Survei Indikator: 69,6 Persen Responden Setuju Publik Makin Takut Berpendapat

  • Bagikan
Makin Takut Berpendapat

Ngelmu.co – Menyurvei pandangan masyarakat soal kebebasan bersuara, Indikator Politik Indonesia (IPI), mengungkap jika mayoritas responden, yakni 69,6 persen, mengaku setuju saat ini publik semakin takut untuk menyampaikan pendapatnya.

Mayoritas Responden Setuju

Dengan rincian, 21,9 persen, sangat setuju, dan 47,7 persen lainnya, agak setuju, sebagaimana Ngelmu, kutip dari Detik, Senin (26/10).

Survei ini, kata Direktur Eksekutif IPI, Burhanuddin Muhtadi, berawal dari pertanyaan, ‘setuju atau tidak warga makin takut menyatakan pendapat?’.

Masyarakat, lanjutnya, saat ini cenderung takut untuk mengeluarkan pendapatnya.

“Sangat setuju, 21,9 persen, yang menyatakan agak cenderung dengan pernyataan ini, 47,7 persen,” jelas Burhan.

“Yang kurang setuju, 22 persen, dan yang tidak setuju sama sekali, 3,6 persen,” sambungnya, dalam rilis survei terbaru bertajuk, ‘Politik, Demokrasi, dan Pilkada di Era Pandemi’.

Menganggap hasil ini sebagai peringatan, Burhan, meminta agar pemerintah lebih memerhatikan suara masyarakat.

“Ini alarming, lagi-lagi kita ingatkan, ada situasi, yang bawah alam sadar, masyarakat mulai takut ngomong,” ujarnya.

“Padahal, dalam konteks demokrasi partisipatoris, warga itu justru harus di-encourage, berbicara, apa pun isinya,” sambung Burhan.

“Terlepas berkualitas atau tidak berkualitas, apa pun pendapat mereka, pro atau kontra, dalam demokrasi, harus dapat tempat yang sama, dengan mereka yang pro pemerintah,” jelasnya.

Demonstrasi pun Kian Sulit

Selain itu, IPI, juga bertanya kepada responden, soal sulit atau tidaknya berdemonstrasi saat ini.

Hasilnya pun senada, “Tertinggi, 53 persen responden, menyatakan agak setuju, 20,8 persen sangat setuju, dan 19,6 persen, kurang setuju,” ungkap Burhan.

IPI, juga mengaitkan sikap aparat keamanan, selama warga terlibat dalam demonstrasi.

Pertanyaannya, ‘setuju atau tidaknya dengan pendapat, kalau aparat makin semena-mena dengan massa demonstrasi?’.

“Yang menyatakan sangat setuju 19,8 persen, agak setuju 37,9 persen, dan kurang setuju, 31,8 persen,” kata Burhan.

“Jadi, variabel kebebasan sipil, belnya berbunyi, hati-hati, jangan sampai kekecewaan ditimbulkan masyarakat,” imbaunya.

“Karena bagaimana pun, ada ekspektasi kepada Presiden Jokowi, menjaga warisan paling mahal reformasi, yaitu kebebasan,” pungkas Burhan.

Sebagai informasi, survei ini berlangsung pada 24-30 September 2020, dengan total responden 1.200 orang.

Adapun margin of error dari survei yang berjalan dengan metode wawancara via telepon ini, sekitar 2,9 persen.

Dari seluruh responden yang terdistribusi secara acak dan proporsional itu, tingkat kepercayaan survei ini, 95 persen.

  • Bagikan
ngelmu.co