Terungkap! Ini Fakta Lengkap Pidato Prabowo soal Boyolali

 

 

Pidato Prabowo Subianto soal ‘tampang Boyolali’ jadi kontroversi. Kubu Petahana memanfaatkan ini sebagai bahan ‘menjatuhkan’ Prabowo.

Benarkah pidato tersebut menghina orang Boyolali? Faktanya tidak! Simak pidato lengkap Prabowo dibawah ini.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Alhamdulillah, Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil ‘alamin, washsholatu wassalamu ‘ala asyrofil anbiyai wal mursalin wa ‘ala alihi wa sohbihi ajma’in, amma ba’du.

Salam sejahtera bagi kita semua, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Maha Besar, kita masih diberi kesehatan, diberi nafas untuk bertatap muka pada siang yang baik ini di depan Posko Pemenangan Koalisi Adil Makmur dalam rangka pemilihan umum tahun 2019 yang akan datang, di mana saya Prabowo Subianto dan saudara Sandiaga Salahudin Uno mendapat kehormatan dan kepercayaan dari masyarakat Indonesia yang diwakili oleh 4 partai politik besar.

Partai Amanat Nasional (PAN), Partai bersejarah yang pernah memimpin reformasi di negara dan bangsa kita tahun 1998. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai yang selalu setia membela kepentingan kesejahteraan, keadilan, dan kepentingan umat Islam di Indonesia. Partai Demokrat yang telah melahirkan seorang presiden RI, yang telah memimpin bangsa Indonesia 10 tahun dengan adem ayem, dengan tenang, dengan sejuk, dengan stabilitas, dan tentunya partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) partai saya sendiri.

Tapi saya merasa tidak hanya partai tersebut yang mengusung dan mendukung saya. Saya ke mana-mana didatangi oleh berbagai kalangan, ormas-ormas, sayap-sayap. Sebagai contoh para purnawirawan pejuang Indonesia Raya.

Singa-singa tua yang turun dari gunung untuk membela negara dan bangsa kita walaupun mereka mungkin giginya sudah ompong. Giginya ompong semangatnya masih menyala-nyala.

Tapi terutama yang saya merasakan adalah dukungan dari emak-emak yang militan. Emak-emak ini militan. Mereka berani.

Saudara-saudara sekalian, kita menamakan diri Koalisi Adil Makmur. Kenapa? Karena keadilan dan kemakmuran adalah cita-cita pendiri bangsa RI. Keadilan dan kemakmuran adalah tujuan kita merdeka. Keadilan dan kemakmuran adalah tujuan kita mendirikan Republik Indonesia saudara-saudara sekalian.

Dan dirasakan sekarang, saudara-saudara yang merasakan sekarang, saya bertanya ke saudara-saudara, apakah saudara-saudara sudah merasakan adil? Sudah merasa makmur atau belum?

(Hadirin ramai berteriak ‘belum’).

Saudara-saudara saya hari ini didampingi, ditemani oleh ketua umum Partai Amanat Nasional, Pak Zulkifli Hasan, tapi beliau juga kebetulan adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI (Ketua MPR RI), pemegang perwakilan rakyat yang tertinggi di Republik Indonesia.

Saya juga didampingi tokoh Jawa Tengah dan tokoh TNI yaitu mantan Gubernur Jawa Tengah, Letjen TNI (Purn) Haji Bibit Waluyo.

Saudara-saudara dari Jawa Tengah yang lebih tahu bagaimana seorang Bibit Waluyo itu, seorang gubernur yang bekerja keras untuk rakyat, untuk petani, untuk nelayan, untuk wong cilik di seluruh Jawa Tengah. Dengan semboyan ‘relo bali deso mbangun deso’ Bali deso mbangun deso berarti membangun bangsa dan negara.

Saudara-saudara, saya kenal Pak Bibit Waluyo sudah lama, sebenarnya beliau adalah senior saya. Beliau yang dulu mlonco-mlonco saya, yang mengembleng saya, termasuk beliau. Karena dulu saya taruna yang nakal, tapi kalau nggak nakal, mungkin saya nggak jadi jenderal.

Saya kenal beliau di daerah operasi, kami ini tentara. Dulu kita bukan tentara di belakang meja, kita bukan tentara di kota, kita tentara di lapangan. Kita naik dan turun gunung, kita membela negara ini, pertaruhkan jiwa kita untuk menjaga keamanan negara dan bangsa Indonesia.

Dari sejak muda kami pertaruhkan nyawa kami, untuk bangsa Indonesia, untuk merah putih yang kami cintai. Sekarang seharusnya kita pensiun, seharusnya kita istirahat tapi kami melihat bahwa negara dan bangsa kita masih dalam keadaan tidak baik.

Ekonomi kita tidak di tangan bangsa kita sendiri. Saya lahir di Jakarta, saya besar di Jakarta. Saya memberi usia saya untuk bangsa ini, saya memberi jiwa saya dan raga saya untuk bangsa ini.

Tapi begitu saya lihat keliling Jakarta, saya melihat gedung-gedung mewah. Gedung-gedung menjulang tinggi. Hotel-hotel mewah. Sebut saja hotel mana di dunia yang paling mahal, ada di Jakarta.

Ada Ritz Carlton, ada apa itu, Waldorf Astoria, namanya saja kalian nggak bisa sebut.

(Peserta acara tertawa)

Ada Saint Regis, dan macam-macam itu semua. Tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?

(Hadirin ramai-ramai menjawab: betul)

Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Karena tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini. Betul?

(Hadirin ramai-ramai menjawab: betul)

Saya sebagai prajurit, saya lihat kok negara saya bukan milik rakyat saya, untuk apa saya berjuang, apakah saya berjuang supaya negara kita jadi milik orang asing, saya tidak rela, saya tidak rela.

Karena itulah saya melihat rakyat saya masih banyak yang tidak mendapat keadilan, dan tidak dapat kemakmuran dan tidak dapat kesejahteraan, bukan itu cita-cita Bung Karno, bukan itu cita-citanya Bung Hatta. Bukan itu cita-citanya Pak Dirman, bukan itu cita-citanya Ahmad Yani, bukan itu cita-cita pejuang kita.

(Hadirin berteriak takbir).

Karena itu saudara-saudara, Pak Bibit, saya, lama tidak ketemu. Saya tidak minta beliau mendukung saya. Beliau yang menyatakan ‘saya mendukung Prabowo dan Sandi’. Saudara-saudara, tokoh-tokoh seperti Pak Zul, tokoh-tokoh PAN, tokoh-tokoh PKS, tokoh-tokoh Gerindra, relawan-relawan dari mana-mana bergabung bersama Prabowo-Sandi. Apakah mereka berharap uang? Tidak! Kami partai-partai yang tidak berkuasa. Kalau mendukung kami jangan mengira kami bisa membagi-bagi uang, membagi-bagi sembako, membagi apa-apa, tidak!

Jangan kecewa saudara-saudara. Yang bisa kami janjikan kepada rakyat Indonesia adalah keteguhan, ketekadan kita untuk membela rakyat Indonesia sebener-benernya. Yang bisa kami janjikan kepada rakyat Indonesia adalah bahwa kami akan menjaga, dan akan mengelola kekayaan bangsa Indonesia untuk sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat Indonesia.

Saudara-saudara sekalian bukan hanya Prabowo, tapi semua lembaga di dunia mengatakan bahwa Indonesia ini terjadi ketimpangan yang sangat besar, yang menguasai kekayaan Indonesia hanya 1% saja. Kurang dari 1%. Ada 4 orang di Indonesia yang memiliki kekayaan lebih dari 100 juta orang Indonesia yang lain. Apakah ini cita-cita RI?

Hai kau purnawirawan, apakah untuk itu engkau berjuang? Untuk kekayaan kita dinikmati segelintir orang saja? Saya kira saudara-saudara cukup merasakan, tanya rakyat di sekitarmu bagaimana merasakan.

Kalau ingin perubahan, kami siap untuk bekerja demi rakyat Indonesia. Saudara-saudara akan break, saya meminta Pak Zul Hasan, Ketua PAN, satu tokoh yang saya lihat cemerlang, generasi yang harus muncul, generasi beliau lah dan di bawah-bawah beliau lah yang nanti harus siap tampil bersama-sama Prabowo-Sandi. Prabowo hanya pembuka jalan, anak-anak mudalah yang harus memimpin bangsa ini.

Saya menganggap diri saya alat, saya menawarkan diri saya menjadi alat untuk bangsa dan rakyat Indonesia karena saya merasa sangat terhormat kalau rakyat dan bangsa Indonesia mau mempercayakan saya sebagai alat untuk melaksanakan tugas-tugas rakyat Indonesia. Tugas-tugas menghilangkan kemiskinan, tugas-tugas memberikan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Saudara-saudara sekalian saya minta Pak Zul untuk bicara, kemudian saya akan minta seorang harimau tua Bibit Waluyo untuk juga bicara. Dan saya lihat Pak Mudrick. Terimakasih Pak Mudrick, jauh-jauh muncul di sini. Kalau ada tokoh seperti Pak Mudrick masa kita ragu-ragu saudara-saudara sekalian.

Pak Mudrick itu, zaman orde baru suka nyerang-nyerang orde baru. Zaman mana pun kalau beliau melihat ada yang tidak beres, beliau berani untuk mengoreksi. Ini tokoh yang kita butuh di saat-saat yang sulit di negara dan bangsa.

Boyolali 2 November 2018