Serbuk Dajjal dan Kentong Titir

  • Bagikan
Cak Nun

Ngelmu.coEman-eman tawaran Tuhan, tidak dimanfaatkan. Sayang… sayang, maklumat kasih sayang Allah, tidak di-eksplorasi jadi manfaat kehidupan oleh manusia, apalagi oleh yang menjadi pemimpin di antara manusia. Terlebih di tengah tekanan dahsyat ‘Serbuk Dajjal’ yang disebut COVID-19 ini.

Baru serbuk saja, seserbuk belaka, dari bersin atau batuk Dajjal. Belum benar-benar Dajjal, dalam wujud nyata dan keseluruhannya. Dahsyat saja sudah cukup untuk membangunkan akal pikiran manusia, tak usah menunggu horor.

Kalau engkau memimpin masyarakat, kalau engkau Kepala Negara, kalau engkau Presiden Rakyat se-Tanah Air, Allah membuka jaminan, ‘Falya’budu Rabba hadzal bayt, alladzi ath’amahum min ju’in wa amanahum min khauf’.

Tidak harus seluruh rakyatmu, karena Allah yang Maha Berkuasa saja, tidak memaksa hamba-Nya untuk mengakui dan menyembah-Nya.

Cukup kau saja, ‘Hendaklah kalian semua menyembah Maha Tuan Rumah Ka’bah, yang menjaminmu tak akan kelaparan dan mengamankanmu dari berbagai jenis ketakutan’.

Kemudian beli-lah (dengan ongkos tawakkal) solusi dari Allah, atas apa pun saja masalah yang menimpamu, sekaligus Ia menjamin lancarnya rezeki yang berasal dari peta kalkulasi (yang menakutkan)-mu.

‘Man yattaqillah yaj’al lahu makhrajan wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib’.

Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Ia memberi solusi bagi setiap permasalahan dan menaburkan rezeki ‘min haitsu la yahtasib’.

Belum lagi tawaran kedua, ‘wa man yatawakkal ‘alallah, faHuwa hasbuh, innAllaha balighu amrihi, qad ja’alallahu likulli syai`in qadra’.

Lihat sendiri artinya di Surah At-Thalaq ayat 2 dan 3.

Kan kamu pemimpin tertinggi Negara Pancasila. Puncak panglima kehidupan rakyat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kenapa tawaran Tuhan Sila-1 itu, tidak hidup di akal pikiran dan hatimu? Kenapa tidak percaya? Kenapa tidak menjadi muatan utama cara berpikirmu?

Kenapa tidak menjadi arus utama, mainstream dari jiwa kepemimpinanmu? Lha kamu memimpin siapa? Kamu pemimpin apa? Kamu sendiri itu, asal-usul dan ujung tujuan hidupmu di mana? Ketemu siapa? Tanggung jawabmu kepada siapa?

Sekurang-kurangnya, sehabis setiap sholat, bersihkan dirimu dengan 33 kali ‘Astaghfirullahal’adhim’, kemudian 33 kali ‘Ya Rahman Ya Rahim’, lantas 33 kali ‘Ya Syafi ya Halim’, dan akhirnya 33 kali ‘Ya Hadi Ya Mubin’.

Maknailah sendiri, kenapa membaca itu dengan kecerdasan dan kemurnian jiwamu, atau rembug dengan para Punakawan maupun Panakawan di sekitarmu.

Bukan kah wakilmu sendiri, konon adalah kepribadian yang sudah berpuluh-puluh tahun di-arifi dan mengarifi dirinya sendiri (Makruf), dan lagi punya tradisi untuk bisa dipercaya (Amin).

Sebagai pemimpin tertinggi, engkau harus aman di depan Sang Pencipta, maka istighfar. Butuh kasih sayang-Nya yang meluas maupun yang mendalam.

Butuh kesembuhan atas segala sakit dan penyakit, dan sumbernya adalah kemurahan hati-Nya. Bahkan juga butuh petunjuk, informasi tentang segala yang kau sangga secara nasional, kejelasan yang sejelas-jelasnya, yang hanya ‘the only true resource’ adalah hidayah Allah.

Kalau memang kau tak paham bahwa itulah muatan di dalam kandungan Pancasila-mu, jangan lepaskan Bareskrim-mu, memanggil orang yang bilang kau tak paham, dengan tuduhan orang itu mencemarkan nama baikmu.

Sangat mempermalukan Pemimpinnya, kalau petugas keamanan malah menangkap orang yang menabuh ‘kentong titir’, untuk menyebarkan informasi bahwa Negara dan rakyatnya sedang di-dera oleh malapetaka nasional.

Baik berupa wabah penyakit, perampok-perampok besar, maupun kebodohan dan kedunguan kepemimpinan.

Kenapa tak sekalian kau tangkapi setiap Dokter yang mendiagnosis pasiennya?

Barang siapa memimpin rakyat banyak, kewajibannya adalah membuktikan kepada sejarah bahwa apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini tidak terjadi padanya.

‘Idza wusidal amru ila ghairi ahlihi fantadhiris sa’ah’.

Kalau suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu waktu kehancurannya.

Kalau itu semua tidak berlaku bagimu, karena kau bukan seorang Muslim, tak masalah. Gali-lah dari Kitab Suci Agamamu, pasti banyak kekayaan ilmu dan hikmah, kalau memang yang kau baca itu karya Tuhan sendiri.

Kalau itu pun tidak, semoga dan insya Allah, Tuhan tetap menolong bangsa Indonesia dengan kejaiban-Nya.

Sebab rakyat Indonesia, umumnya baik-baik sebagai manusia. Rata-rata, rakyat Indonesia masih dan tetap ingat Allah, dan menyebut nama-Nya di tengah bencana Corona, tidak sebagaimana kebanyakan pemimpinnya.

‘Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub’.

Niscaya, dengan mengingat Allah, hatimu menjadi tetap tenang. Besok, kalau kekeruhan keadaan ini reda dan pulih, ada baiknya jangan GR (gede rasa), merasa bahwa itu adalah hasil kerjamu atau kesaktian kepemimpinanmu.

Malam nanti, khususkan bertafakkur dan bertanya kepada Allah. Bukan kepandaian beragama atau kefasihan ucapanmu yang dinilai oleh Allah, melainkan keikhlasan dan kesungguhan hatimu.

‘Walakinnallaha yandluru ila qulubikum’.

Mohon maaf, memang begitu biji-batang-daun-kembang-buah Pancasila. Sebab Pancasila bukan Agama. Bukan limpahan Allah langsung, melainkan produk ijtihad pemikiran nurani manusia.

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Baca Juga: Ustadz Felix Siauw, “Islam Memuliakan Manusia”

  • Bagikan