Suasana reuni 212 di Monas. (Foto: Abi Khan)

Sempat Nyinyiri Reuni 212, PSI Kini Klaim Ada Andil Jokowi Dibalik Suksesnya 212

Ngelmu.co, JAKARTA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang sempat memberikan pernyataan melalui salah satu kadernya, Guntur Romli terkait peserta reuni aksi 212 tak lebih banyak dibandingkan senam poco-poco Jokowi, kini justru memuji andil Jokowi dibalik suksesnya perhelatan akbar tersebut.

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mengklaim ada andil Presiden Jokowi dibalik kesuksesan Reuni 212.”Tentu, seperti yang saya bilang, aksi serupa ya hanya mungkin terjadi di negara demokratis yang dipimpin oleh seorang presiden yang demokratis. Kita tau di negara-negara yang represif ya,” kata Raja Juli dikutip dari Teropongsenayan.com, Kamis (6/12/2018).

Bahkan, dirinya membandingan pada masa zaman orde baru, yang dinilai sangat sulit melakukan pertemuan. Apalagi dengan jumlah massa yang cukup banyak.”Bahkan dulu di zaman orde baru, zaman saya awal-awal mahasiswa dulu, sangat tidak mungkin orang bertemu 5-7 orang aja ada intelnya,” ungkap Raja.

Sehingga, menurutnya, hampir mustahil acara aksi Reuni 212 terlaksana jika Jokowi anti demokrasi. “Itu tak akan terjadi kalau seandainya Jokowi bukan seorang demokrat sejati,” katanya.

Sebelumnya Jubir PSI yang juga Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Mohamad Guntur Romli, menilai peserta Aksi Reuni Alumni 212 tidak sebanyak peserta tari Poco-Poco yang dihadiri Presiden Jokowi 5 Agustus 2018 yang masuk rekor dunia.

“Tari Poco-Poco yang dihadiri Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan jajaran pemerintah pada tanggal 5 Agustus 2018 pesertanya mengalir dari Silang Monas, jalan Thamrin, Bunderan HI hingga jalan Sudirman, masuk rekor dunia, ini Reuni 212 cuma di Monas saja,” kata Guntur Romli yang juga aktivis muda NU.

Guntur Romli memprediksi akan ada “mark up” jumlah peserta Reuni 212 seperti sebelumnya.

“Pasti akan ada ‘mark up’ jumlah peserta Reuni 212, seperti Aksi 212 tahun 2016 yang diklaim 7 jutaan, padahal kalau dibandingkan peserta Aksi 212 tahun 2016 hingga Reuni 212 tahun 2018 dengan Tari Poco-Poco yang memecahkan rekor dunia pesertanya ‘hanya’ 65 ribu orang, itu Monas, Thamrin, Bunderan HI hingga Sudirman sudah tertutupi para penari, loh ini yang cuma bikin acara 212 di Monas kok klaimnya jutaan. “Mark up”nya keterlaluan dan kebanyakan,” tegas Guntur Romli.

“Masuk rekor dunia (Guinness World Record) itu kan susah, harus ada bukti-bukti baik dari daftar hadir, pengamatan lapangan, yang menghitung juga dari pihak mereka, bukan klaim panitia dan gak sembarangan seperti klaim Panitia 212 yang tiba-tiba bilang, yang hadir jutaan, padahal cuma di Monas saja” kata Guntur Romli. 

 

Guntur Romli juga menyoroti aksi politik dalam Reuni 212.

“Seperti yang diperkirakan, Reuni 212 adalah agenda politik kampanye. Buktinya: pertama, yang hadir elit-elit parpol pendukung Prabowo Sandiaga Uno, minus Demokrat. Kedua, Prabowo orasi dalam acara itu dan menyampaikan dirinya adalah calon presiden 2019. Ketiga, adanya teriakan-teriakan Prabowo Presiden dalam acara itu,” tambah Guntur Romli yang juga Caleg DPR RI dari PSI untuk Jatim III (Situbondo Bondowoso Banyuwangi).

Untuk itu, Guntur Romli berharap Bawaslu mengambil penindakan tanpa menunggu laporan.”Bawaslu harus menindak, gak usah nunggu laporan, ini pelanggaran yang sudah nyata, acara ini juga disiarkan secara langsung di beberapa televisi juga” tutup Guntur Romli.

Reuni akbar 212 digelar pada Minggu, (2/12/2018). Dalam kegiatan itu, sejumlah tokoh nasional ikut hadir seperti calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, dan Ketua MPR Zulkifli Hasan.