RI Beli Sinovac, Cina Pesan 100 Juta Dosis Pfizer/BioNTech Buatan AS-Jerman

  • Bagikan
Indonesia Sinovac China Pfizer BioNTech

Ngelmu.co – Sebanyak 1,2 juta dosis Sinovac [vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Cina] yang telah Indonesia beli, tiba di Tanah Air, pada Ahad (6/12) malam lalu.

Namun, kabar pemerintah Tiongkok, memesan 100 juta dosis Pfizer/BioNTech [vaksin buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS); bekerja sama dengan Jerman], menjadi perhatian tersendiri.

Kedua pihak, disebut telah menandatangani perjanjian kerja sama, sehingga Shanghai Fosun Pharmaceutical, mengantongi lisensi untuk mendistribusikan Pfizer/BioNTech ke pasar C.

Mengutip South China Morning Post, BioNTech, akan memasok tidak kurang dari 100 juta ampul vaksin ke Cina, pada 2021.

Maka itu, untuk gelombang pertama [50 juta ampul], Shanghai Fosun Pharmaceutical, perlu membayar 250 juta euro.

Sebagai informasi, pada November lalu, perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech; dan Pfizer–buatan AS–mengumumkan analisis data sementara tahap ketiga.

Analisis data tersebut dari vaksin mRNA (messenger ribonucleic acid) yang mereka kembangkan bersama.

Hasilnya menunjukkan, bahwa vaksin tersebut (BNT162b2) memiliki efek perlindungan terhadap penularan COVID-19, hingga 90 persen.

Angka itu jauh lebih tinggi dari syarat Food and Drug Administration AS [50 persen].

BNT162b2, juga merupakan vaksin COVID-19 pertama di dunia yang memublikasikan data klinis tahap ketiganya.

Vaksin tersebut telah memulai uji klinis tahap ketiga, pada awal bulan Agustus 2020.

Baca Juga: Punya 5 Kandidat Vaksin, Cina Pesan 100 Juta Dosis Pfizer/BioNTech

Kembali ke Cina, Manajer Umum AstraZeneca, Michael Lai, bahwa perusahaannya telah bergabung dalam ‘pertempuran’ melawan COVID-19.

Dengan beberapa cara, termasuk mengembangkan vaksin, karena itu perusahaan berupaya untuk lebih banyak inovasi serta pengembangan, guna membantu pasien di Cina.

“Kami bekerja sama dengan mitra kami, Kangtai Biological, untuk mengembangkan, memproduksi, dan mengomersialkan kandidat vaksin ini di Cina.”

Demikian kata Lai, dalam Pameran Impor Internasional Cina ke-3 (CIIE), di Shanghai, 17 November lalu, mengutip china.org.cn.

Baca Juga: Sebelum Rakyat, 5 Pemimpin Dunia Ini Siap Suntik Vaksin COVID-19 Lebih Dulu

Terlepas dari itu, anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, turut mengomentari soal vaksin ini.

Ia, meminta agar pemerintah mencari tahu alasan Cina, memesan 100 juta dosis Pfizer/BioNTech, pada 2021.

“Kan agak aneh, ya. Mereka punya vaksin sendiri, tapi beli ke tempat lain,” kata Saleh, mengutip CNN, Jumat (18/12).

“Dari sisi keamanan dan keuangan, tentu itu kurang menguntungkan,” imbuhnya.

Pendalaman itu, lanjutnya, harus berlangsung secara adil.

Pasalnya, Cina, bisa saja melakukan impor vaksin itu dalam rangka kerja sama akademik.

Sebagaimana upaya Indonesia, lewat PT Bio Farma (Persero), dengan Sinovac.

“Kita akan memproduksi sendiri vaksin Merah Putih. Namun, pada saat yang sama, kita akan mengimpor vaksin dari Cina, untuk kebutuhan nasional,” akuan Saleh.

“Impor vaksin dilakukan, mengingat jumlah dosis yang dibutuhkan sangat besar,” sambungnya.

Maka itu, Saleh, meminta agar masyarakat tidak perlu mencurigai langkah Cina, mengimpor vaksin dari negara lain.

Ia, juga berharap penyelidikan terkait penyebab Cina, mengimpor vaksin dapat mempertahankan kepercayaan publik terhadap Sinovac.

“Harapannya, asumsi-asumsi negatif dapat dihindarkan,” ujar Saleh.

“Pada akhirnya, tingkat kepercayaan pada vaksin produksi Cina, tetap dapat dipertahankan,” pungkasnya.

  • Bagikan