Serangan pada Tokoh Agama Skenario Sistemik

Diposting pada 43 views

Ngelmu.co – Pada awal 2018 diwarnai sejumlah serangan yang ditujukan kepada para tokoh agama. Terkait hal tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Din Syamsuddin, menilai kejadian tersebut dan beberapa kejadian serupa sebelumnya secara logis dapat diduga tidaklah berdiri sendiri. Menurut Din, kejadian-kejadian penyerangan tersebut diduga dikendalikan oleh suatu skenario yang sistemik.

“Kejadian-kejadian tersebut sepertinya dikendalikan oleh suatu skenario sistemik yang bertujuan untuk menyebarkan rasa takut dan pertentangan antarumat beragama, dan akhirnya menciptakan instabilitas nasional,” ujar Din, seperti yang dilansir oleh Republika. Jakarta, Senin (12/2).

Berdasarkan liputan dari Republika, setidaknya ada empat serangan terhadap ulama dan ustadz yang terkonfirmasi dalam tiga pekan terakhir ini. Serangan pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1). Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan.

Kemudian selanjutnya, ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tidak dikenal. Selain itu, ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau.

Terakhir, yaitu pada hari Minggu (11/2), pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang orang dengan pedang terhunus. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang tersebut.

“Kejadian tersebut terjadi hampir bersamaan dan sama-sama menyasar lambang-lambang keagamaan, baik figur-figur agama maupun tempat ibadah. Begitu pula, pelakunya disimpulkan sebagai orang gila,” ucap Din seperti yang dilansir oleh Republika.

Din menyatakan bahwa tindakan penyerangan dan juga kekerasan bukanlah bagian dari ajaran agama dan keyakinan apapun. Menurut dia, Islam mengecam setiap tindakan kekerasan. Oleh karena itu, penyerasngan terbut dikecam kerasdan tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk kebiadaban yang tidak bisa ditoleransi.

Selanjutnya, Din mendorong aparat keamanan untuk secara serius mengusut tuntas siapa dalang di balik semua kejadian tersebut. Apabila kejadian-kejadian tersebut tidak segera diusut maka berpotensi menimbulkan prasangka-prasangka di kalangan masyarakat yang kemudian memunculkan reaksi-reaksi yang akhirnya menciptakan kekacauan.

Din juga meminta  umat beragama untuk tetap tenang, dapat mengendalikan diri, dan jangan terprovokasi oleh pihak yang memang sengaja ingin mengadu domba antar umat beragama.