Tetap Santuni Anak Yatim Meski Perusahaan Nyaris Bangkrut

  • Bagikan
Haryanto Santuni Yatim

Ngelmu.co – PO [perusahaan otobus] Haryanto menyita perhatian publik. Bukan hanya karena bos perusahaan [H Haryanto] legawa dalam menghadapi musibah.

Namun, juga karena Haryanto yang nyaris bangkrut pada 2006 lalu, tidak berhenti menyantuni anak yatim.

Rian Mahendra yang merupakan COO [chief operating officer] alias Direktur Operasional PO Haryanto; sekaligus putra dari bos perusahaan, bercerita.

Sang ayah yang merupakan pria asal Kudus, Jawa Tengah, mendirikan PO-nya pada 2002 silam.

Tepatnya setelah purnatugas di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad TNI Angkatan Darat, Tangerang, Banten.

Sebagai pekerja keras, usai bertugas, H Haryanto pun memutuskan untuk menjadi sopir angkutan kota (angkot); dari sore hingga Subuh.

Sampai akhirnya ia berhasil punya angkot sendiri, dan bangkrut pada 1998/1999, saat terjadi krisis moneter.

Melalui berbagai ujian, Haryanto tidak menyerah. Ia bergerak menjadi agen tiket bus di Pulau Gadung.

Dari lima bus, berkembang hingga puluhan, dan kini memiliki 300 bus lebih; dengan 2.000 karyawan.

Rian bilang, usaha tidak instan. Sang ayah banyak melalui lika-liku sebelum besar seperti sekarang.

Dahulu, keluarganya juga sempat tidak tenteram, karena jauh dari Tuhan

“Dulu kita sempat diberikan kelebihan rezeki, justru jauh dari Allah. Kita sempat bangkrut pada 1999, karena krisis moneter.”

Demikian kata Rian, seperti Ngelmu kutip dari kanal YouTube Coach Yudi Candra, Kamis (23/12/2021).

Baca Juga:

Namun, syukurnya, seiring berjalan waktu, Haryanto hijrah. Tidak sendirian, ia menggandeng keluarganya.

Mereka pun menjadikan usaha sebagai ladang ibadah untuk mendapat keberkahan.

Meski kondisi perusahaan naik turun, sejak 2002, Haryanto terus menyantuni anak yatim piatu.

Bahkan jumlahnya kini sudah mencapai 5.361 orang. Tiap tahun, mereka juga memberangkatkan umrah dan haji, serta membangun masjid.

“Pada 2006, perusahaan nyaris bangkrut. Namun Pak Haji tetap menyantuni anak yatim,” tutur Rian.

“[Tetap] Memberangkatkan orang umrah, naik haji, dan terus membangun masjid,” sambungnya.

Mengikuti jejak sang ayah, Rian mengembangkan usaha keluarga dengan menerapkan manajemen spiritual.

Mulai dari bersedekah, mewajibkan para sopir untuk salat, dan juga ikhlas dalam menghadapi musibah seperti kecelakaan atau bus terbakar.

“Wong perusahaan ini dikasih sama Allah, sampai segede ini, kita enggak pernah minta,” ujar Rian.

“Suatu saat diambil sama Allah, 100 persen jadi abu, kita juga harus siap,” imbuhnya.

Rian pun berpesan, jangan takut mati dalam menjalani hidup. “Takut [itu] kalau [hidup kita] enggak punya arti.”

  • Bagikan
ngelmu.co