Reuni 212: Karena Kita Pendek Ingatan

Diposting pada 254 views

 

Seorang sahabat di media sosial begitu percaya diri. Dia memajang foto dirinya dengan caleg dari partai pendukung penista agama. Statusnya berisikan dukungan pada orang tersebut.

Di lain kesempatan, ada rekan di sebuah grup WhatsApp, tanpa malu menunjukkan keberpihakannya pada caleg dari partai pendukung penista agama . Saya tetap pilih Prabowo-Sandi, tapi kalau caleg, saya pilih ini. Begitu tulisnya.

Tahukah Anda? Mereka adalah orang yang pada saat Aksi 212 hadir. Datang bersama 7 jutaan umat Islam ke Monas. Meneriakkan ‘penjarakan Ahok’ dan mengidolakan Habib Rizieq Shihab. Mereka sama dengan kita.

Sosok orang seperti ini banyak. Bisa jadi ada di antara kita yang demikian. Ini yang saya sebut dengan pendek ingatan. Terlalu cepat kenangan berlalu. Peristiwa hanya sebuah lintasan tak bermakna tanpa meninggalkan bekas. Secara umum, problem pendek ingatan ini mengendap dalam diri kebanyakan masyarakat kita.

Itulah salah satu faktor penyebab mengapa PDIP dan partai yang kerap terkena kasus korupsi masih terus menang. Hari ini kadernya diberitakan tertangkap tangan, esoknya publik sudah lupa. Apalagi ketika ‘gizi’ datang menghampiri dalam berbagai bentuknya.

Pada titik inilah, mengapa Reuni 212 itu sangat diperlukan. Sebab kita tak ingin umat melupakan bagaimana zalimnya pihak-pihak tertentu kepada ulama.

Sebab kita tak ingin umat melupakan heroisme yang terjadi dalam memperjuangkan keadilan.

Sebab kita tak ingin pula umat melupakan bagaimana partai-partai dan elitnya seperti pasang badan melindungi Ahok dan mendukungnya maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Dan pada saat itu, hanya dua partai yang kukuh berdiri berhadapan melawan Ahok yakni PKS dan Gerindra.

Di sisi lain, fakta membuktika bahwa kezaliman, keadilan juga penistaan terhadap agama tak kunjung reda usai Aksi 212, dua tahun silam. Bahkan makin tak terkendali.

Sementara itu, orang yang pendek ingatan pun makin banyak, setidaknya itu ditunjukkan oleh rekan saya di media sosial.

Erwyn Kurniawan
Penulis dan Jurnalis