Wakapolri: Saya Tersinggung Sebagai Muslim

Ngelmu.co – Dilansir oleh Republika, Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin menegaskan bahwa Muslim sama sekali tidak mencerminkan hoax. Penegasan tersebut Syafruddin ucapan terkait kasus penyebaran hoax yang belakangan ini terjadi yang dilakukan kelompok dengan nama The Family MCA (Muslim Cyber Army).

Syafruddin mengatakan bahwa yang melakukan hoax itu merupakan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, tidak mencerminkan muslim.

“Bahwa yang melakukan hate speech atau hoax itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab, bukan mencerminkan umat Muslim,” ujar Syafruddin di Jakarta Pusat, Jumat (9/3).

Oleh karena itu, Syafruddin meminta jajaran Polri untuk tidak lagi menyebut kata Muslim dalam mengemukakan kasus penyebaran hoax The Family MCA.

“Saya perintahkan jajaran Polri untuk jangan lagi menyebut Muslim Cyber Army, itu no,” kata Syafruddin.

Syafruddin menyatakan bahwa seorang Muslim tidak akan melakukan hal yang tidak bertanggung jawab seperti menyebarkan hoax. Menurt Syafruddin, jajaran kepolisian, akan terus melakukan tindakan tegas pada penyebaran hoax. Ia pun berharap agar Muslim tidak lagi diasosiasikan dengan penyebaran hoax.

“Kita bongkar dan akan terus dibongkar. Saya pesankan kepada media tidak lagi membuat judulnya Muslim, saya tersinggung sebagai Muslim,” tegas Syafruddin.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah menangkap tujuh penyebar hoaks yang berada dalam kelompok The Family MCA. Seorang tersangka bernama Bobby Gustiono ditangkap pada Ahad (4/3).

Selain itu, sejumlah tersangka ditangkap serentak pada Senin (26/2). Muhamad Luth (40 tahun) ditangkap di Sunter, Jakarta Utara. RSD (35 tahun) ditangkap di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. RS ditangkap di Jembrana, Bali. Sedangkan, Yus ditangkap di Sumedang, Jawa Barat. Tersangka lain ditangkap di Palu dengan inisial RC dan seorang lagi di Yogyakarta.

Mereka disebut menyebarkan berita hoaks dengan rasa ujaran kebencian sesuai dengan isu yang berkembang dan bernada provokasi. Seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan penyerangan terhadap nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu.

Selain ujaran kebencian, sindikat ini ditengarai juga mengirimkan virus kepada kelompok atau orang yang dianggap musuh. Virus ini biasanya merusak perangkat elektronik penerima.

Para tersangka ini terancam dikenai pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) UU ITE 11/2008 ITE, pasal juncto pasal 4 huruf b angka 1 UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau pasal 33 UU ITE.