Terjerat Utang China

Terjerat Utang China, Kenya Terancam Kehilangan Pelabuhan

Diposting pada 153 views

Ngelmu.co – Terjerat utang China, membuat pemerintah Kenya terancam kehilangan pelabuhan Mombasa, jika pihaknya tak bisa melunasi pinjaman. Fakta tersebut diungkap oleh African Stand, melalui laporannya.

Terjerat Utang China, Kenya Terancam Kehilangan Pelabuhan

Kenya, disebut berpotensi kehilangan aset-aset strategis yang mereka miliki, jika tak mampu mengembalikan pinjaman kepada China.

Di mana pinjaman-pinjaman tersebut, sebelumnya digunakan untuk pengembangan Standard Gauge Railway (SGR).

Selain Mombasa, pelabuhan milik Kenya lainnya, yakni Inland Container Depot, di Nairobi, juga dipertaruhkan.

“Imbas pengambilalihan pelabuhan itu, nantinya juga bisa berdampak pada nasib ribuan pekerja pelabuhan, yang terpaksa harus bekerja di bawah pemberi pinjaman China,” ungkap African Stand, seperti dilansir Ngelmu, Senin (11/11).

Sementara pendapatan dari pelabuhan pun, akan langsung dikirim ke China.

Sebagai pengganti sekitar sh 500 miliar, atas pinjaman untuk pembangunan dua bagian SGR.

Audit yang yang diselesaikan bulan lalu pun menunjukkan, aset Otoritas Pelabuhan Kenya (KPA) yang mencakup pelabuhan Mombasa, dapat diambil alih.

Jika SGR tidak menghasilkan cukup uang tunai untuk melunasi utang.

Akuisisi atas pelabuhan seperti kasus ini, bukan pertama kalinya dilakukan oleh China.

Sebab, sebelumnya, pada bulan Desember 2017 lalu, pemerintah Sri Lanka pun harus kehilangan Hambantota.

Pelabuhan itu diambil alih oleh China, dengan masa sewa 99 tahun.

Hal itu terjadi, setelah Sri Lanka gagal menunjukkan komitmen dalam pembayaran pinjamannya.

Baca Juga: ‘Jebakan’ Utang Jadi Salah Satu Siasat China Menggenggam Dunia

Bahkan, New York Times pernah menyebut, akusisi tersebut membuat China memegang kendali atas kepemilikan wilayah, yang menguntungkan di jalur strategis komersial dan militer.

“Kasus ini adalah salah satu contoh dari penggunaan pinjaman dan bantuan ambisius China untuk mendapatkan pengaruh di seluruh dunia,” tulis New York Times, 12 Desember 2017.