Ustadz Tengku Zulkarnain Wafat, Warganet Balas Ungkapan Duka Mahfud MD dengan Nasihat

  • Bagikan
Mahfud MD Tengku Zulkarnain Meninggal

Ngelmu.co – Menyampaikan duka atas wafatnya Ustadz Tengku Zulkarnain, Menko Polhukam Mahfud MD justru mendapat nasihat dari warganet.

Pada Senin (10/5) malam, melalui akun Twitter pribadinya, @mohmahfudmd, ia menuliskan, “Selamat jalan menghadap Sang Khaliq, Tengku Zulkarnaen.”

Namun, kalimat kedua dalam cuitannya dirasa kurang pantas oleh publik.

Pasalnya, ia mengatakan, “Saya sering merasa dicerca tanpa alasan yang tepat oleh almarhum.”

“Tapi saya diam, karena saya tahu, almarhum merasa sedang berjuang,” sambung Mahfud.

“Baru saja ada berita beliau wafat, saya sudah rindu lagi kepadanya,” imbuhnya lagi.

“Semoga Allah mengampuni dan memberi surga-Nya,” pungkas Mahfud.

Warganet Menasihati

Merasa apa yang disampaikan oleh Mahfud, kurang pantas, masyarakat pun memberi nasihat.

“Pak Mahfud tahu almarhum sedang berjuang menegakkan keadilan. Insya Allah Pak Mahfud dapat hidayah dan bisa berjuang menegakkan keadilan. Ayo, lanjutin lagi tarawihnya, Pak,” tutur @prihardhana.

“Ke mana adabmu Prof, hingga seperti itu ucapan Anda?” tanya @sar_alka.

“Ke mana hilang bijakmu, hingga saat orang sudah meninggal pun, begitu ucapanmu?” sambungnya.

Sementara @conan_idn, mengingatkan, “Ya, gak apa. Kalau Anda @mohmahfudmd gak terima.”

“Ketemu aja nanti di Mahkamah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan saya yakin, @ustadtengkuzul benar di pengadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegasnya.

‘Tak Mungkin Ada Asap Tanpa Api’

Bagi @Anggitahusain2, “Tak mungkin ada asap tanpa ada api.”

“Tak mungkin Ustadz Tengku Zul mencerca tanpa alasan,” imbuhnya.

“Sebaiknya, Bapak musahabah diri. Sebelum sesal menerpa kala maut di ujung nyawa,” lanjutnya lagi.

Begitu juga dengan @tanralam yang mengingatkan, “Prof, jika merasa rindu, rindu saja.”

“Tak perlu disebut beliau mencerca. Indahnya merindu jadi berkurang,” kritiknya.

“Bukan ahlaq ulama, menggunjing orang yang sudah wafat,” sahut @alisyarief.

‘Ungkapan Belasungkawa Tercemar’

Pemilik akun @maymarmas menilai, “Saya kira ini ungkapan belasungkawa yang tercemar.”

“Untuk apalagi Anda menuturkan hal ihwal yang tak mengenalkan, sementara almarhum telah ‘pindah’ rumah kediaman,” sambungnya, bertanya.

“Almarhum tak dapat lagi klarifikasi. Almarhum tak dapat lagi ajukan argumentasi. Kenapa itu Anda lakukan, Tuan?” lanjutnya, heran.

Akun @veaadeeana juga menyatakan, “Yang beliau kritik ‘kan kebijakan Anda sebagai pejabat, Prof.”

“Kritik membangun. Beliau anak bangsa yang cinta NKRI, kok,” ujarnya.

“Inikah Pak Mahfud MD yang saya tahu waktu saya masih kuliah,” ucap @galarindi, bertanya.

“Beda 180 derajat. Sebagai Muslim, kita menjaga etika jika seseorang sudah wafat. Ini pelajaran dasar dan adab sebagai sesama Muslim,” tegasnya.

Warganet lainnya, @rahmaniarbaftim, juga mengingatkan, “Kalau manusia sudah meninggal, jangan digibahi.”

“Ucapkan hanya yang baik-baik saja untuk almarhum/almarhumah, begitu kata Rasulullah. Masa Anda gak paham, Pak!?” lanjutnya.

‘Seharusnya Mikir’

Mahfud juga diingatkan oleh @jarotkharisman, “Harusnya Bapak mikir, kenapa kok dicerca?”

“Bukan malah menyalahkan. Hati dan akal pikiran mestinya dipakai untuk berpikir dan merenung. Tidak ada api tanpa ada asap,” imbuhnya.

“Mereka yang kritis hanya ingin menyuarakan keadilan + kebenaran. Mereka cinta Indonesia, dan enggak ingin negara ini salah urus,” tulisnya lagi.

Netizen dengan akun @hendar_djamain juga berkomentar, “Saya rasa, kalau Bapak merasa sakit hati atas kata-kata Ustadz Tengku Zulkarnain, lebih bijak Bapak enggak usah mengucapkan berita duka cita ini.”

“Dan mungkin lebih baik, Bapak diam saja, daripada mengucapkan duka cita, tapi ada embel-embelnya,” lanjutnya mengkritik.

“Beliau makan dengan keringatnya sediri, sedangkan Bapak @mohmahfudmd makan dari uang rakyat. Pastinya, salah satunya uang gurunda Tengku Zul,” kata @mujiza_t.

“Beliau sampaikan kritik adalah haknya sebagai rakyat, sedangkan Bapak, makan dari gaji yang diberikan rakyat. Kapan kami dapat contoh yang baik dari pejabat?”

Baca Juga: Innalillahi, Ustadz Tengku Zulkarnain Wafat

Ada juga akun @suhudideclan, yang menuliskan cuitan, “Pak Mahfud sudah sepuh. Banyak nanti generasi muda yang akan menyaksikan akhir hayatmu, Pak.”

“Mungkin termasuk saya, jika diberi umur panjang,” sambungnya.

“Ketika Bapak habis masa kontrak hidupnya, pasti akan banyak yang mengingat sikap Bapak terhadap almarhum Ustadz Tengku Zul,” pungkasnya.

Positif COVID-19

Ustadz Tengku Zulkarnain, wafat, setelah berjuang melawan COVID-19, sejak 2 Mei lalu.

“Ia sudah pakai ventilator, napas buatan. Rencana habis Maghrib ini mau dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, di sana sudah siap.”

Demikian kata Direktur Corporate Communication RS Tabrani, Ian Machyar, Senin (10/5) kemarin.

Namun, Ustadz Tengku Zul, mengembuskan napas terakhirnya, satu menit setelah azan Maghrib.

“Sebelum ke pemakaman, mau disholatkan ke Masjid Agung Annur,” jelas Ian.

“Beliau tokoh nasional. Jadi, kita sholatkan bersama, dengan protokol kesehatan, di dalam ambulans,” tutupnya.

  • Bagikan
ngelmu.co