Saat PKS dan Gerindra tawarkan duet Sandiaga-Mardani

Ringkikan Kuda Hitam Mardani

Ringkikan Kuda Hitam Mardani

Acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang selama ini menjadi kawah candra dimuka diskursus para pakar di Indonesia kembali melahirkan satu idola baru. Langsung sebut nama saja, Mardani Ali Sera.

Doktor lulusan Malaysia di bidang Teknik Mesin ini telah diundang beberapa kali di acara tersebut. Penampilannya tidak mengecewakan, malah menjadi buah bibir warganet karena gagasan dan kelantangannya. Seperti tekad mengganti presiden di pilpres tahun 2019 yang ia gelorakan beberapa waktu lalu, kini menjadi sebuah aksi massal.

Gerakan #2019GantiPresiden mengalir menjalar ke segenap penjuri negeri. Sudah ratusan Whatsapp Group terbentuk. Tagar ini tertera juga pada kaos, gelas, topi, meme-meme lucu, dan tadi malam Mardani memamerkan gelangnya yang tertulis slogan tersebut. Masyarakat menyambut luas dan antusias seruan Mardani yang ditayangkan Selasa 9 Januari 2018 lalu.

Keberadaan politikus PKS itu telah menghapus beberapa tuduhan miring kepada partainya. Pertama, fitnah bawa PKS akan menjual diri ke Jokowi pada pemilu besok. Beberapa hari kemudian setelah fitnah itu beredar – bahkan ada kader sendiri yang menyebarkan – Mardani tampil di ILC lalu menyampaikan keinginan menggebu partainya untuk mengganti presiden, tentunya dengan jalur konstitusional.

Kedua, anggapan bahwa PKS tidak punya tokoh vokal, tidak ada yang berani mengkritisi rezim dan bersikap layaknya oposan selain sosok yang dijuluki “Singa Parlemen”. Kenyataannya Mardani tampil habis-habisan membongkar kekeliruan pemerintah di acara televisi yang ditayangkan oleh TVOne itu. Masih ada kok tokoh PKS yang suka berbicara tegas kepada rezim. Bahkan ada yang menyebut Mardani sebagai frontman PKS.

Sebenarnya bukan cuma Mardani. Di partai dakwah itu masih ada semisal Al Muzzammil Yusuf yang interupsinya di sidang DPR beberapa kali viral di media sosial. Juga ada nama Aboe Bakar Alhabsyi, Nasir Djamil, dll. Hanya saja nama-nama tersebut tidak pernah atau jarang melontarkan hal yang kontroversial. Mereka garang tapi lempeng-lempeng saja, makanya jarang media yang mengutip mereka.

Jangan dikira tokoh yang biasanya ditunggu-tunggu wartawan itu karena pernyataannya suka membakar semangat masyarakat. Bukan. Tapi karena tokoh itu suka melontarkan hal yang jadi kehebohan publik. Bagi media, bad news is good news. Kegaduhan masyarakat adalah kebun yang siap dipanen jadi berita. Contoh hal yang kontroversial adalah bila yang terbiasa menyerang rezim tiba-tiba membela tersangka dan terduga korupsi yang merupakan bagian/pendukung rezim. Kan itu paradoks. Atau mengeluarkan kosakata yang tidak pantas seperti “sinting”.

Mardani dkk tidak biasa nyeleneh begitu. Makanya media hanya sesekali meliput mereka.

Bukan Kader Ngambekan dan Ambisius

Satu lagi kelebihan Mardani, adalah kelapangan jiwanya yang telah teruji. Pilgub 2017 lalu sebagai bukti. Ia telah digadang oleh partainya sebagai kandidat wakil gubernur DKI Jakarta, tiba-tiba diganti beberapa jam jelang pendaftaran.

Padahal Mardani telah berikhtiar meningkatkan popularitasnya. Sudah mengeluarkan banyak usaha dan dana. Masyarakat awam yang tak kenal kultur di PKS akan berkata dia sudah di-php-in partainya.

Tapi Mardani paham betul, ia hanyalah prajurit yang siap ditempatkan di mana saja. Kejayaan agama dan bangsanya merupakan tujuan ia beraktivitas. Sehingga bukan jadi sebuah hal yang menyakitkan bila ia tak jadi maju mendampingi Sandiaga Uno. Ia tak uring-uringan lalu menggugat partai dsb.

Malah ia menerima tugas baru sebagai timses pasangan Anies-Sandi. Dan kebesaran hatinya mengundang berkah. Allah menangkan Anies Sandi.

Ambisi seorang Mardani hanya untuk kejayaan umat dan rakyat. Bukan ambisi pribadi.

Kuda Hitam Capres PKS

Ya, dia ada di daftar 9 nama bakal calon presiden yang diusung PKS. Dihimpit oleh nama-nama yang lebih senior seperti Hidayat Nur Wahid, Sohibul Iman, Ahmad Heryawan, Anis Matta, Tifatul Sembiring.

Ia ditugaskan mempopulerkan diri – sekaligus membuat partai yang menaunginya menjadi besar. Pertanyaannya, seberapa yakin dia bahwa PKS akan benar-benar mengusungnya menjadi capres? Apalagi ada peristiwa php pilgub kemarin?

Ah, Mardani tidak terlalu memikirkan itu. Yang jelas kini ia “ngegas” menggebrak dengan slogan ganti presiden, memaparkan ide dan program konkrit bila terpilih, dan terus bersuara lantang mengoreksi rezim.

Kalau mau dibilang kuda hitam, boleh saja. Yang penting ia terus “meringkik”. Suaranya berbobot dan penuh narasi. Ia menyadarkan rakyat bahwa Indonesia layak punya presiden yang mengerti permasalahan bangsa dan punya solusi yang jitu. Bukan pemimpin yang rajin berjanji lalu ringan mengingkari.

Mardani terus melaju kencang. Ia makin populer. Makin dikenal sebagai tokoh yang punya artikulasi yang baik. Menjadi idola baru. Sang kuda hitam yang makin diperhitungkan.

Zico Alviandri