Unggah Potret ‘Giant’ dengan Kalimat Sindiran, Fadjroel Rachman Panen Kritikan

Diposting pada 542 views

Ngelmu.co – Juru Bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi), harus memanen kritik, akibat cuitannya pada Ahad (13/9) lalu. Pasalnya, ia mengunggah, potret ‘Giant’–salah satu karakter di film kartun Jepang, Doraemon–lengkap dengan kalimat sindirian.

“Memang susah sih ini orang, enggak bisa kerja, maunya ribut aja…,” cuit @fadjroeL.

Tak butuh waktu lama, cuitannya itu langsung memanen kritik dari khalayak ramai.

“Giant tu bantuin emaknya yang punya toko kelontong. Nobita pemales, Suneo spoiled rich kid. Beneran nonton Doraemon, enggak si?” sindir @audhinafh.

“Anda bicara pada diri Anda sendiri,” balas @ikhwanhastanto, ke Fadjroel.

Bukan hanya warganet yang mengkritik Fadjroel, para pengamat pun demikian.

Salah satunya, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah.

Ia bahkan menyarankan, agar Presiden Jokowi, mencopot Fadjroel, dari jabatan juru bicara.

“Fadjroel, tidak memahami posisinya sebagai juru bicara presiden, dan itu cukup disayangkan,” tutur Dedi, seperti dilansir Tempo, Selasa (15/9).

“Sekaligus menandai, jika kualitas kejurubicaraannya sangat diragukan,” sambungnya.

Baca Juga: Ketika Kemenkes Jadi Klaster Penyebaran COVID-19 Terbanyak di 27 Kementerian

Cuitan Fadjroel, memang tak jelas di-arahkan pada siapa, tetapi munculnya bersamaan dengan sorotan publik terhadap rencana pemberlakuan PSBB, oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Menurut Dedi, cuitan itu tidak mencerminkan kualitas seorang pejabat negara.

Sebagai juru bicara presiden, seharusnya Fadjroel, mampu menjaga etika.

“Yakni ujaran publik yang terbuka dan tidak tendensius, terlebih jika itu berkaitan dengan hubungan sesama pejabat negara yang lain,” tegas Dedi.

Jubir presiden, lanjutnya, jangan sampai menimbulkan keramaian. Dilarang juga membangun opini yang berpotensi memunculkan keriuhan politis.

“Jika hal minimum ia tidak miliki, Presiden, sudah waktunya mencopot Fadjroel,” kata Dedi.

Belakangan ini, sambungnya, kekacauan komunikasi publik pemerintah kerap terjadi.

Dedi menduga, penyebabnya adalah minimnya verifikasi, atau adanya upaya menghindari kebenaran.

“Sehingga setiap pejabat punya argumentasi berlainan,” ujarnya.

Sengkarut komunikasi ini, lanjut Dedi, semakin tak terhindarkan, karena banyak pejabat yang membangun panggung masing-masing.

“Padahal, periode kedua Jokowi, ini terkenal dengan berlimpahnya staf ahli, tapi mereka hanya memenuhi posisi, dan tidak subtansial,” kritiknya.

“Saran idealnya, pemerintah perlu mengurangi pekerja komunikasi Istana, dan mulai melarang pejabat negara menghambur-hamburkan statement, jika tidak disertai dengan kebenaran,” jelas Dedi.

Kritik juga muncul dari Roy Suryo. Ia, bahkan menjuluki Fadjroel, sebagai ‘JuzzerRp’.

Julukan yang merupakan singkatan dari Jubir Rasa BuzzeRp.

Menurut Roy, Fadjroel, sudah sejak lama mencuitkan hal yang kontroversial.

Seperti pada cuitan 10 September 2014 silam, tentang utang yang ugal-ugalan.

“Namun, ini sebenarnya sudah sejak lama, lho, masih segar di ingatan kita, cuitan JuzzerRp (Jubir rasa BuzzeRp) ini, tanggal 10/09/14 silam, tentang utang yang ugal-ugalan,” tulis @KRMTRoySuryo2, Ahad (13/9).

“Kini rakyat bisa menilai, rezim siapa yang disebutnya tersebut. Ambyar,” sambung Roy.

Sementara Pengamat Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menilai Fadjroel, bisa dianggap sebagai Jubir Presiden, terburuk sepanjang sejarah Indonesia.

“Ini kesekian kalinya Fadjroel Rachman, melakukan kesalahan komunikasi sebagai Juru Bicara Presiden,” kritiknya, seperti dilansir RMOL, Selasa (15/9).

“Setelah sebelumnya ditegur oleh Menteri Sekretaris Negara, Pratikno,” sambung Ubedilah.

“Karena salah ngomong soal mudik Lebaran, salah bicara influencer ujung tombak demokrasi digital, dan lain-lain,” lanjutnya lagi.

Secara blak-blakan, Ubedilah, menilai cuitan Fadjroel, sebagai narasi yang tidak pantas disampaikan oleh seorang Jubir Presiden.

“Saya membacanya malu dan miris. Malu, sekaligus miris, karena sekelas juru bicara presiden, narasinya mirip buzzer,” tuturnya.

“Tanpa data, kalimatnya tidak jelas, subjek, predikat, objeknya, dan cenderung provokatif, menciptakan narasi permusuhan di antara warganet, karena sarat tafsir,” sambung Ubedilah.

Itulah alasannya mengapa ia menilai, Fadjroel, bisa menjadi Jubir Presiden, terburuk sepanjang sejarah negeri ini.

“Sepanjang catatan saya, ini catatan terburuk seorang juru bicara presiden, sepanjang sejarah Republik Indonesia, memiliki juru bicara presiden,” akuannya.

“Saya khawatir, ini menjadi catatan sejarah terburuk, juru bicara presiden abad ini,” pungkas Ubedilah.