UAS dan Aa Gym Diminta Netral, Mengapa TGB dan Yusuf Mansur Tidak?

Diposting pada 20.948 views

Ngelmu.co – Belakangan ini tersiar kabar jika Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Aa Gym diminta untuk netral dalam menyikapi Pemilihan Presiden yang 17 April mendatang akan diselenggarakan. Hingga tak bisa dihindari, kabar tersebut membuat masyarakat berpikir, “Mengapa hanya UAS dan Aa Gym yang diminta untuk netral? Bagaimana dengan Tuan Guru Bajang (TGB) dan Ustaz Yusuf Mansur? Mengapa mereka bebas menyuarakan pilihan?”

Related image

Hal ini terlihat dari apa yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy. Ia membenarkan jika dirinya memang berupaya membawa UAS ke “tengah”. Setidaknya, jika UAS tidak mendukung Jokowi, Rommy meminta agar UAS juga tidak menunjukkan keberpihakannya pada Prabowo Subianto, di Pilpres mendatang.

[read more]

Begitupun dengan Aa Gym, beberapa waktu lalu ia sempat mempertanyakan ajakan gabung ke barisan pendukung pasangan calon petahana. Apakah benar kalaupun Aa tidak gabung dengan mereka, setidaknya Rommy meminta Aa Gym untuk netral.

“Pak Rommy dari pimpinan salah satu partai Islam itu mendekati UAS, agar kalau tidak bergabung maka bersikap netral. Dan sudah pernah mendekati Aa, berbicara dengan Aa Gym supaya bisa netral dalam pemilu. Kalau tidak gabung, netral lah. Dan sekarang katanya Aa Gym sudah berubah, di postingannya,” ujar Aa mengawali pernyataan dalam video yang beredar, Senin 11 Maret 2019.

“Saya belum ber-tabayyun kepada beliau, apakah beliau berkata ini atau tidak. Semoga beliau tidak berkata begitu. Karena, kalau berkata begitu, berarti bohong. Saya tidak berkomunikasi selama Pilpres ini, sama sekali tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Karena, itu tidak benar pernyataannya,” imbuhnya.

Belum berganti pekan, Rommy langsung membantah pernyataan tersebut. Ia mengaku jika dirinya sudah bertabayyun pada Aa, dan menyatakan jika dirinya tidak pernah mendekati Aa Gym untuk kepentingan Pilpres ini.

“Sehubungan dengan berita klarifikasi @aagym, kemarin saya telah bertabayyun kepada beliau melalui Whatsapp dan beliau memahaminya, bahwa saya tidak pernah melakukan pendekatan kepada @aagym dalam rangka pilpres untuk bersikap mendukung salah satu paslon atau netral, maka kalau ada statement seperti itu, tentu itu tidak benar/hoax. Saya memang ditanya oleh wartawan apakah pernah bertemu @aagym. Saya sampaikan pernah, sekitar 2-3 tahun lalu, karena saya memang pernah silaturrahmi ke yayasan beliau di Kebayoran baru. Selebihnya ketika mereka tanyakan bagaimana sikap @aagym dalam pilpres, saya jawab standar bahwa sikap beliau tercermin dalam seluruh postingan status beliau di media sosial. Karenanya yang lebih pas tentu ditanyakan langsung ke @aagym. Kalau ada hal-hal yang lebih daripada itu, itu sudah di luar statement saya. Semoga ini cukup menjadi sarana #tabayyun agar jangan sampai kita terprovokasi oleh berita yang tidak benar,” tulis Rommy dalam salah satu unggahan di akun Instagram pribadinya, @romahurmuziy, Senin, (11/3/19) sore.

Tapi lagi-lagi, pilihan UAS dan Aa Gym menjadi sorotan dan seolah terus diupayakan agar suaranya bisa dikendalikan. Entah diminta untuk bergabung, netral, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah, mengapa saat dua sosok ini berusaha ditarik ke “tengah”, ada dua sosok lainnya yang bebas melantangkan pilihan? Apa penyebabnya hingga sebelah sisi boleh, sebelah lainnya tidak?

Seperti Ustaz Yusuf Mansur, meskipun sempat simpang siur ke mana arah dukungannya dalam Pilpres, tapi semua menjadi jelas setelah ia terlihat menghadiri acara deklarasi dukungan dai dan mubalig Yogyakarta untuk Jokowi-Ma’ruf. Sebab, berangkat dari kehadirannya di acara tersebut, seolah bisa dijadikan penerang, kepada siapa dukungannya akan mendarat, kubu 01 atau 02.

“Hari ini saya diundang menghadiri deklarasi dukungan kepada [capres-cawapres] 01 Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin yang dilakukan oleh dai-dai Yogyakarta,” ujar Ustaz Yusuf Mansur, Senin (25/2/2019) lalu.

Satu sudah jelas. Lalu bagaimana dengan TGB? Ia juga menyuarakan pilihannya dengan gamblang, tidak sedikit pun tersamar.

“Komitmen personal saya sudah sejak 2016. Saya nyatakan itu kalau tidak salah pada kunjungan kerja beliau (Jokowi) yang ketiga ke NTB,” ujarnya pada Tempo, Rabu, 11 Juli 2018 lalu.

Bahkan ia mengaku jika dirinya sudah menelusuri rekam jejak Jokowi, melalui orang-orang terdekat Presiden RI ke-7 itu. TGB juga mengaku telah membaca buku yang menjelaskan latar belakang Jokowi.

“Kesimpulannya Jokowi adalah seorang muslim yang baik,” terangnya di acara Diskusi Publik dan Deklarasi Dukungan Jokowi-Ma’ruf oleh Jaringan Alumni Mesir Indonesia (JAMI) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu, 9 Februari 2019.

Masyarakat pun terus menanyakan ketimpangan ini, pertanyaan mereka lemparkan jelas melalui media sosial, salah satunya Twitter.

@zheno21: Ketika TGB & UYM jelas2 berpihak pd 01, mrk diam saja. Nah…ketika UAS & Aa Gym menunjukkan keberpihakan pd 02, mrk bilang…jadi Ulama itu harus netral! Hei, Ulama itu hrs mencerahkan ummatnya, ga bs netral. Mobil klo netral aja ga akan jalan, kecuali mungkin mobil Esemka
@4bu4bdillah: Romi bilang UAS dan aa Gym hrs netral..Lha TGB dan YM ko kampanye..
@qaylaquu: @MRomahurmuziy ketika TGB & UYM yg terang terangan berpihak kepada 01 ente diam aja giliran ke Aa Gym & UAS ente nekan mereka u bersikap netral .. Emang ente siapa jadi semua bisa diatur ente …
@IpungLombok: Ketika TGB dan UYM dukung 01 kalian mingkem. Namun ketika UAS n Aa Gym menentukan pilihan kalian ribut dan bilang Ulama harus netral. Kenapa kalian juga ga ribut ketika ada Ulama (KMA) yg jadi cawapres? jangan mau menang sendiri dong
@sweetpeony15: Si Romi…… bertindak semau udel nya. Nyuruh org netral. Semua WNI berhak punya pilihan, tauk. Org2 dgn basis massa banyak, sprti HRS, UAS, AA GYM, sampe grup Sabyan Gambus, semua di sasar. Nggilani…… kaya negara punya projo TOK!

Kalau Ustaz Yusuf Mansur pun TGB sudah jelas dengan pilihannya dan tak ada yang melarang, mengapa sebagian pihak masih sibuk membatasi ruang gerak UAS dan Aa Gym dalam menentukan pilihan? Bukan kah UAS dan Aa Gym sama seperti Yusuf Mansur, TGB, dan masyarakat lainnya?

Lantas, mengapa masih saja sebelah sisi dibebaskan, sebelahnya lagi dikekang?

[/read]