau tidak, itu ada.

Biden ini agak berbeda, begitu, karena walaupun sudah meninggalkan Afghanistan, saya yakin bahwa Amerika masih terus ‘cawe-cawe’, ya.

Masih terus melakukan pendekatan-pendekatan dengan Afghanistan, apa pun caranya.

Oleh karenanya, sikap kita juga harus berhati-hati dan waspada.

Adapun mungkin secara intelijen kita melakukan satu komunikasi, tetapi itu ‘kan tentu bukan infiltrasi sifatnya.

Tetapi kita melakukan satu komunikasi intelijen yang tentunya adalah untuk pengumpulan data.

Lalu kemudian diolah, yang bisa menentukan kita harus bersikap seperti apa, sebagai masukan kepada presiden.

Kita melihat dulu, ya, kondisi di negara kita, ya. Ini ‘kan pasti sudah menjadi satu penelitian di UI.

Di negara kita ini ‘kan sudah banyak sekali lembaga pendidikan yang kiblatnya itu sudah Talibanis, lah, ya.

Mereka sudah tidak mau menghormat kepada bendera, lalu kemudian tidak mau pasang fotonya presiden.

Tidak mau menghafal menteri-menteri, tidak mau menghafal parpol-parpol.

Nah, itu semua juga harus diwaspadai, karena itu, sekolah itu ‘kan pabrik dari calon pemimpin kita, gitu, ya.

Pabrik dari… untuk mencerdaskan bangsa. Itu dulu dibenahi, ya.

Tentunya untuk mengurus terorisme itu pasti semua yang ada di sini sepakat.

Bukan hanya urusan BNPT, BIN, TNI, Polri saja, tetapi juga lembaga-lembaga.

Seperti departemen pendidikan, lalu kemudian departemen sosial dan agama.

Nah, ini semua harus dibenahi dulu.

Kalau kita tadi, mengacu pada, bahwa petinggi politik, ya, itu, ya, kita tentu tahu itu siapa.

Ada juga dari pimpinan universitas, itu juga mengatakan bahwa Taliban itu akan baik-baik saja.

Perempuan juga akan diurus dengan baik, dan lain sebagainya. Begitu. Agak syok juga saya mendengar hal itu.

Katanya akan ada perubahan dan lain sebagainya. Nah, terkait dengan komunikasi intelijen.

Intelijen itu ‘kan, tugasnya adalah sebenarnya sesuai dengan Undang-Undang yang ada.

Itu yang namanya tugas intelijen adalah pengumpulan data. Jadi, komunikasi itu dilakukan untuk pengumpulan data.

Sehingga kita mengetahui, apa sih yang sebenarnya terjadi di sana.

Jadi, bukan dalam bentuk infiltrasi, melakukan satu pengaruh-pengaruh, lalu… dan lain sebagainya.

Kalau kita bicara soal penyusupan, tentu kita akan bicara juga dengan desepsi, ya.

Di situ ‘kan pasti tidak mungkin terang-terangan, “Saya dari BIN, lho, BIN Indonesia, lo tahu apa enggak?“, ‘kan enggak mungkin begitu juga.

Pasti akan melakukan pengelabuan. Masuk ke dalam mereka, mungkin juga wajah orangnya… agak ke Arab-Arab-an.

Jadi, apa namanya, orang ‘kan terkelabui, sehingga apa adanya dapat diungkapkan.

Jadi, komunikasi intelijen itu adalah kembali saya tekankan di sini, pengumpulan data.

Bagaimana kita mau tidak khawatir, ya, kalau kita lihat anak muda kita. Lalu murid-murid di sekolah.

Sudah tidak mau menghormat kepada Merah Putih, lalu tidak mau melakukan lagu Indonesia Raya, dan lain sebagainya.

Dan semua itu berbahasa Arab. Saya bukannya lalu mengatakan bangsa Arab itu tidak baik, dan konotasinya itu ‘teroris’.

Tidak.

Tetapi kalau ini arahnya sudah ke terorisme, ya, ke radikalisme, itu bahaya.

Sebenarnya ‘kan kalau kita bicara mengenai terorisme itu ‘kan bukanlah hanya ingin berbuat…

Apa namanya… apa… kasar, ya, atau mencelakakan dengan amunisi dan lain sebagainya, membunuh sebesar-besarnya. Bukan.

Tetapi kembali kepada kekuasaan, mereka juga ingin berkuasa dengan cara mereka.