Nuruzzaman

Usai Lebaran, Nuruzzaman Tabayyun dengan Elite Gerindra Terkait Isu SARA

Ngelmu.co – Mohammad Nuruzzaman telah memutuskan keluar dari Partai Gerindra. Diancam somasi, setelah memutuskan keluar dari Partai Gerindra, Nuruzzaman mengaku sudah berkomunikasi dengan Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani untuk bertemu dan berkomunikasi dengan tujuan mengklarifikasi berbagai hal, termasuk ancaman somasi Gerindra terhadap Nuruzzaman.

“Sebenarnya, saya sudah dikontak oleh Sekjen Gerindra, dan kita sudah melakukan tabayyun (klarifikasi, mencari kejelasan-red) untuk meminta penjelasan. Saya juga diminta penjelasan, oleh sekjen tadi. Kemudian, setelah lebaran, kita akan bertemu, untuk ber-tabayyun,” ujar Nuruzzaman, Rabu (13/6), dikutip dari Kumparan.

Ancaman somasi dilayangkan oleh Kepala Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra, Habiburokhman. Dalam somasi, Habiburokhman meminta Nuruzzaman segera meralat ucapannya, juga meminta maaf secara terbuka karena telah menuduh Gerindra sebagai partai penyebar kebencian dan isu SARA.

Namun, Nuruzzaman menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menuduh Gerindra memproduksi isu tersebut. Tapi memang, kata dia, dalam kasus tertentu, beberapa kader Gerindra terkesan diam dan tidak menghentikan isu SARA yang bergulir di masyarakat.

“Jadi gini, saya bilang ‘menari di atas isu SARA’, kan gitu. Jadi minimal misalnya kasus Pilkada DKI, ketika ada isu SARA, beberapa kader Gerindra kan diam saja, tidak menghentikan isu SARA menjadi bagian dari isu politik. Mendiamkan saja itu menurut saya harusnya menghentikan, sudahlah, berpolitik enggak usah menggunakan isu SARA,” jelasnya.

Baca juga: Gerindra Sebut Pernyataan Politikus Hanura Soal Prabowo Dibawah Ketiak HRS Asbun

Diberitakan sebelumnya, Nuruzzaman memutuskan untuk keluar dari Gerindra sejak Senin (13/6). Adapun salah satu alasan utamanya untuk mundur adalah dikarenakan cuitan Waketum Gerindra, Fadli Zon dalam akun Twitter pribadinya, yang dianggap menyinggung Khatib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang melakukan kunjungan ke Israel untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan America Jewish Commitee (AJC) di Yerusalem.

Menurut Nurazzaman, Gerindra sudah keluar dari rel berpolitiknya dan telah beralih dari partai yang berkiblat pada perubahan, menjadi partai yang memanfaatkan isu agama untuk kepentingan politik.

“Selama ini kami menilai Gerindra ini menjadi salah satu bagian yang ikut ‘mempolitisasi agama’ atau isu agama ini menjadi kepentingan politik. Itu juga bertentangan dengan sikap dan pandangan kami di NU. Agama ya agama, jangan gunakan agama untuk kepentingan politik apalagi untuk merebut kekuasaan,” tuturnya.

Selain itu, Nuruzzaman mengaku ditawari banyak partai untuk bergabung usai memutuskan keluar dari Gerindra. Namun, Nuruzzaman mengatakan bahwa dirinya menolak tawaran-tawaran tersebut. Hal itu dikarenakan Nuruzzaman memilih fokus di Nahdlatul Ulama (NU).

“Setelah saya mengundurkan diri dari partai Gerindra, saya juga berteman dengan banyak teman dari partai lain, memang beberapa teman dari partai lain menawari saya, tetapi, saya bilang saya mau istirahat dulu, mau hikmat dulu di Anshor dan Banser. Saya selalu bilang, istirahat dululah, banyak hal yang harus saya lakukan untuk refleksi,” ujar Nuruzzaman, Kamis (14/6).

Nuruzzaman menegaskan bahwa kepergiannya dari partai besutan Prabowo Subianto tersebut, bukan lantaran ingin pindah ke partai lain, namun dikarenakan murni untuk membela Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

“Jadi enggak ada motivasi sama sekali bahwa saya keluar dari Gerindra karena saya ditawari oleh partai politik lain. Jadi dengan ini respons saya karena alasan yang kemarin-kemarin itu. Saya sebagai santri sangat kecewa dengan partai saya, salah satu kader di partai saya yang menyerang kiai yang saya hormati,” katanya.