Wafatnya Ahli Tafsir dari Pati

  • Bagikan
KH Ahzami Samiun Jazuli

Ngelmu.coInnalillahi wa inna ilaihi raji’un. Umat Muslim, khususnya di Tanah Air, berduka atas wafatnya KH Ahzami Samiun Jazuli, ahli tafsir dari Pati Jawa Tengah, Ahad (5/4).

Ayahnya merupakan seorang kyai NU yang sangat dihormati. Keilmuannya di-akui. Bersama para kyai lain yang mumpuni ilmunya, matang pemahamannya, dan tinggi akhlaknya, beliau aktif dalam Bahtsul Masail para tokoh NU di masa itu.

KH Sami’un Jazuli, nama kyai NU yang sangat dihormati ini, merupakan sosok kyai yang aktif dalam Bahtsul Masail bersama Mbah Sahal (KH MA Sahal Mahfudh) dari Kajen, KH Sholeh Al-Hafidh, KH Duri Nawawi, KH Ahmad Fayumi Munji, KH Muzammil Thohir, KH Ma’mun Muzayyin, KH Abdullah Rifa’i, KH Abdul Hadi Kurdi, KH Zuhdi Abdul Manan, dan sejumlah kyai lainnya.

Tetapi yang menjadikan Bahtsul Masail ini lebih berwibawa adalah kehadiran dua kyai paling di-segani, di wilayah Pati, yakni KH Abdullah Zain Salam (Mbah Dullah Salam), serta KH A Suyuthi Abdul Qadir dari Guyangan.

Beliau berdua, lebih banyak diam selama Bahtsul Masail berlangsung, tetapi sekali berpendapat, amat di-dengar karena kedalaman ilmunya. Beliau berdua sangat tawadhu.

Kelak, Mbah Sami’un (KH Sami’un Jazuli) mengirimkan anaknya yang bernama Ahzami, untuk belajar di Guyangan, dari tingkat paling awal hingga menyelesaikan Madrasah ‘Aliyah.

Menyelesaikan pendidikan jenjang ‘Aliyah di Pondok Pesantren Raudlotul Ulum Guyangan, pada saat itu berarti telah menguasai ilmu musthalah hadis, ilmu tafsir, ushul fiqh, dan berbagai cabang keilmuan lainnya.

Jadi tidak dapat di-samakan dengan sekadar lulus MAN, di masa sekarang ini.

Selepas dari Guyangan—pesantren legendaris memang sering lebih dikenal dengan nama daerahnya saja—Ahzami, melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah.

KH Dr Ahzami Sami’un Jazuli pun dikenal sebagai ahli tafsir, begitu nama lengkapnya disebut orang, menulis beberapa buku berkaitan dengan Al-Qur’an, tetapi kesibukan utamanya ialah mengajarkan ilmu-ilmu agama, sebagaimana ayahnya.

Beliau juga membina lembaga pendidikan di Jatiasih, Bekasi.

Hari ini, kyai yang tawadhu’ tersebut telah wafat. Allah ‘Azza wa Jalla, memanggilnya pulang.

Semoga seluruh buku yang dituliskan, ilmu yang di-ajarkannya, anak-anak yang di-tinggalkannya, serta berbagai rintisan amal shalih yang ditegakkan, menjadi ‘amal yang terus mengalirkan pahala bagi beliau.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار

آمين يا رب العالمين

Oleh: Muhammad Fauzhil Adhim

  • Bagikan