Giring Tak Ingin Indonesia Jatuh ke Tangan Anies Pembohong, Begini Jawaban Netizen

  • Bagikan
Giring Tak Rela Indonesia Jatuh ke Tangan Anies Baswedan
Foto: Twitter/psi_id

Ngelmu.co – Netizen menanggapi video berdurasi 5 menit 3 detik yang terunggah di akun Twitter resmi, @psi_id, Senin (20/9) kemarin.

Mereka nampak geleng kepala, karena dalam video tersebut, Giring, gamblang menyebut Anies, bukan contoh orang yang dapat mengatasi krisis.

Ia juga menjelaskan, mengapa dirinya yakin betul dengan kegagalan Anies.

Bahkan Giring, menyebut pura-pura peduli adalah kebohongan Anies, di tengah pandemi dan penderitaan orang banyak.

Mantan vokalis grup band Nidji itu juga menyuarakan ketidakrelaannya, kalau-kalau Indonesia, sampai jatuh ke tangan Anies.

Pengguna Twitter @aswinss93, menjadi salah satu yang merespons pernyataan Giring tersebut.

“Tidak sepantasnya sebuah partai politik berkata dan berprilaku seperti ini,” tuturnya.

“Tidak ada adab, hanya dendam yang ada. Kami pun berharap jangan sampai Indonesia dipimpin partai ini,” imbuhnya.

Sementara @Mang_Yuga, berkata, “Laporan keuangan Pemprov DKI Jakarta itu WTP [opini audit tertinggi dari BPK], Min.”

“Mestinya bapak vokalis bisa ngerti sih, transparansi keuangan itu seperti apa,” sambung akun tersebut.

Lebih lanjut, @bangajee, nampak heran. “Ini akun resmi berani benar menyebut Pak Anies bohong.”

“Apa karena sudah tahu enggak dipolisikan? Taubat kau Giring. Tidak kah kau jadikan pelajaran gagal ke Senayan?” imbuhnya bertanya.

Di sisi lain, pemilik akun @WiharrtonoHasto, malah bertanya. “Izinkan untuk bertanya, PSI ini penyokong dananya swadaya, apa ada sponsornya, ya?”

Berbeda lagi dengan @aldinalsya, yang mengaku malas mengomentari celotehan Giring.

“Soalnya gue tahu persis, habis bikin video ini, si Giring ketawa ngakak,” ujarnya.

“Karena dia sendiri nyadar, apa yang dibikinnya cuma memenuhi ‘tugas’ yang diembannya,” sambung Aldi.

“Ya, sudahlah, setiap orang punya peran masing-masing, kok. Natural banget,” sindirnya lagi.

Lain juga dengan balasan dari Hari Subagya. “Tadinya saya tidak mendukung Anies.”

“Namun, setelah melihat pidato Gi/ring, saya jadi semangat mendukungnya,” akuannya.

“Saya merasakan kecemburuan dan ketakutan, entah ada apa di balik ketakutan ini,” sambung Hari.

“Biasanya, ada kebenaran di balik sebuah keputusan. (Giring, kamu jahat),” tutupnya.

“Cuma Lu yang Pantas Jadi Presiden”

Akun @conan_idn, juga bicara. “Partai kok caper banget. Pengin amat dimaki-maki netizen, dan membuat kegaduhan.”

“Terus nanti mewek. Nuduh-nuduh rasis atau apalah. Semoga rakyat Indonesia, mengharamkan partai kalian, dan akhirnya bubar dan punah,” tegasnya.

“Lah, bukannya anak ini stres gagal jadi Aleg? Itu dia ngomong lagi sehat apalagi stres?” sahut @Helmi_Felis.

“Ngomong saja masih dibikin-bikin. Dasar bocah stres. Halusinasinya disebarkan ke masyarakat, disponsori oleh PSI. Pas, klop. Tutup ketemu botol,” sambungnya.

Balasan terakhir warganet yang Ngelmu kutip dari media sosial Twitter adalah milik @ahmadfaisoll.

Ia mengetwit, “Iye iyee, Bang, yang pantas jadi presiden cuma lu doang, kok,” tuturnya tertawa, sembari mengunggah potret baliho [Giring untuk Presiden 2024].

“Gubernur Anies Pembohong”

Lantas, seperti apa bunyi pernyataan Giring, dalam video yang memanen kritik warganet?

Berikut selengkapnya:

Saya percaya, kejujuran adalah resep penting untuk keluar dari krisis.

Situasi genting akibat pandemi ini memerlukan keterbukaan dan transparansi.

Karena hanya dengan itu kita bisa mengidentifikasi masalah dengan benar, dan mencari jalan keluar dari krisis.

Dalam krisis, seorang pemimpin adalah panglima yang mengambil tanggung jawab.

Dan menyampaikannya kepada publik secara transparan, situasi dan pilihan-pilihan yang ia ambil, dalam merespons situasi.

Dalam krisis, seorang pemimpin sejati, harus berupaya sekeras mungkin. Menyelamatkan kepentingan yang lebih besar.

Gubernur Anies Baswedan bukanlah sebuah contoh orang yang bisa mengatasi krisis.

Indikator utama dalam menilai kegagalan Anies Baswedan, adalah melihat bagaimana bagaimana cara Gubernur DKI Jakarta membelanjakan uang rakyat selama pandemi.

APBD Jakarta yang begitu besar, ia belanjakan untuk kepentingan ego pribadinya untuk maju sebagai Presiden 2024.

Ia mengabaikan tekanan rakyat yang meminta ia membatalkan rencana balapan mobil Formula E.

Dan mengeluarkan Rp1 triliun… Rp1 triliun uang rakyat untuk acara tidak berguna itu.

Uang muka dan jaminan bank, bagi penyelenggara balap mobil Formula E…

Dibayar Anies pada saat pemerintah secara resmi mengumumkan negara dalam keadaan darurat karena pandemi Covid-19.

Uang rakyat sebanyak itu dihabiskan oleh Anies Baswedan, di tengah penderitaan rakyat yang sakit, meninggal, dan hidupnya susah karena pandemi.

Uang Rp1 triliun ia keluarkan, padahal rakyat terlantar, tidak bisa masuk ke rumah sakit yang penuh.

Rakyat kesulitan makan, karena kehilangan pekerjaan. Di tengah semua penderitaan rakyat, Anies mengatakan menyerah, tidak bisa mengatasi situasi.

Ia mengaku, tidak ada dana untuk mengatasi Covid, dan minta pemerintah pusat mengambil alih penanganan Covid rakyat Jakarta.

Tetapi Anies, di hadapan media selalu menampakkan diri, peduli dengan penderitaan rakyat karena pandemi.

Tapi apakah ia peduli?

“Jangan Lari”

Di tengah video, terlampir pernyataan politikus PSI, Anthony Winza Probowo–dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta–2 Agustus 2021 lalu.

Tepatnya, tentang sikap resmi Fraksi PSI Jakarta, terkait anggaran Formula E.

Masyarakat perlu tahu, ke mana uang tersebut digunakan. Telah berkali-kali pula, kami sebagai wakil rakyat, berdiri di sini.

Menanyakan nasib uang tersebut. Namun, tidak ada satu pun penjelasan terkait hal ini.

Rakyat butuh pekerjaan, rakyat butuh makan, rakyat sedang lapar.

Uang triliunan untuk panggung-panggung Formula E, untuk panggung mercusuar stadion, memang terasa indah dan megah. Penuh glorifikasi.

Ini uang rakyat, minimal ini saya katakan, ini uang rakyat.

Tolong, sekali lagi, ditanggapi, dan jangan lari.

“Jangan Sampai Indonesia Jatuh ke Tangan Anies”

Di akhir video, kembali Giring muncul dan bicara.

Pura-pura peduli adalah kebohongan Anies Baswedan, di tengah pandemi dan penderitaan orang banyak.

Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan nanti di 2024.

Jangan sampai Indonesia, jatuh ke tangan pembohong. Jangan sampai Indonesia, jatuh ke tangan Anies Baswedan.

Baca Juga:

Baca Juga:

  • Bagikan
ngelmu.co