Pak Luhut, yang Ini Apa Namanya?

  • Bagikan
Luhut Covid Terkendali
Foto: Detik/Rachman Haryanto

Ngelmu.co – Mewakili para tenaga kesehatan yang berjibaku memerangi Covid-19 langsung di lapangan, dr Eva Sri Diana Chaniago, buka suara.

Penuturannya, bertolak belakang dengan pernyataan pemerintah pusat, dalam hal ini Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

“Kalau ada yang berbicara, bahwa, apa namanya, tidak terkendali keadaannya, sangat-sangat terkendali.”

“Jadi yang bicara tidak terkendali itu bisa datang ke saya, nanti saya tunjukkin ke mukanya, bahwa kita terkendali, jadi, semua kita laksanakan.”

Begitu tegas Luhut, dalam pernyataan pers bersama Menteri Kesehatan dan Menteri PUPR, Senin (12/7), mengutip kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Lantas, Pak Luhut, yang ini apa namanya?

Berikut pernyataan dr Eva [kepada Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi], di acara ‘Catatan Demokrasi’, Rabu (14/7), yang Ngelmu kutip dari kanal YouTube tvOneNews:

Dokter Siti, mohon maaf, fakta di lapangan, kami sangat-sangat kesulitan. Kalau boleh dibilang, kritis, ya, Dok.

Ruangan isolasi bisa ditambah bergedung-gedung, berpuluh-puluh, tapi jumlah kita, nakes, di lapangan sangat kecil, Dok.

Kami banyak yang wafat, kami ada yang isoman, kami ada yang sakit, dirawat, dan kami ada yang resign.

Banyak sekali nakes yang resign, karena kemarin insentif mereka ditahan-tahan.

Mungkin negara memang sulit, tapi mereka juga sulit. Mereka butuh hidup, mereka butuh makan.

Mereka hanya mengandalkan insentif, tidak punya gaji. Itu fakta di lapangan.

Fakta di lapangan, obat-obat tidak ada, obat-obat kurang semua.

Saya bingung, pasien dirawat pun, itu, tidak ada obat-obatan.

Pasien kita terima di IGD, kita kasih kursi, kita kasih bed, kita kasih segala macam.

Tapi jumlah nakesnya terbatas. Pasien, semua datang dalam keadaan saturasi 50 ke bawah.

Pasien semua dalam keadaan gawat, karena kebanyakan pasien ini sudah mengalami isoman di rumah.

Rata-rata sudah sepekan. Datang itu memang, dalam, sudah keadaan berat. Beda dengan dulu, Dok.

Kalau sekarang, mereka itu datang betul-betul kayak sudah setor nyawa.

Begitu datang, ke situ, saturasi sekian, jumlah tenaga medis terbatas, alat-alat terbatas, semua butuh isolasi. Butuh ICU.

Semua butuh alat bantu napas yang… optiflow [alat bantu pernapasan], segala macam. Kami, bahkan obat saja enggak ada.

Kalaupun ada obat, tenaga medisnya tidak kuat untuk bagi-bagi obat, untuk pegang satu-satu orang.

Pasien kritis itu harusnya empat perawat. Ini, 50 pasien, perawatnya jumlahnya berapa? Dokternya berapa?

Itu fakta, Dok, di lapangan. Kami sangat kesulitan. Belum lagi obat-obat. Belum, ya, pasien isoman.

Pasien isoman, setiap konsul ke saya, mereka mampu, yang mampu bisa konsul ke saya by online.

[Tapi] Mereka enggak punya obat. Saya tanya teman-teman di Puskesmas, ‘Bagaimana kalian?’.

Saya pun sakit, keluarga saya, mau beli obat pun enggak ada, Dok.

Tidak bisa beli obat di rumah sakit [tempat] saya [bekerja], kecuali saya dirawat. Keluarga saya tidak bisa beli obat, kecuali dirawat.

Sementara semua isoman. Kalau semua saya rawat, sedangkan dua [anggota] keluarga saya saja butuh berminggu, baru bisa dapat ruang isolasi.

Saya ini dokter khusus dua rumah sakit, saya pegang dua rumah sakit Covid, untuk keluarga saya saja, susah untuk menunggu antrean.

Saya harus menunggu pasien-pasien yang dipulangkan, kalau dokter bilang hampir full, [kenyataan di lapangan] full, Dok.

Bukan hampir full, karena di unit IGD sendiri, pasien untuk ruangan empat, kita jadikan delapan.

Saya di lapangan. Saya bilang ini kritis, karena saya betul-betul tidak bisa berbuat apa-apa.

Pasien datang dalam keadaan berat, itu sangat sulit [untuk] kita melakukan penanganan.

Benarkah Semua Terkendali?

Mendengar penjabaran dr Eva, yang benar-benar berjibaku di lapangan, putra dari Kiai Abdullah Rifa’i, Ulil Abshar Abdalla, bertanya kepada Luhut.

  • Bagikan
ngelmu.co