Para Buzzer

Pengamat Politik: Kalau Dibuang, Para Buzzer Jadi Pengangguran

Diposting pada 296 views

Ngelmu.co – Belakangan ini, media sosial dipenuhi berita-berita palsu yang dengan mudah tersebar luas. Mulai dari mobil ambulans yang katanya membawa batu, hingga grup WhatsApp yang katanya pula, dibentuk oleh anak-anak STM. Pertanyaannya, benarkah pelaku penyebar kabar bohong ini merupakan para buzzer dari pihak Presiden Joko Widodo (Jokowi)?

Mereka yang paling mendapat sorotan adalah @OneMurtadha, @Dennysiregar7, @yusuf_dumdum, hingga @eko_kuntadhi.

Kata Pengamat Politik Tentang Para Buzzer

Namun, terlepas dari empat nama ‘besar’ itu, banyak turunan-turunan buzzer, yang mengamuk di media sosial Twitter. Hingga hal ini diulas oleh pengamat politik, Achsin Ibnu Maksum.

“Kalau dibuang, buzzer Jokowi jadi pengangguran,” tuturnya, seperti dilansir Suara Nasional, Sabtu (5/10).

Achsin mengatakan, serangan kepada seorang pakar drone emprit, Ismail Fahmi, yang dilayangkan para buzzer Jokowi, dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan massif.

“Ismail Fahmi dengan teknologi drone emprit melakukan kerja secara profesional. Drone emprit membongkar kelakuan buzzer Jokowi, ketika menyebarkan hoax ambulans berisi batu dan bensin, sampai grup WhatsApp anak STM buatan oknum polisi,” sambungnya jelas.

Para buzzer, kata Achsin, merasa kecewa kepada politisi partai koalisi pemerintah, yang mulai tercium aromanya, akan membuang mereka, dari barisan ‘penguasa’ media sosial.

“Saya lihat akun-akun Twitter buzzer Jokowi kecewa terhadap partai penguasa yang tidak akan memakai, karena dianggap merugikan penguasa,” kata Achsin.

Karena pemerintah Jokowi, disebut Achsin, akan mengevakuasi keberadaan para buzzer yang mendapat sorotan dari media mainstream di Indonesia, bahkan hingga media asing.

“Kalau buzzer seperti Yusuf Dumdum, Eko Kuntadhi, Denny Siregar tak dipakai penguasa, mereka jadi pengangguran,” pungkasnya.

Para Buzzer Menyerang Pakar Drone Emprit

Sebelumnya, seorang pria bernama Dede Budhyarto memang terlihat menyerang Ismail di media sosial Twitter.

“Ohh masih cari makan di pemerintahan? Kampanye 2019 dukung 02, cari makannya di pemerintah juga, KELAKUAN BANGS*T ini,” tulis @kangdede78, Kamis (3/10).

Alih-alih mendapat dukungan, cuitannya justru mendapat berbagai tanggapan negatif dari warganet.

Markonah: Haha, sementara lu penjilat istana malah gak dapat ya. Miris sekali nasibmu, Nak.

Hery: Rusak hubungan sosial gara-gara para buzzer rupiah hobby bikin hoax, tapi mereka lagi dapat perlindungan extra dari penjaga boneka.

Dee: Otak dipake ya kang Dede, mas Ismail Fahmi orang pinter dan kemampuannya dibutuhkan pemerintah. Emang situ mau yang dipake tenaga asing mulu? Ada anak bangsa yang mampu, hanya karena beda pilihan politik, dicemooh mulu. Daripada pake Anda yang cuma bisa jadi buzzer?

Oemar: Nasib buzzer 25 jigo, kerja keras buat naikin suara pemerintah, tapi pemerintah ogah ngaku terang-terangan kayak gini. Kalo mau diajakin terang-terangan kayak IF, gampang, syaratnya satu, pinter.

Penjelasan Ismail Fahmi

Sementara itu, meskipun dirinya diserang dengan kata-kata kasar, Ismail tetap menjawab dengan santai.

“Saya sekolah S2-S3 tidak dibiayai negara. Bangun sendiri teknologi di malam sampai dengan pagi, bertahun-tahun.

Pulang ke Indo bawa teknologi. Buat nyaingin solusi luar. I give the best buat Indonesia.

Lalu saya analisis data. Tak semua menyenangkan. Itu karena saya ingin negeri ini makin baik.

Selama S2, S3 di Belanda, saya bekerja buat hidup. Saya tidak minta negara sepeser pun.

Belajar teknologi bahasa dan big data. Dengan tekad pulang bikin solusi teknologi terbaik.

Kenapa saya tetap nulis? Karena nuraniku buat negeri ini. Agar lebih baik. Tak cukup hanya doa, tapi butuh nyali.

I give the best buat negeri ini. Bukan buat sosok, bukan buat seseorang. Tapi buat bangsa. Meski karena itu saya berhadapan dengan buzzer.

Buzzer 02 marah karena saya bela habis KawalPemilu. Buzzer 01 juga kesal karena analis-analis yang tidak menyenangkan,” jelas @ismailfahmi.

Kini, yang menjadi pertanyaan adalah, akankah para buzzer itu benar-benar akan merasakan makna habis manis sepah dibuang?