Keputusan Disdik Babel Berubah dalam Sejam Usai Tahu Buku Muhammad Al-Fatih 1453 Karya Ustaz Felix Siauw

  • Bagikan
Disdik Babel Buku Felix Siauw

Ngelmu.co – Keputusan Dinas Pendidikan (Disdik) Bangka Belitung (Babel), melalui surat instruksi Nomor: 420/1109.f/DISDIK tanggal 30 September 2020, berubah dalam satu jam.

Dalam surat yang ditujukan kepada kepala cabang Disdik wilayah I, II, III, dan IV, se-Provinsi Babel, itu mewajibkan peserta didik SMA/SMK, membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453.

Pada Kamis (1/10), sekitar pukul 19.00 WIB, surat yang sudah ditandatangani oleh Kepala Disdik Babel, M Soleh, disebarkan ke seluruh kepala sekolah.

Namun, selang satu jam, yakni pukul 20.00 WIB, Soleh, membatalkan surat instruksi, karena baru mengetahui buku tersebut karya Ustaz Felix Siauw.

Berdasarkan laporan yang ia dapat, pengarang buku–Ustaz Felix–adalah salah satu anggota ormas terlarang di Indonesia.

Lebih lanjut, pada Jumat (2/10) pagi, akun Twitter resmi milik Kantor Bahasa Provinsi Babel, @kbbabel, mengabarkan pembatalan surat instruksi tersebut.

Baca Juga: Ustadz Felix Siauw, “Amal yang Tertukar”

Sebelumnya, Soleh, mewajibkan para siswa membaca, sekaligus merangkum buku Muhammad Al-Fatih 1453.

Di mana hasilnya akan dikumpulkan pihak sekolah, untuk diteruskan ke cabang Disdik, untuk kemudian dilaporkan ke Disdik Babel; paling lambat 18 Desember mendatang.

Surat instruksi itu sebenarnya dibuat pada 30 september, tetapi tanda tangan baru dibubuhkan pada Kamis (1/10) sore.

Soleh, menjelaskan tujuannya mengeluarkan surat Instruksi tersebut.

Kaitannya adalah meningkatkan kemampuan literasi para siswa, dalam rangka assesment kompetensi minimal yang akan dilaksanakan pada 2021; pengganti UN.

Di masa pandemi COVID-19 ini, Disdik Babel, ingin siswa belajar mandiri, membaca dengan serius.

Soleh, memilih buku Muhammad Al-fatih 1453, karena mengulas perjuangan Muhammad Al-Fatih, yang sudah hafiz Al-Qur’an, sejak kecil.

Dalam buku itu juga digambarkan bagaimana perjuangan Muhammad Al-Fatih, menaklukan konstantinopel.

Soleh, sebenarnya ingin nilai-nilai perjuangan itu dipetik oleh para siswa.

Meskipun ia mengaku, belum membaca buku tersebut secara keseluruhan.

“Secara umum. Saya, belum baca secara keseluruhan. Cuma kita ingin, agar teman-teman yang sudah membaca, menyampaikan bahwa anak-anak perlu buku sejarah, salah satunya itu (Muhammad Al-Fatih 1453),” jelas Soleh.

“Kita tidak tahu, kita tahu setelah di-beritahu. Kemudian setelah kita tahu, pengarang itu adalah anggota ormas terlarang, maka segera kita batalkan, jadi ini di luar sepengetahuan kami,” sambungnya, Jumat (2/10), seperti dilansir Kumparan.

“Jadi, kami dari Disdik, ini di luar sepengetahuan kami. Mohon maaf atas segala kelalaian, segala khilaf, dan salah kami,” lanjutnya lagi.

“Ini paling tidak, jadi evaluasi, introspeksi Disdik, untuk lebih berhati-hati ke depan (dalam) memberikan tugas kepada para siswa,” pungkas Soleh.

Baca Juga: Ustadz Felix Siauw, “Islam Memuliakan Manusia”

Meskipun banyak pihak yang setuju membaca buku tersebut tidak perlu diwajibkan, tetapi mereka menyayangkan Ustaz Felix, sebagai penulis disebut ‘anggota ormas terlarang’.

Terlepas dari itu, Ustaz Felix, juga telah mengunggah sebuah tulisan di akun Instagram pribadinya, @felixsiauw, berikut ini:

 

View this post on Instagram

 

Persekusi Buku! – LOL Satu waktu, datang seorang ke Makkah lalu ingin berthawaf di Ka’bah. Ia pemuka kaumnya, dikenal kedermawanannya, luas pergaulannya, dan cerdas melebihi rata-rata manusia Sebelum thawaf, Thufail Bin Amru, begitu ia dipanggil, sudah diwanti-wanti oleh Quraisy jahil, untuk mewaspadai Muhammad, yang kemungkinan besar akan ditemuinya di sekitar Ka’bah Quraisy mendeskripsikan Nabi Muhammad, bahwa narasinya berbahaya, membuat perpecahan dan ketegangan, memecah-belah, intoleran, membuat ricuh dan perpecahan di keluarga Tapi Allah punya cara tersendiri, orang cerdas tak mempan dengan hasut mereka yang hasad. Thufail Bin Amru tertarik dengan Nabi Muhammad bahkan sebelum mendengar bicaranya Selanjutnya, Thufail Bin Amru memeluk Islam, kembali ke kampung dan mengislamkan sepenuh warganya. Beberapa waktu kemudian kembali pada Rasul dengan puluhan murid yang siap belajar Diantara warga Thufail, kita kenal dengan nama Abu Hurairah MasyaAllah. Begitulah sirah mengajari kita. Bahwa narasi kebenaran bukanlah milik kita, tapi milik Allah. Hingga sekuat apapun mereka menghalangi, Allah yang menyebarkannya ke hati-hati ciptaan-Nya Hari-hari ini, kita menyaksikan model-model manusia semisal ini, mereka yang takut pada narasi kebaikan, tak bisa bersaing dengan karya, lalu hanya bisa mencela, dan memfitnah Tapi kita mencoba memahami, apa lagi daya mereka yang tak punya konsep, kalah ide, lemah berpikir, malas berbuat, jumud dalam cara, usang dalam karya? Ya pasti cuma bisa persekusi Kali ini, nggak hanya pembicaranya yang dipersekusi, hanya sekedar baca buku “Muhammad Al-Fatih 1453” saja takut. Yasudah, nggak usah ngomong apa-apa, wong diajak mikir juga ga bisa. Mumet 🤭🤭🤭

A post shared by Felix Siauw (@felixsiauw) on

  • Bagikan
ngelmu.co