Self Defeating Disorder dan Malumologi Sorakan Terhadap Anies

  • Bagikan
Sorakan

Ngelmu.co – Pada hari raya Idulfitri 1439 H, Presiden Joko Widodo mengadakan open house di Istana Bogor. Gubernur DKI Anies Baswedan dan Wagub DKI Sandiaga Uno ikut hadir dalam acara open house tersebut. Pada saat Anies-Sandi menaiki tangga Istana Bogor, sejumlah warga melontarkan sorakan kepada mereka.

Anies dan Sandi yang turut serta datang untuk mengikuti acara open house Presiden Joko Widodo tiba di Istana Bogor, Jumat (16/5) sekitar pukul 10.00 WIB. Akan tetapi, saat akan menaiki tangga Istana Bogor, sorakan yang dilontarkan oleh sejumlah warga yang mengantre untuk bersalaman dengan Jokowi kepada Anies dan Sandi. Sorakan ‘huuu’ pun lantang terdengar, sempat meramaikan suasana.

Syukurnya, menanggapi sorakan sejumlah warga tersebut dibalas oleh Anies-Sandi dengan senyuman. Bahkan Anies-Sandi juga terlihat menyalami para warga yang menyorakinya. Tak juga jelas diketahui apa yang menjadi alasan warga menyoraki keduanya. Namun, setelah Anies-Sandi menyalami, warga tampak terdiam dan menghentikan sorakan mereka yang ditujukan ke Anies dan Sandi.

Sebelum ini, Anies juga disoraki oleh sejumlah warga saat menghadiri pernikahan putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu, di Solo beberapa waktu lalu. Jadi, Anies telah dua kali disoraki sejumlah warga saat dua kali menghadiri acara Presiden Jokowi.

Fenomena sorakan itu pun menjadi pembahasan netizen di sosial media. Banyak yang menyayangkan aksi sorakan tersebut. Bahkan ada beberapa netizen yang lantas menuliskan pendapat mereka tentang aksi tidak pantas tersebut. Salah satu di antaranya adalah Zeng Wei Jian dan Jaya Suprana.

Berikut adakah tulisan Zeng Wei Jian atas aksi sorakan kepada Anies dan Sandi yang dinilainya tidak sepatutnya dilakukan.

Baca juga: Kata Anies soal Dirinya Disoraki Di Istana Bogor

Self Defeating Disorder

by Zeng Wei Jian

“Revolusi mental” itu sukses; soraki Anies-Sandi di Istana Bogor. Clair et distinct. Tadinya, saya kira “revolusi mental” itu berarti makan keong, cabut meteran listrik, tanam cabe sendiri, cacing itu bergizi dan “tawar dong” sewaktu harga beras meroket.

Tak ubahnya segerombolan simpanse di musim kawin, in tropical jungle, mereka bersuara gaduh. Mereka berbunyi nyaring saat melihat Anies-Sandi memasuki Istana Bogor.

Anies-Sandi datang menghadap presiden. Bersilahturahmi kepada Kepala Negara. Sebuah etika pemerintahan. Sebuah adab orang-orang beragama.

Pola tingkah-laku gerombolan “revolusi mental” itu persis digambarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-III-R) tahun 1987. Presisi dan akuransi amazing.

Pola tingkah-laku itu disebut “Self-defeating personality disorder”. Kurang-lebih artinya “kerusakan mental orang-orang kalah”.

Ya, mereka kalah dua digit dalam Pilkada Jakarta. Sakitnya tuh di sini. Riset menyatakan amarah menstimulasi bagian-bagian otak. Amygdala mengaktivasi hypothalamus. Akhirnya, pituitary triger sekresi hormon-hormon cortisol, adrenaline dan noradrenaline.

Bila terus-terusan marah, mereka bisa gila permanent. Semuanya bermula dari “Self-defeating personality disorder” itu.

Ada beberapa indikasi; mereka “chooses people and situations that lead to disappointment, failure, or mistreatment” dan “rejects opportunities for pleasure, or is reluctant to acknowledge enjoying themselves (despite having adequate social skills and the capacity for pleasure)”.

Mereka pilih Anies-Sandi sebagai sumber frustasi kalah di Pilkada. Proyek-proyek dan mimpi mereka musnah.

Gerombolan ini tolak bantuan sosial dan medis. Anies-Sandi merilis Program Rumah DP 0 Rupiah. Tapi mereka lebih memilih hidup dalam kegelapan dendam dan amarah. Kasian sekali orang-orang ini.

The End

Sedangkan berikut iniadalah tulisan Jaya Suprana yang memiliki pendapat yang kurang lebih sama dengan Zeng Wei Jian.

Malumologi Sorakan Terhadap Anies

Oleh: Jaya Suprana

Masih terhanyut suasana saling memaafkan nan indah permai pada hari kedua Idul Fitri, saya terhenyak ketika menyimak dua naskah yang dimuat sebuah media online.

Dua naskah menghenyakkan itu yang satu berjudul Dimensi Politik Menjijikkan Di Istana Bogor, Pada Hari Raya tulisan Pradipa Yoedhanegara dan yang satunya lagi berjudul Self Defeating Disorder tulisan Zeng Wei Jian. 
Kedua naskah merupakan ulasan terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada acara Open House Idul Fitri di Istana Kepresidenan di Bogor. 
Pada saat itu ada sekelompok (tidak semua) masyarakat yang sedang antri mengucapkan selamat Lebaran kepada Presiden Jokowi, menyoraki Gubernur Anies Baswedan yang juga datang ke Istana Bogor untuk mengucapkan Selamat Lebaran kepada Presiden Jokowi.

Kelas Langitan

Kedua penulis naskah sama-sama mengulas sorakan terhadap Gubernur Anies pada acara Open House Idul Fitri di Istana Bogor. Meski sama sasaran namun ulasan mereka berdua tak serupa gaya dan sisi. Pradipa mengulas masalah secara lembut dan membelai dari sisi kultural sementara Zeng mengulas masalah secara tajam dan menusuk dari sisi psikologi gangguan mental. 

Pradipa menyayangkan peristiwa yang disebutnya dimensi politik menjijikkan sebagai suatu peristiwa yang memalukan sebab merusak keindahan suasana saling memaafkan lahir-batin pada masa Lebaran. 

Zeng mengasihani para pendukung Ahok yang menderita gangguan mental sehingga tidak mampu beranjak move on akibat terjebak dendam kesumat junjungan mereka telak dikalahkan Anies pada Pilkada Jakarta gara-gara mayoritas warga Jakarta lebih suka Anies ketimbang Ahok. 

Sementara Pradipa mendambakan “Das Sollen” , Zen menertawakan “Das Sein”. Namun terlepas gaya dan sisi ulasan mereka berdua, saya menghormati dan menghargai Pradipa Yoedha negara dan Zen Wei Jian sebagai para penulis kritik sosial kaliber sakti mandraguna kelas langitan.

Memalukan

Ada dua jenis sorakan yaitu yang melecehkan dan yang memuja. Saya tidak hadir pada saat peristiwa Anies disoraki terjadi di Istana Bogor maka saya tidak mengetahui jenis sorakan tersebut. 

Apabila ternyata sorakan terhadap Anies di Istana Bogor bersifat memuja maka berarti Pradipa dan Zen sama-sama keliru tafsir. 

Namun andaikata ternyata sorakan terhadap Anies tergolong jenis sorakan yang melecehkan maka saya pribadi sangat berterima kasih kepada para pesorak yang seirama-senada dengan pe-walk out ketika Gubernur Anies pidato atas permintaan panitia perayaan 90 tahun Kolese Kanisius. 

Mereka telah berkenan memberikan contoh nyata perilaku memalukan akibat tidak tahu malu. Contoh-contoh perilaku memalukan akibat tidak tahu malu itu sangat berharga demi melengkapi isi buku Malumologi yang sedang saya susun. 

Jika ada yang tidak berkenan, maka pada hari kedua Idul Fitri ini saya memberanikan diri untuk memohon maaf lahir dan batin  

Penulis adalah peneliti perasaan yang disebut sebagai malu yang hasilnya akan dimuat di dalam buku MALUMOLOGI

  • Bagikan
ngelmu.co