Sederet Fakta Nenek Rubingah yang Dianiaya di Pasar Gendeng

  • Bagikan
Pasar Gendeng

Ngelmu.co – Dituding mencuri buah Mangga, di Pasar Gendeng, Piyungan, Potrojayan, Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat seorang nenek bernama Rubingah (60), mengalami penganiayaan.

Ia ditendang, hingga dilepas paksa masker serta penutup kepalanya, oleh seorang pria yang diketahui bernama Ngadirin (60).

Peristiwa itu viral, usai video yang merekam perlakuan kasar Ngadirin , tersebar luas di media sosial Twitter.

Bahkan, warganet mengaku satu suara, mengecam penganiayaan Ngadirin terhadap Rubingah.

Usai kisahnya ramai dibicarakan, tim Kumparan berhasil mengumpulkan sederet fakta dari kasus penganiayaan tersebut.

Hidup Sebatang Kara

Rubingah merupakan warga Dusun Kranggan 1, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman.

Miris, di dusun tersebut, ia tinggal sebatang kara, dalam sebuah rumah dengan tembok yang nampak tak terawat.

Menurut Kepala Dusun Kranggan 1, Suharmadi (44), Rubingah tinggal sendiri, tanpa listrik, setelah resmi cerai dengan suaminya, belasan tahun lalu.

Diketahui, suami dan anak Rubingah, kini berada di Sumatera.

“Ibu Rubingah di sini hidup sebatang kara, beberapa tahun lalu, anak sama suami pisahan. Anak ke Sumatera,” kata Suharmadi, Rabu (22/1).

Baca Juga: Nenek Ini Ditendang karena Diduga Mencuri Mangga, Warganet Geram

Rubingah juga disebut depresi, usai bercerai. Kadang, ia pergi dengan tujuan tak jelas.

Seperti Rabu (22/1) kemarin, rumahnya kosong. Pagar pun digembok.

Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, Rubingah berusaha memenuhinya dengan menjadi tukang pijat.

Tetangganya, juga disebut kerap memberinya makanan.

Sebagai Kepala Dusun, Suharmadi telah menghubungi anak Rubingah, Wiwin, yang kemudian meminta agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

“(Anaknya) sudah melihat video di YouTube, dia cerita sambil nangis-nangis. Baiknya gimana, kami inginnya kekeluargaan,” kata Suharmadi.

Kesaksian Pedagang Pasar Gendeng Lainnya

Penganiayaan bermula saat Rubingah membeli bunga di Pasar Gendeng, Senin (20/1).

Salah seorang pedagang buah, Martini (43), mengatakan saat membeli bunga, Rubingah sempat mengambil Mangga dagangannya.

“Saya itu baru melayani pembeli dua orang. Terus barang yang dicuri itu saya setop, di antara empat langkah kaki di arah selatan saya,” tuturnya.

“Saya lihatin sambil saya layani pembeli. Ibu-ibu itu (Rubingah) habis beli bunga kok singgah di tempat saya,” sambung Martini, di Polsek Prambanan.

Awalnya, ia berasumsi Rubingah hanya merapikan belanjaannya.

“Tak lihatin lagi, kok lama, tahu-tahunya Mbah itu ngambil tangannya masukin ke kotak. Tapi diambilnya Mangga saya. Satu keresek penuh,” kata Martini.

Ia pun berteriak, menanyakan kenapa Rubingah mengambil buah dagangannya.

Namun, Rubingah hanya diam, dan Mangga seberat 3 kilogram itu sudah diminta kembali oleh Martini.

“Enggak bilang apa-apa Si Mbahnya. Terus pergi ke arah timur. Kirain saya, dia itu pulang. Enggak tahunya dia berada dalam pasar. Selang berapa menit, ada yang bilang Mbahnya sekarang di kantor,” bebernya.

“Terus aku kasihan, tak hampiri (datangi) dia, terus saya suruh pulang. Mbah jangan diulangi lagi,” lanjut Martini.

Sejak itu, ia mengaku tak mengetahui apa yang terjadi. Namun, menurut Martini, berdasarkan cerita yang beredar, Rubingah kembali masuk ke pasar.

Hingga akhirnya penganiayaan terjadi. Ngadirin mengejar Rubingah dan menganiayanya.

Martini mengaku sempat meminta video dari salah satu pedagang di pasar.

“Saya enggak tahu itu (viral). Saya minta sama Mas Kasno (pedagang lain) untuk status (WA), dengan tujuan biar teman-teman tahu kalau wajah ini lebih hati-hati,” ujarnya.

“Kan sering terjadi, ada yang diambil tasnya, atau apa di Pasar Gendeng. Tapi mereka enggak laporan,” pungkas Martini.

Penganiaya Sampaikan Permintaan Maaf

Saat dipanggil pihak kepolisian, Ngadirin mengaku menyesali perbuatannya, dan menyampaikan permintaan maaf.

Tendangan yang ia daratkan kepada Rubingah, disebut sebagai gerakan spontan, usai dirinya mendengar nenek itu diteriaki maling oleh pedagang pasar.

Pasar Gendeng

“Yo menyesal. Sekarang sing cetho yo diunekke maling (yang jelas ada suara teriak maling) itu lho,” kata Ngadirin.

“Refleks, karena teriakan maling itu. Kalau ada maling itu ‘kan pasti pada teriak-teriak. Udah gitu aja,” sambungnya di Polsek Prambanan, Rabu (22/1).

Pria yang juga berdagang ketela itu mengaku, menendang Rubingah sebanyak dua kali.

“Kembang (yang dibawa Rubingah) mawut-mawut (berserakan) itu kulo tendang (saya tendang) Tendang dua kali. Di tas dan tangan itu,” beber Ngadirin.

Pasar Gendeng

Setelah menganiaya, ia langsung membawa Rubingah ke kantor pengamanan pasar, sembari mengaku emosi.

“Saya enggak tahu siapa yang video. Wong saya enggak punya HP. Yo kalau ketemu yo mboten pangling (tidak lupa). Sing cetho njaluk ngapuro aja (minta maaf saja),” tutur Ngadirin.

Polisi Mengusut Kasus yang Terjadi di Pasar Gendeng

Kasus penganiyaan ini pun tengah diusut kepolisian. Kasi Humas Polsek Prambanan, Aiptu Ahmad Muchlis, menjelaskan pihaknya sudah memanggil Ngadirin, perekam video, dan pedagang yang mengaku dagangannya dicuri.

“Tetap diperiksa, dilakukan penyelidikan untuk mencari siapa yang mem-viralkan. Kasus ini tidak akan berhenti, tetap akan disidik secara tuntas, baik yang melakukan kekerasan, juga pencuriannya,” kata Muchlis di Polsek Prambanan, Rabu (22/1).

“Kita tidak tinggal diam, saat ini masih proses penyelidikan. Polsek Prambanan berusaha mencari kebenarannya,” imbuhnya tegas.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya masih mencari keberadaan Rubingah yang belum diketahui.

“Kita lihat perkembangannya, kita tidak tahu kondisi Rubingah seperti apa, belum tahu. Tunggu sampai proses berkembang lagi,” tutup Muchlis.

Mengalir Bantuan untuk Rubingah

Setelah video penganiayaan terhadap Rubingah viral di Twitter, simpati pun mengalir dari warganet.

Di antaranya berasal dari dua mahasiswa UGM, Sanlido (23) dan Kiki (21).

Keduanya telah menyempatkan diri untuk langsung datang ke rumah Rubingah, Rabu (22/1), demi menyampaikan bantuan.

“Sebenarnya yang mengawali teman saya, Mbak Kiki dari UGM, dia dari Twitter, lihat infonya, dan ternyata se-masif itu bantuannya dari netizen,” kata Sanlido.

“Banyak yang DM dan dapat alamatnya, dan istilahnya kejadian itu memilukan, ada sisi kemanusiaan yang harus dibantu,” lanjutnya.

Menurut Sanlido, ada sekitar 30 orang yang mengalirkan bantuan untuk Rubingah.

Dengan total uang yang terkumpul, sekitar Rp1 juta, di mana sebagian dibelikan sembako, dan sebagiannya lagi diberikan secara langsung ke Rubingah.

“Tadi belanja ada tambahan dari teman-teman, dan ngajak saya ke rumah Ibu Rubingah. Tadi ada berupa sembako dan beberapa uang,” jelas Sanlido.

Namun, karena Rubingah tak ada di rumah, bantuan itu dititipkan kepada dukuh setempat.

Dinsos DIY Akan Mendampingi

Turut menanggapi peristiwa yang menimpa Rubingah, Dinsos DIY mengaku akan turun tangan, dengan memberikan pendampingan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinsos DIY, Untung Sukaryadi.

Pasalnya, kondisi Rubingah yang hidup sebatang kara, otomatis menjadikan dirinya masuk ke dalam tanggung jawab negara.

Tetapi Untung mengatakan, pendampingan baru bisa dilakukan, jika Rubingah menyetujuinya.

“Kami evakuasi, agar semuanya tercukupi di panti. Namun, demikian tidak semua orang lansia yang tinggal sendiri itu mau di panti. Kadang-kadang mereka memilih bertahan,” jelasnya, Rabu (22/1).

Di sisi lain, Untung menyayangkan apa yang dilakukan Ngadirin kepada Rubingah.

“Tindakan apa pun yang termasuk kekerasan, apalagi terhadap kaum lemah, lansia atau anak-anak, tetap terancam hukuman,” pungkasnya.

  • Bagikan