Hubungan Intim Tanpa Nikah

Surat Terbuka untuk Doktor yang Disertasinya Membolehkan Hubungan Intim Tanpa Nikah

Diposting pada 6.267 views

Ngelmu.co – Surat terbuka untuk seorang Doktor yang disertasinya membolehkan hubungan intim tanpa nikah. Saya tak kuasa menahan gemuruh dalam dada beberapa hari ini. Semoga surat ini sampai ke tangan, telinga, mata, dan hati Bapak Abdul Aziz. Bantu saya menyampaikannya dengan share tulisan saya ini.

Surat Terbuka untuk Pemilik Disertasi Bolehnya Hubungan Intim Tanpa Nikah

Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal terkait konsekuensi dari kesimpulan disertasi Anda.

Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang dihantui ketakutan gulitanya zaman dari adab dan susila.

Zaman yang sudah sangat tipis beda binatang dan manusia dalam mengendalikan syahwatnya.

Pak Doktor, apa yang Anda pikirkan atau Anda rasakan, jika tiba-tiba Anda mempunyai syahwat pada mahasiswi Anda yang gadis.

Lalu Anda saling berkomitmen melakukan hubungan intim suka sama suka, di ruang eksklusif yang tertutup seperti yang Anda syaratkan?

Menurut Anda, bagaimana perasaan Anda, istri Anda, ibu Anda dan ibu si mahasiswi itu?

Pak Doktor, apa yang Anda rasakan dan akan Anda lakukan jika:

Bulan ini anak Anda digauli oleh pacarnya. Lalu putus. Bulan depan dengan pacar barunya. Suka sama suka, di ruang ekslusif dan tertutup. Itu syarat yang Anda sebut.

Atau jika anak laki-laki Anda menggauli anak gadis tetangga, lalu besoknya dia menggauli teman sekelasnya, bulan depan menggauli pacaranya. Suka sama suka, di ruang eksklusif dan tertutup. Itu syarat yang Anda sebut.

Pak Doktor, apakah menurut Anda hubungan seks itu tidak berdampak apa-apa?

Kehamilan,
Keturunan,
Nasab,
Persusuan?

Mikiiiiir Pak … Mikiiiir!

Jika perempuan yang digauli oleh anak laki-laki Bapak, kemudian semuanya hamil? Atau anak perempuan Bapak, lalu hamil setelah digauli oleh pacarnya yang berbeda-beda?

Tolong Anda bayangkan kekacauan sosial apa yang akan timbul di masyarakat, selain maraknya penyakit kelamin akibat seks bebas yang Anda sebut bukan zina itu.

Bayangkan Pak … Bayangkaaaaan!

Kecuali kalau Anda belum punya istri, gak punya anak dan gak punya ibu, mungkin Anda tidak bisa membayangkannya. Maaf.

Apakah Islam turun untuk kekacauan itu? Demi Allah, tidak!

Islam adalah rahmat, dan Rasulullaah diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan merusak akhlak.

Anda bilang ini adalah celah hukum, supaya tidak terjadi kriminalisasi seksual, karena Anda PRIHATIN dengan adanya hukum rajam atas orang yang berzina, padahal menurut Anda, itu belum tentu zina.

Anda merasa menjadi pahlawan agar orang-orang bersyahwat liar itu, tidak dikriminalisasi, tapi Anda tidak merasa jadi pecundang karena sudah membuka lebar pintu seks bebas?

Mohon maaf kalau Anda tidak berkenan. Salam takzim buat istri dan ibu Anda di rumah, semoga mereka tetap punya rasa sebagai seorang istri dan seorang ibu.

Saya berlindung kepada Allah dari kebodohan dan dari tipu daya orang-orang bodoh yang merasa benar.

Oleh: Euis Sufi Jatiningsih, Ibu Rumah Tangga, di Kota Bogor