Benny Susetyo Komentari Banjir Jakarta Sebagai Budayawan, Bukan Stafsus BPIP

  • Bagikan
Benny Susetyo RKN Banjir Jakarta
Foto: YouTube RKN Media

Ngelmu.co – Komentar Benny Susetyo, soal banjir di Jakarta, mendapat kritik dari berbagai pihak. Melihat pernyataannya menjadi polemik, ia pun buka suara.

Benny menegaskan, bahwa saat itu ia bicara sebagai seorang budayawan–bukan mewakili BPIP [Badan Pembinaan Ideologi Pancasila].

“Kan saya bukan sebagai staf khusus [Dewan Pembina BPIP], saya sebagai budayawan,” tegasnya, mengutip Detik, Selasa (23/2).

“Saya bicara keadaan banjir, dan banjirnya ‘kan tidak hanya Jakarta, tapi Kalimantan Selatan,” imbuhnya.

Berawal dari Wawancara dengan RKN

Benny menyampaikan komentarnya soal banjir di Jakarta, dalam wawancara bersama lembaga advokasi Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN).

Perbincangan bertajuk, ‘Kenapa Banjir Masih Ada di Jakarta!!!’ itu diunggah oleh kanal YouTube RKN Media, Ahad (21/2) lalu.

Kepada Benny, pewawancara menanyakan soal mengapa banjir masih terjadi di Jakarta.

Ia pun menjawab dengan penilaian, bahwa seharusnya teknologi yang ada dapat meminimalkan banjir di Jakarta.

“Ini fenomena sebenarnya, bahwa kalau kita memprediksi dengan baik cuaca, alam, itu, ya, alamiah.”

“Tetapi ‘kan kita harus mempersiapkan, justru dengan hebatnya teknologi, kita itu sudah bisa harusnya memantau curah hujan itu.”

“Kemudian mempersiapkan bagaimana sebuah kebijakan yang jelas, terukur.”

“Untuk apa? Untuk mampu, misalnya mengatasi banjir ini,” jelas Benny.

Harus Kontinu

Menurutnya, penanganan banjir di Jakarta, harus berjalan secara berkelanjutan.

Maka program Gubernur DKI sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang memberikan dampak baik, patut dilanjutkan.

“Lah, ini yang enggak ada kontinuitas antara pemerintah daerah sebelumnya, dengan [yang] sekarang.”

“Misalnya zaman Ahok, pengerukan terjadi, pembersihan drainase, kemudian selokan.”

“Ada banyak pasukan oranye, pasukan kuning yang siap siaga ketika curah hujan melebihi kapasitas, itu air itu, bisa mengalir.”

“Lah, harusnya dilanjutkan bendungan, bagaimana sebuah… itu ‘kan masalah mendasar…”

“…adalah bagaimana kebijakannya tidak pernah kontinu, dan tidak pernah kita serius mengatasi banjir ini, Jakarta ini,” ujar Benny.

Ia yang menilai, perlunya keseriusan dalam mengatasi banjir, mengkaitkan dengan kemampuan pemberian Tuhan, dalam mengatasi setiap permasalahan.

“Selama tidak ada keseriusan menghadapi banjir Jakarta, ya, akan terus terjadi.”

“Wong negeri Belanda saja bisa, kok, membendung lautan, membendung daratan, akhirnya Belanda bisa ngatasi.”

“Artinya, jangan kita menyalahkan alam, karena curah hujannya tinggi, cuacanya ekstrem, kemudian seolah-olah alam.”

“Padahal, manusia diberi keahlian oleh Tuhan yang Mahakuasa, kemampuan, kemampuan untuk apa? Memprediksi.”

“Kemampuan untuk apa? Untuk mampu setiap masalah itu ada cara mengatasinya.”

“Ini yang enggak pernah dilakukan. Nah, ini yang enggak ada politic will dalam pengatasan banjir ini,” kata Benny.

Kemauan Politik Harus Mendukung

Lebih lanjut, Benny, mengatakan bahwa kemauan politik harus mendukung penyelesaian banjir [dilakukan secara menyeluruh].

“Kalau ada kemauan politik dari para pemimpinnya, elite-elite-nya, maka banjir Jakarta ini bisa diselesaikan.”

“Asal tidak sektoral, tapi menyeluruh. Menyeluruh artinya, harus ada sistem drainasenya.”

“Harus ada sistem pengaturan detailnya, maka harus dibangun bendungan.”

“Dan apa yang dilakukan Ahok, harus dilanjutkan, harusnya… sehingga penataan Jakarta itu, dalam menghadapi banjir itu, menyeluruh, tidak parsial dan tidak sifatnya politik,” beber Benny.

Ia juga kembali menekankan, bahwa kebijakan banjir yang bermanfaat dari pemimpin sebelumnya, harus dilanjutkan.

“Maksudnya begini, lho, jangan kebijakan yang baik itu, karena berbeda pandangan politik, tidak diteruskan.”

“Harusnya sesuatu yang sudah di-desain, dan manfaat bagi banyak orang, ya, dilanjutkan.”

“Lah, kalau kita lihat, sesuatu yang baik tidak berlanjut. Misalnya bendungan, tidak diteruskan.”

“Misalnya, bagaimana pengerukan, ini ‘kan orang tahu semua.”

“Artinya, upaya-upaya yang dulu yang baik, mungkin ada kekurangan, ya, kekurangan itu yang harusnya dikoreksi dan diperbaiki.”

“Ada harapan bahwa, Jakarta banjir itu pasti ada, tapi tidak separah ini.”

“Beda, karena kita tidak bisa curah hujan yang melebihi kapasitas, tapi kita sebagai manusia, diberi Tuhan akal budi.”

“Bisa mengurangi dampaknya, sehingga tidak merugikan ekonomi, tidak merugikan masyarakat, tidak merugikan public transport, seperti ini ‘kan.”

“Dan tidak membuat orang itu ngumpat. Ini ‘kan persoalan, akhirnya terganggu semua ekosistem,” kata Benny.

Banjir Terjadi karena Perilaku Manusia

Benny menyebut, banjir terjadi karena perilaku manusia. Tidak sedikit wilayah yang menjadi daerah serapan air, beralih fungsi.

“Gini lho, banjir itu terjadi karena perilaku manusia yang serakah dan koruptif dalam kebijakan.”

“Sehingga apa? Wilayah-wilayah yang harusnya jadi resapan, tapi wilayah itu dibangunlah yang namanya mal, yang namanya kepentingan-kepentingan bisnis yang wilayah itu adalah resapan, ini, itu terjadi,” kritik Benny.

“Misalnya bagaimana daerah penunjang Jakarta, kita lihat ‘kan Puncak, ‘kan dulu zamannya Hindia Belanda, Puncak itu ‘kan hijau.”

“Tidak boleh dibangun, karena itu daerah resapan untuk membendung air.”

“Sekarang ‘kan hilang semua. Itulah yang disebut keserakahan yang dikatakan oleh Cokro dan tulisannya itu.”

“Bahwa, pembangunan itu ekosistemnya, harusnya, demi harusnya untuk kesejahteraan bersama.”

“Bukan untuk kepentingan segelintir orang. Jadi, kalau kita melihat fenomena banjir, ini fenomena alam.”

“Tapi fenomena juga manusia yang serakah, karena manusia tidak mau memperhatikan ekosistem lingkungan. Jadi, hancurnya lingkungan seperti ini,” tutur Benny.

Komentar Banjir di Kalsel

Dalam wawancara tersebut, Benny juga bicara soal banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Kalimantan Selatan itu ‘kan ekosistem, hancur hutannya, karena eksploitasi sumber daya alamnya, hutannya hancur.”

“Apa yang terjadi? Banjir… yang akhirnya terjadi, banjir yang luar biasa.”

“Jadi, sebenarnya kalau kita mau keadaban alam, maka, ya, manusia harus ramah dengan lingkungan sekitarnya.”

“Memelihara, menjaga, tapi juga harus melestarikan,” tegas Benny.

Baca Juga: Giring Sebut Anies Tak Punya Kapabilitas Kelola Jakarta, Pasha: Terlalu Naif dan Kerdil

Benny juga memberikan solusi, seperti perlunya pembiasaan tidak membuang sampah sembarangan, dan menjamin saluran sungai bersih.

“Membiasakan tidak membuang sampah sebarangan, itu salah satu cara, memilah sampah basah, sampah kering.”

“Tetapi yang penting adalah bagaimana membangun eksistensi kebersihan itu, dan ekosistem dari yang namanya dari saluran-saluran itu.”

“Dulu ‘kan ada namanya kerja bakti. Lah, itu dihidupkan kembali kerja bakti di lingkungan, di kampung.”

“Bersih-bersih, sehingga selokan-selokan itu bisa menjadi lancar kembali dari sumbatan sampah.”

“Kebanyakan dari sumbatan sampah. Lihat banjir yang paling banyak apa? Sampah. Itu ‘kan menunjukkan keadaban kita yang sebenarnya tidak hidup dalam kesadaran ekosistem.”

“Ekosistem lingkungan harus menjadi kesadaran bagi semua orang, menjadi cara berpikir, bertindak, nalar semua orang.”

“Kalau ini bisa dijaga, ekosistem alam ini, maka manusia bisa bersatu dengan alam.”

“Maka kembalilah keutamaan hidup, siapa mencintai alam, ia mencintai sesamanya.”

“Tetapi siapa yang menghancurkan alam semesta, berarti ia menghancurkan kemanusiaan.”

“Tagedi hancurnya kemanusiaan, karena manusia menyiakan alam semesta ini,” kata Benny.

Penjelasan Atas Komentarnya soal Banjir Jakarta

Benny, menekankan bahwa dalam wawancara dengan RKN, mereka tidak hanya membahas banjir Jakarta.

“Kan saya diminta waktu itu komentarnya, seperti biasa, ya, saya komentar keadaban alam.”

“Kan ada tulisan saya mengenai keadaban alam, dan sudah lama tulisan itu, tulisan opini saya mengenai banjir ‘kan banyak.”

“Itu salah itu, budayawan, ‘kan dia enggak tahu, kadang-kadang nempel apa, karena kehendak mereka ‘kan,” jelas Benny soal statusnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa dirinya tidak mengkritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Fokus komentarnya adalah mengenai tata kelola banjir.

“Kalimantan Selatan, mengenai tata kelola, ‘kan saya tidak pernah kritik Anies juga.”

“Kan aku yang baik dilanjutkan, ‘kan itu bukan kritik. Itu ‘kan kita tahu, siapalah buzzer-buzzer-nya ‘kan, bermain ‘kan,” kata Benny.

“Bukan [sebagai BPIP], sebagai budayawan. Mereka yang beri judul salah. Bukan dari saya.”

“Kalau saya enggak tahu, saya enggak pernah juga ketika diwawancarai, ya, wawancara.”

“Tapi ‘kan saya penulis opini. Saya bicara keadaban, dan saya tidak bicara masalah banjir, manusia yang serakah, manusia yang buang sampah sembarangan.”

“Kan ini pesan-pesan moral. Ada tulisan saya mengenai keadaban alam, hancurnya keadaban, bagaimana alam.”

“Kan tidak menyinggung banjir Jakarta, Kalimantan Selatan, ‘kan saya mengenai keadaban manusia. Apakah menulis begitu tidak boleh?,” tanya Benny.

“Jadi di kapasitas sebagai budayawan, kalau mereka nyatut sebagai itu [BPIP], saya enggak tahu.”

“Karena di tulisan saya, saya sebagai budayawan, kemudian dipakai BPIP, saya enggak pernah tahu itu,” tegas Benny.

RKN Minta Maaf

Akun YouTube yang mengunggah pernyataan Benny, juga telah meminta maaf.

RKN Media, mengakui bahwa dalam wawancara dengan Benny, ada kesalahan dalam penulisan jabatan.

“Lembaga advokasi Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN), mengklarifikasi video berjudul: Kenapa Banjir Masih Ada di Jakarta, dengan narasumber budayawan Antonius Benny Susetyo.”

Demikian kata Wakil Ketua RKN, Filipus Reza, dalam keterangannya, Selasa (23/2).

Ia mengaku kekeliruan pihaknya, dalam menulis jabatan Benny, saat menyampaikan pandangan soal banjir.

Reza menjelaskan, kapasitas Benny dalam wawancara tersebut memang sebagai budayawan.

“Dalam video tersebut, RKN Media, keliru menulis jabatan Romo Benny sebagai Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).”

“Dan dalam hal ini, dalam kapasitasnya sebagai budayawan, Romo Benny, memberikan pandangan terkait bagaimana menyelesaikan persoalan banjir di Indonesia, tak terkecuali di DKI Jakarta.”

“Sebagai budayawan, Romo Benny juga berulang kali memberikan pandangan terkait persoalan banjir di Tanah Air.”

“Atas dasar itu, Rumah Kebudayaan Nusantara, menyampaikan permohonan maaf kepada Romo Benny Susestyo, atas kekeliruan menulis jabatan sebagai anggota BPIP.”

“Dengan demikian, pernyataan Romo Benny yang dalam wawancara dengan RKN Media, bukan mengatasnamakan lembaga BPIP, melainkan sebagai budayawan,” pungkas Reza.

  • Bagikan
ngelmu.co