523 Nakes Indonesia Gugur, Tertinggi se-Asia Tenggara

  • Bagikan
Gugur Nakes Indonesia Covid Corona

Ngelmu.co“Tenaga kesehatan (Nakes) yang gugur bukan hanya angka. Kematian mereka adalah duka kita. Nakes memiliki keluarga, sejawat, bahkan juga pasien yang selama ini ‘bergantung’ pada layanan mereka.”

Demikian pernyataan yang Ngelmu kutip dari salah satu unggahan milik akun Instagram, @laporcovid19, Ahad (3/1).

Bagaimana tidak berduka. Sudah 523 tenaga kesehatan, gugur selama pandemi COVID-19.

Jumlah kematian Nakes pada akhir tahun lalu, menjadi yang tertinggi [naik dua kali lipat lebih dari bulan sebelumnya].

Dengan rincian per Mei 2020, sebagai berikut:

  • 12 Nakes gugur di bulan Mei,
  • 35 Nakes gugur di bulan Juni,
  • 52 Nakes gugur di bulan Juli,
  • 51 Nakes gugur di bulan Agustus,
  • 62 Nakes gugur di bulan September,
  • 49 Nakes gugur di bulan Oktober,
  • 50 Nakes gugur di bulan November, dan
  • 111 Nakes gugur di bulan Desember.

Berdasarkan data BMJ Global Health 2020, dibanding total korban jiwa akibat COVID-19, persentase kematian Nakes di Indonesia, mencapai 2,3 persen.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dari Eropa yang tercatat 1,4 persen, dan 0,2 persen di Asia Tenggara.

“Banyak di antara Nakes di Indonesia yang gugur ini adalah anak-anak muda [usia termuda 23 tahun].”

“Sebagian masih mendalami studi spesialis, lainnya profesor sepuh dengan yang tertua berumur 92 tahun. Namun, masih melayani dan berjuang selama pandemi.”

Lapor Covid, juga mencatat semakin banyaknya Nakes di layanan primer yang berguguran.

Terutama perawat dan bidan yang menandakan sebaran COVID-19 semakin dalam di masyarakat.

Adapun 10 provinsi dengan jumlah kematian Nakes terbanyak adalah:

  1. Jawa Timur, gugur 158 Nakes;
  2. Jawa Tengah, gugur 66 Nakes;
  3. DKI Jakarta, gugur 66 Nakes;
  4. Jawa Barat, gugur 47 Nakes;
  5. Sumatra Utara, gugur 37 Nakes;
  6. Sulawesi Selatan, gugur 19 Nakes;
  7. Kalimantan Selatan, gugur 14 Nakes;
  8. Aceh, gugur 11 Nakes;
  9. Riau, gugur 11 Nakes; dan
  10. Sumatra Selatan, gugur 11 Nakes.

“Kematian Nakes yang semakin tinggi, belakangan ini telah membunyikan alarm gawatnya situasi pandemi di Indonesia.”

“Data kami menunjukkan, tren kematian Nakes, terjadi seiring dengan tingginya penularan dan kematian masyarakat karena COVID-19, yang terlihat semakin menanjak, sejak awal Desember 2020.”

Namun, kematian Nakes juga dinilai sebagai tanda kegagalan Indonesia, melindungi garda terdepan melawan pandemi.

“Berbagai persoalan memang masih dihadapi mereka, mulai dari keterbatasan alat perlindungan diri (APD), terutama dialami Nakes di layanan primer dan praktik klinik pribadi, hingga soal kesulitan akses terhadap pemeriksaan swab PCR rutin.”

Lebih lanjut, Lapor Covid, mengungkap adanya laporan Nakes yang diminta merahasiakan penularan, agar layanan rumah sakit tidak terganggu.

Persoalan menjadi semakin kompleks, karena masih adanya pasien yang tidak jujur dengan gejala COVID-19, stigmatisasi, dan pandangan negatif terhadap Nakes.

“Di sejumlah daerah, tudingan Nakes yang mencari untung dengan ‘meng-covid-kan’ pasien pun masih ditemui.”

“Jelas, bahwa kehilangan Nakes di masa pandemi merupakan kehilangan sangat besar bagi negeri ini.”

“Meningkatnya infeksi dan angka kematian Nakes, jelas-jelas memindahkan risiko pada pasien yang perlu perawatan dan masyarakat yang sehat.”

“Tanpa Nakes yang mencukupi, pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, aman, dan nyaman, tidak akan pernah ada.”

“Maka melindungi Nakes sama dengan melindungi kita, dan ini merupakan tanggung jawab bersama,” pungkas pihak Lapor Covid.

Baca Juga: Politikus PDIP Ragukan Data IDI 100 Dokter Meninggal COVID-19, Warganet Marah

Sebagai informasi, Lapor COVID-19 merupakan bentukan sekelompok individu yang memiliki perhatian terhadap hak asasi dan masalah kesehatan warga, terkait pandemi.

Koalisi itu terbentuk pada awal Maret 2020 lalu, atau tepatnya ketika kasus COVID-19 merebak, dan ditemukan secara resmi.

Lewat akun Twitter-nya, Lapor Covid, juga menyampaikan pesan kepada pihak media.

“Kakak-kakak media, cover both side itu penting. Apalagi versi resmi Pemerintah, kudu disanding dengan versi para ahli, epidemiolog independen.”

“Ukuran keberhasilan penanganan wabah, bukanlah kesembuhan, tapi yang utama itu penurunan kasus dan [penurunan] kematian.”

  • Bagikan
ngelmu.co