PM Inggris Minta Maaf Kasus Covid Naik, Bagaimana dengan Kita?

  • Bagikan

Ngelmu.co – Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, menyampaikan permintaan maaf kepada publik, setelah kematian akibat COVID-19 di negaranya menembus angka 100 ribu.

Ia, juga mengaku bertanggung jawab penuh terhadap semua langkah yang telah pemerintahan ambil.

“Saya sangat menyesal untuk setiap nyawa yang hilang,” kata Boris, dalam konferensi pers, mengutip BBC, Rabu (27/1) kemarin.

“Tentu saja sebagai perdana menteri, ini menjadi tanggung jawab penuh saya, terhadap apa-apa saja yang pemerintah telah lakukan,” sambungnya.

Jika itu yang terjadi di Inggris, bagaimana dengan negara kita?

Pada Selasa (26/1) lalu, kasus COVID-19 di Indonesia, resmi mencapai angka satu juta–akumulasi dari kemunculan virus Corona pertama kali di Tanah Air, Senin (2/3/2020).

Sehari sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengucap syukur karena menilai pemerintah telah mengatasi dua krisis yang timbul akibat pandemi [krisis kesehatan dan ekonomi].

Covid Corona 1 Juta

“Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik.”

Demikian kata Jokowi, saat memberi sambutan secara virtual pada Sidang MPL-PGI [Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia], Senin (25/1).

Meski demikian, ia tetap mengakui, jika persoalan pandemi belum sepenuhnya berakhir.

Maka itu Jokowi meminta, agar masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Lebih lanjut pemerintah, sambungnya, saat ini akan bergantung pada vaksin untuk mengendalikan penyebaran virus.

Menurut Jokowi, pemerintah siap untuk menyuntikkan vaksin secara massal, “Kita telah menyiapkan 30 ribu vaksinator.”

“Sepuluh ribu puskesmas, dan 3.000 rumah sakit yang akan mendukung vaksinasi, kepada kurang lebih 181,5 juta rakyat Indonesia,” jelas Jokowi.

Sementara pasca kasus COVID-19 resmi menembus angka satu juta, Jokowi, memanggil sejumlah menteri ke Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk menggelar rapat terbatas.

Menjadi salah satu yang ikut hadir, selesai rapat, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, pun menyampaikan beberapa pesan.

“Angka ini membuat kita harus merenung, dan ada dua momen penting yang harus kita sadari,” tuturnya, dalam keterangan pers, mengutip kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (26/1).

Budi mengatakan, makna pertama adalah saatnya Indonesia, berduka, karena banyak sekali pasien yang meninggal, seiring terus meningkatnya kasus.

Bahkan, sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan, gugur dalam menghadapi pandemi ini.

Sementara kerja ekstra keras yang harus berlanjut menjadi makna kedua.

Sebab, dengan demikian, pengorbanan para tenaga kesehatan selama ini, tidak menjadi sia-sia.

Budi, juga meminta kepada seluruh masyarakat untuk bekerja keras, mengurangi laju penularan.

Ia pun berjanji, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memastikan proses 3T, berjalan dengan baik.

Jika laju penularan bisa terkendali, kata Budi, maka beban berat fasilitas pelayanan kesehatan juga dapat berkurang.

Artinya, pihak-pihak terkait, termasuk tenaga kesehatan, juga akan punya waktu lebih banyak dalam merespons pandemi ini.

Baca Juga: Respons Pemerintah Usai Kasus COVID-19 Capai 1 Juta

Sebelumnya, masih pada kesempatan yang sama, Boris menyatakan, jika pemerintah telah melakukan segala yang mereka mampu.

“Kami akan terus berusaha untuk meminimalisir hilangnya nyawa serta penderitaan di masa yang sangat-sangat sulit ini,” ujarnya.

Selain maaf, Boris juga berjanji untuk mencarikan solusi atas masalah varian baru COVID-19.

Begitu pun dengan lockdown yang melumpuhkan perekonomian Inggris.

“Menteri Dalam Negeri akan mengumumkan pembatasan yang lebih ketat lagi untuk negara-negara yang masuk daftar merah kami,” kata Boris, mengutip Reuters.

“Mereka negara yang kami khawatir akan membawa varian baru virus,” imbuhnya.

Pemerintah Inggris, berencana mengarantina pendatang dari negara dengan varian baru COVID-19, di tempat terpisah [hotel yang dialihfungsikan].

Salah satu negara yang masuk daftar merah mereka adalah Afrika Selatan.

Pasalnya, negara itu termasuk negara pertama yang mengidentifikasi penyebaran varian baru COVID-19, di akhir 2020; selain Inggris.

Lebih lanjut soal lockdown dan pemulihan, Boris, telah menyiapkan road map pelonggaran.

Menurutnya, keberhasilan road map itu akan bergantung pada keberhasilan program vaksinasi pemerintah.

Inggris telah menerapkan lockdown nasional untuk ketiga kalinya, sejak Januari 2021.

Sekolah, bar, hingga tempat hiburan harus tutup, sementara restoran tidak boleh melayani makan di tempat.

Inggris, menargetkan vaksinasi untuk 15 juta warganya pada pertengahan Februari.

Sebagai informasi, ketika berita ini ditulis, Inggris, telah mencatat 3.725.637 kasus, dengan 102.085 kematian akibat virus Corona.

Angka tersebut menampatkan Inggris di posisi kelima, sebagai negara paling terdampak COVID-19.

  • Bagikan
ngelmu.co