Sukmawati Malang, Analisis Psikologi Islam

Ngelmu.co – Puisi yang dilantunkan Sukmawati menjadi buah bibir. Hal tersebut dikarenakan puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibawakan Sukmawati mengandung unsur SARA.

Terkait hal tersebut, seorang psikolog menuliskan analisisnya. Dalam tulisan tersebut tergambar dengan jelas kondisi kejiwaan Sukmawati berdasarkan masa lalunya yang bisa dikatakan kurang beruntung.

Berikut analisis psikologi Islam tentang Sukmawati.

Analisis Psikologi Islam

SUKMAWATI MALANG 

Sukmawati dengan puisi ‘sari konde’nya, bagi saya tidak begitu mengejutkan. Mari kita lihat latar belakang psikologis seorang Sukmawati.

Sejak lahir (1951) kehidupannya selalu dipenuhi prahara, sehingga (mungkin) mengakibatkan apapun yang dilakoninya tidak pernah tuntas dan selalu gagal.

Sejak usia dua tahun (1953), secara faktual kedua orang tuanya bercerai. Bukan hanya itu, Sukmawati pun hidup menanggung beban psikologis karena kesedihan sang ibu yang berlarut-larut dan kegemaran sang ayah terhadap wanita. Tentunya anak yang hidup dalam kondisi seperti ini akan banyak mengalami luka traumatik pada dirinya.

Menginjak masa remaja setelah G30S PKI, keluarga Sukmawati harus merasakan ‘turun tahta’. Semula hidup bak dewa-dewi dengan fasilitas nomor satu keluarga kepala negara, maka sejak itu, mau tak mau, mereka harus rela kehilangan segalanya. Tentu saja kondisi ini amat berat dirasakan oleh remaja seusia Sukmawati saat itu. Sangat sulit menjadi ‘bekas orang kaya’, namun tidak sebaliknya.

Setelah itu, mari kita cermati kehidupan seorang tokoh yang memiliki masa kecil kelabu ini.

  • Sukmawati kuliah berpindah-pindah dari satu kampus ke kampus yang lain, namun tak satu pun yang mampu diselesaikannya dengan baik.
  • Hubungannya dengan sesama anak-anak Soekarno yang lain tidak harmonis. Mereka saling menghujat dan menjatuhkan satu sama lain.
  • Pernikahannya dengan Mangkunegara IX berakhir dengan perceraian.
  • Partai PNI yang didirikannya ternyata tidak laku hingga saat ini.     

Intinya; hidup Sukmawati selalu diliputi kegagalan dan nestapa. Jika ada beberapa keberhasilan dalam hidupnya, saya yakin, semua itu karena ia menyandang nama besar Bung Karno. Tak ada keberhasilan yang bisa dibanggakan melalui tangannya sendiri.

Masa Lalu dan Psikopat

Jika melihat perjalanan hidup Sukmawati, saya merasa bahwa ia tidak bisa lepas dari belenggu trauma masa lalunya yang kelam. Banyak kemarahan pada dirinya, yang membuat emosinya tak terkendali. Apalagi seorang remaja yang kehilangan figur ayah;  Bung Karno yang dimiliki oleh rakyatnya, tapi tidak dimiliki oleh keluarganya. Ia hidup dalam kemarahan dan dendam, semua ini tentu akan mempengaruhi masa depannya.

Nah, kita semua sudah bisa lihat, bagaimana masa depan Sukmawati. Apakah ada satu hal yang bisa dibanggakan hingga saat ini? Tidak, semua berakhir berantakan dan menyedihkan. Mungkin hal inilah yang membuatnya tidak percaya agama, tidak percaya adanya pertolongan Tuhan yang Maha Perkasa, karena merasa hidup selalu terpuruk.

 

Inilah masalah utama dalam jiwa Sukmawati Soekarno Putri. Saya berani mengatakan bahwa ia mengalami sakit jiwa yang cukup parah. Apa mungkin orang normal yang sehat jiwanya bisa membuat atau membaca puisi nyeleneh seperti itu? Inilah kondisi sebagian besar sosialita; mampu mengemas sakit jiwanya dengan cara yang elegan.

Biarkan berlalu

Ada yang bertanya kepada saya: “Sepertinya akan ada lagi demo seperti 212 untuk Sukmawati ya. Seperti Ahok dulu”.

Saya tanggapi: kasus Sukmawati berbeda dengan Ahok. Dulu posisi ahok sangat berbahaya, karena dia calon gubernur DKI. Dia mau memimpin jutaan kaum muslimin. Tentunya wajib dilengserkan.

Nah, Sukmawati ini jauh berbeda. Dia tak punya bargaining apapun di masyarakat. Hanya iseng saja. Sekedar ingin melampiaskan emosi atau kemarahan yang ia bingung harus ditumpahkan kepada siapa. Sekedar akumulasi emosi atas berbagai kepedihan hidup dan kegagalan yang mungkin ia sendiri tidak menyadarinya. Atau untuk mencari popularitas dan mendongkrak partainya dengan jalan yang tidak benar.

Jadi biarlah, cukup teman-teman yang menghantamnya habis-habisan dengan gaya kocak di medsos. Tapi jika kalian masih mau turun ke jalan atau seret ke pengadilan… siapa yang bisa melarang?

Ibrah Penting

Berkaca dari kisah tragis ibu Sukmawati, maka ada tiga hal yang dapat diambil, pertama: pentingnya menjaga kesehatan mental generasi muda kaum muslimin, agar tidak mengalami hal serupa Sukmawati Sukarno Putri. Berpikirlah seribu kali sebelum melakukan tindakan apapun, demi masa depan anak-anak kita. Terkadang hal itu kita rasa benar, namun tidak demikian menurut persepsi keluarga dan anak-anak kita. Jangan biarkan anak-anakmu hidup dalam dendam.

Kedua: pentingnya memaafkan masa lalumu, serta orang-orang yang pernah melukai jiwa dan hatimu. Jika maaf tak pernah ada, maka dendam akan selalu membara di dada. Orang yang hidup dalam dendam seperti hidup di dalam api, lambat laun ia akan membakar dirinya sendiri dan orang lain yang dekat dengannya. Akuilah luka dan sakit yang ada pada hatimu, lalu berusahalah menyembuhkannya. Jika tak disembuhkan, maka luka akan semakin besar. Luka hati berbeda dengan luka fisik. Luka fisik bisa sembuh sendiri, sedangkan luka hati yang tak disembuhkan akan semakin besar dan semakin menggerogoti jiwa.

Ketiga: bersyukurlah dengan kebaikan yang kita rasakan saat ini, meski tidak terlalu besar. Hiduplah dalam harmoni yang wajar dan jauhi semua kecantikan dan kebaikan yang palsu.

Manusia adalah produk masa lalunya. Masa lalu yang buruk akan menjadi belenggu yang menahan kemajuan. Sedangkan masa lalu yang baik akan menjadi motor penggerak untuk kemajuan masa depan

Ust. Emil Ahmad, M.Si

Konselor & Terapis Psikologi Islam