Sri Sultan: Untuk Apa Dibangun Tol Kalau Masyarakat Tidak dapat Apa-apa?

Diposting pada 886 views

Ngelmu.co – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut bandara Yogyakarta International Airport (YIA), sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Sebab, YIA menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi di DIY, terutama di Kabupaten Kulon Progo.

Namun, untuk pembangunan jalan tol, baik di Kulon Progo maupun Yogyakarta, yang rencananya langsung menuju ke bandar udara YIA, Sri Sultan tidak menyetujuinya.

Menurut Sri Sultan, tol menjadi sesuatu yang kontra produktif. Karena dirasa tidak memberi dampak besar bagi perekonomian, yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

“Kalau tol bermanfaat, mari kita bicara. Kalau masyarakat Kulon Progo tidak dapat apa-apa, untuk apa dibangun tol?” tuturnya, Rabu (19/6), seperti dilansir dari Kompas.

“Kita belum menentukan. Saya belum sepakat. Risiko konfliknya terlalu besar. Saya tidak mau kalau rakyat saya ekonominya turun. Yang untung kan yang hanya punya tol,” imbuhnya.

YIA yang sudah beroperasi sejak akhir April 2019 itu, menurut Sri Sultan, bisa dijadikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi Yogyakarta.

Terlebih saat ini, bandara tersebut sudah melayani lima penerbangan. Dua di antaranya dari maskapai Citilink, dan tiga lainnya dari Batik Air.

Namun, tidak sama halnya dengan jalan tol. Ia tak ingin masyarakat kesulitan akses dengan adanya tol tersebut.

“Nah, sekarang itu tol-tol yang ada itu, akses masyarakatnya hidup atau mati? Jawab sendiri. Saya tidak mau seperti itu,” tegasnya.

Pengguna jasa bandara bisa mengakses YIA dari Yogyakarta melalui berbagai jalur, baik dengan kereta api, Jalur Lintas Selatan, maupun jalan nasional Jateng-DIY.

Apalagi pemerintah juga telah menyediakan bauran moda transportasi, guna memudahkan pengguna jasa bandara yang datang dan pergi dari YIA.

Ditemui secara terpisah, Sekda DIY, Gatot Saptadi menyatakan saat ini baru disepakati basic design dan rencana teknik akhir, dari pembangunan tol untuk jalur Bawen-Yogyakarta. Artinya, dari sekitar 51 kilometer, wilayah DIY hanya dilewati sekitar 10 hingga 15 kilometer.

Sementara untuk ruas tol Yogyakarta sampai Solo, belum ada kesepakatan. Terutama untuk yang masuk dari perbatasan Jawa Tengah ke wilayah DIY. Karena di sana ada sejumlah situs bersejarah yang harus dilindungi, terutama di kawasan Prambanan.

“Karena banyak lah. Karena di situ banyak situs. Ada banyak hal lah, kita harus duduk bersama,” pungkas Gatot.