Tanpa Rasa Bersalah Coki Pardede Sanggup Menertawakan Musibah

Diposting pada 4.131 views

Ngelmu.co – Lagi-lagi, Coki Pardede berulah melalui cuitannya di media sosial Twitter. Di tengah banjir yang melanda Jabodetabek, ia justru memicu kontroversi, karena dinilai sanggup menertawakan musibah tanpa rasa bersalah, seolah luka para korban pun tak perlu dihiraukan.

“Kalo #Banjir = maksiat yang dilakukan saat pesta malam tahun baru semalem, kesimpulannya? PARTY-NYA SANGAT SERU DAN LUAR BIASA DONG!!! Kudos buat EO-nya, azab banjir adalah rapot bagus bahwa pestanya seru. Bisa ditaro di CV, bikin acara sangat seru, sampe besoknya azab,” tulis @pardedereza.

“Buat yang semalem ga “maksiat” tapi ikut kena dampak “azab” banjir, nyesel kan Anda? Kalo tau sama-sama kena banjir juga, mending semalem mabok dan n**we. Kami Basah-basahan, tapi dalam keadaan senang. Anda basah-basahan tetep sebel hahahahahaha,” lanjutnya dengan menambahkan emoji tertawa.

Dianggap sudah keterlaluan, yang menegur Coki pun bukan hanya masyarakat biasa, tapi juga rekan sesama artis. Mulai dari penyanyi Anji, hingga sesama komika, Dzawin Nur.

“Cok, kayaknya jokes yang ini enggak banget deh. Ini jauh lebih berbahaya dari jokes babi,” tulis @duniamanji.

Sementara Dzawin mengaku terluka, dan ia menyebut apa yang dilontarkan Coki adalah hal yang sangat tak pantas.

“Jadi begini wahai sahabat, sepertinya kali ini kita bersebrangan lagi. Ini sengaja gua quote, selanjutnya gua bikin thread. Comedy dari kita awal pelajari, rumus dasarnya tragedy + time = comedy. Kalo dielaborasi bisa panjang, tapi intinya time itu healing. Jadi sangat tidak bijak untuk bicara seperti ini sekarang, apalagi di tempat umum,” tegur @Dzawinur.

“Kan lu selalu bicara tentang toleransi dan open mind, dan sekarang dengan twit ini, lu justru membuat diri lu tidak open mind. Musibah masih hangat, banyak orang tersakiti dengan twit ini, khususnya yang kena musibah,” sambungnya.

Apa pun maksud dari cuitan Coki, menurut Dzawin, seharusnya tak dibagikan secara luas, saat sebagian masyarakat sedang benar-benar berduka.

“Terlepas dari apa pun tujuannya, entah menyindir siapa, musibah sebagai objek komedi di saat hangat-hangatnya adalah kesalahan besar. Seharusnya ini cuma konsumsi grup whatsapp,” kata Dzawin.

“Tadi sore gua dapat kabar, pesantren gua tenggelam, sedih, trus gua ingat twit lu ini, tangan gua gemeteran. Poinnya, gua sebagai pelaku komedi aja ga bisa terima dengan komedi ini, apalagi yang bukan,” imbuhnya.

Bahkan, Dzawin menegaskan, jika Coki berada di hadapannya saat berita duka itu datang, ia merasa tak bisa menahan diri.

“Kalo lu ada depan gua pas gua dapet kabar, mungkin gua ga bisa tahan diri. Mending twit lu diapus Cok, daripada semakin banyak yang tersakiti. Open mind lah, kayak yang selalu lu agungkan,” tegas Dzawin.

“Sesekali, mainlah ke lokasi bencana. Ga perlu jauh berpikir untuk membantu yang kena musibah, sekedar membantu diri sendiri untuk membangun rasa empati,” pungkasnya.

Baca Juga: Warganet ‘Sentil’ Coki Pardede yang Sebut Indonesia Susah Toleran

Tak hanya Dzawin dan Anji yang kecewa dengan cuitan Coki. Sebab, sebagian besar warganet juga menyayangkan sikap pria 31 tahun itu, yang dinilai tak pernah belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Muhammad Fadli: Bang, ini udah kelewatan namanya. Bercanda boleh tapi ga mesti begini juga konteksnya. Apa udah hilang hati nurani lu kayak gini?

Vierda: “Dalam kondisi musibah banjir begini, masih ada yang ngetweet gini yak. Gw heran kalau masih ada yang anggap ini lucu sik. Sementara dari tadi lewat foto, ada yang udah di atap selama 4 jam, yang tewas kena sengatan listrik, yang ngungsi kedinginan bawa bayi.

Benci boleh, nurani jangan tumpul. Teriak paling kenceng soal kemanusiaan sambil downgrade orang yang enggak mau ikutan maksiat. Ada musibah, yang dipikirin cuma seputar selangkangan.”

Bagas: Kalau ada lansia yang sampai meninggal dunia karena banjir gimana, Cok? Apakah party-nya berhasil? Coba kalau lansia itu salah satu keluarga Anda, gue pengin tau sih, sampai mana lu bisa ngejokes kek gini.

Mustika Ridha: Analisisnya makin menjadi-jadi. Dikasih azab bukannya minta ampun, malah bikin gaduh.

Bayu: Mungkin saat ini kami basah-basahan dalam keadaan sebel, tapi di akhirat nanti, kalian panas-panasan dalam keadaan nyesel.

Ratri Nurfa: Temen gua lagi stress bang, kejebak banjir di rumahnya belum ada bala bantuan, stress mikirin 2 anaknya yang masih kecil karena susu untuk anaknya ga bisa diselametin, tumpah semua. Lu bisa-bisanya nge-twit begini ?????

Eko Yulianto: Jaman sekarang, komedi dapat menghilangkan empati dengan beralasan darkjoke, open minded, dan lain-lain. Kalo bersebrangan dibilang kadrun, sobat gurun. Mungkin toleransi hanya dagangan baginya.

Kapri: Lo ga bakal becanda begini, kalo yang mati itu bokap lo yang lagi stroke, kelelep kebanjiran. Lo ga bakal becanda begini, kalo yang mati kesetrum itu nyokap lo yang lagi pegangan tiang listrik, yang lagi nyelamatin diri dari banjir. Pelawak t*lol??

Kunto Hartono: Miris melihat cuitan Anda @pardedereza. Semoga kepongahanmu dibayar tunai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga ngenes tak berujung. Entah kapan.

Nugie: “Bro gw jadi open minded soal tweet-an joke sampah lu. Gw jadi berasa freedom of spech yang lu jadiin pegangan selama ini, ternyata tidak kenal rasa empati. Kali ini lu gak lucu bro, sumpah.

Mau lu bilang ini satire kek, dark jokes kek, tapi menurut gw, joke yang lu bilang semua berawal dari keresahan lu, iya keresahan lu yang tenyata beunsur rasa benci di dalamnya.

Makanya banyak orang yang ga nerima, bukannya mereka ga open minded, tapi tiap manusia ga sepenuhnya menggunakan otaknya untuk merespon sesuatu,”

Baca Juga: Istri Bela Gun Romli, Warganet: Berhenti Menebar Kebencian

Salah satu pengguna media sosial Twitter, Taufik Aulia, bahkan menuliskan thread secara khusus, untuk menanggapi cuitan Coki, seperti berikut:

“Asli ga ada lucu-lucunya sih ini. Orang lagi pada kena musibah, dijadiin tertawaan. Ngaku cinta persatuan, tapi nyulut perpecahan. Hypocrisy at its best.

Buat yang ngerasa happy dan fine-fine aja dengan tweetnya @pardedereza ini, I need tell you something. Bahwa gak begitu cara berpikirnya. Kalau mikirnya kayak gitu, gak akan lama umur dunia ini. Hancur semuanya karena ulah manusia.

Kalo tau sama-sama bakal kena banjir juga, mending ga usah buang sampah pada tempatnya. Kalo tau bakal rusak juga, mending sekalian ga usah dijaga lingkungannya. Kalo tau bakal dikorupsi juga, mending ga usah aja taat bayar pajak.

Ngomongin maksiat dan azab, I need tell you something. Kalo mau dibikin peringkat, seenggaknya durhaka itu ada tiga tingkat. Tingkat paling rendah, dia masih taat, tapi ada perasaan dongkol.

Tingkat berikutnya, dia udah gak taat; bermaksiat, tapi masih punya malu dan rasa bersalah. Tingkat paling atas, dia gak taat, menolak percaya, serta bangga dan sombong atas maksiatnya. Ini yang paling ‘hebat’.

Sombongnya itu lho. Maksiat kok disombongin. Iblis ditendang dari surga karena dia sombong. Allah paling benci sama kesombongan. Gak ada satu creature pun yang punya hak untuk sombong, apalagi sombong atas kedurhakaannya.

Ibarat kalo dalam negara ada istilah subversif dan separatis. Udahlah masih tinggal di negara itu, tapi ga mengakui itu negaranya, malah ngelawan dan pengen bikin negara baru. Kan brengsek.

Jadi? Taat dan maksiat itu pilihan. Silakan aja kalo mau maksiat, tapi yang maksiat jangan sombong please. Wong yang taat aja banyak yang kalem-kalem aja.

Dan satu lagi, nurani jangan dibiarin tumpul. Orang kena musibah jangan dijadiin bahan tertawaan. Semoga daerah-daerah terkena banjir lekas pulih, yang ngungsi bisa cepet balik ke rumah. Stay safe everyone!” tulis @tauaul.