Aksi Mahasiswa Itu ‘Biasa’

Diposting pada 45 views

Ngelmu.co –┬áMuhammad Zaadit Taqwa dikenal publik karena aksinya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) 2018 mengacungkan kartu kuning terhadap Presiden Joko Widodo. Zaadit mengacungkan map besar berwarna kuning kepada sang presiden saat Presiden Jokowi berfoto bersama rektor dan para profesor UI di acara Dies Natalis ke-68 di Balairung UI, Depok, Jumat (2/2/2018).

Zaadit mengaku aksinya tersebut mewakili Aliansi BEM se-UI yang kecewa karena Jokowi tak piawai mengelola tiga hal. Tiga hal tersebut adalah gizi buruk yang menimpa Suku Asmat, Penjabat Gubernur dari Polri yang aktif dan terkait Permenristekdikti tentang Organisasi Mahasiswa.

Seorang mantan aktivis kampus saat masih menjadi mahasswa di tahun 1998 membeberkan betapa aksi mahasiswa itu biasa. Aksi mahasiswa merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap nasib bangsa.  Berikut tulisan mantan aktivis kampus tersebut.

***

Aksi Mahasiswa itu ‘biasa’

Oleh: Arie Mufti

Hari itu Kamis 5 Maret 1998, Kami Dua puluh mahasiswa Universitas Indonesia mendatangi Gedung MPR/DPR untuk menyatakan penolakan terhadap pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto yang disampaikan pada Sidang Umum MPR, kamipun hadir menyerahkan agenda reformasi nasional. Aksi dan kunjungan kami diterima oleh Fraksi ABRI.

Hari yang terasa panjang, Delegasi mahasiswa UI terdiri dari Ketua SMUI dan Pengurus (Rama, Jimbo dkk), Badan Perwakilan Mahasiswa UI (Saya Anggota), dan Para Ketua Senat Fakultas (Termasuk Tope FHUI). Seingat saya sebenarnya jumlah delegasi lebih dari 20 orang , ada yang batal berangkat dan ada yang tertahan (nantinya saat memasuki ruangan di DPR).

Kami berencana berangkat dari pusgiwa UI semula dengan mempersiapkan beberapa skenario, namun di pagi itu saya sempat lihat 2 motor sudah terparkir di seberang pusgiwa, dan intel yg biasa mengawasi kami sudah nangkring duduk manis diatas motor itu. Saya tidak mengikuti diskusi sampai selesai malamnya, selentingan di pagi hari saya sempat mendengar juga ada isu kalau aksi ini akan batal (dibatalkan).

Konon akan Batal karena tak ada fraksi di DPR yang berani menerima kami, karena hari itu saat Soeharto akan membacakan pidato pertanggung jawabannya, kami justru akan datang menolak pidato itu.

Saya masih ingat sebelumnya bersama teman teman KSM UI pernah mencoba berurusan dengan DPR, menyalurkan aspirasi hasil riset kami tentang pemilu lewat salah satu fraksi, memang kehadiran saya dkk sbg periset saat itu diterima, namun diterima diam-diam di malam hari, di pojok sebuah kantor partai di jalan diponegoro. Terlihat bahwa parlemen tak punya ‘kuasa’ dihadapan Presiden Hegemonik model Pak Harto.

Namun hari itu berubah jadi lebih cepat menderu, di depan pusgiwa Bis Kampus yang sehari hari kita sebut Bis Kuning sudah siap mengantar kita, dan sebentar kemudian kami naik ke atas bis. Bis ini tidak berbangku, saya berdiri dan sekali kali terduduk dilantai yang keras dan panas di belakang pengemudi, saat berangkat kami agak tegang, sekali sekali beberapa teman melempar lelucon. Perjalanan makin seru dan melesat cepat ketika mendadak ada vorijder polisi yg membuka jalan untuk bis yang kami tumpangi.

Mungkin lebih nyaman naik metromini sewaan, bisa lebih santai dan sekali kali dapat duduk, Tidak begitu lelah berdiri tak terasa kita sudah sampai di Gedung Parlemen, masuk dari gerbang belakang. Saya sempat berpikir, betapa beruntungnya kita tidak dibelokan motor vorijder tadi ke tangsi militer, atau rutan karena kenekatan hari ini.

Saya bersama rombongan digiring memasuki ruangan. Semula tujuan kami datang adalah untuk menyampaikan aspirasi langsung ke ketua DPR, dan ternyata malah dipertemukan dengan fraksi ABRI yang saat itu di pahami sebagai fraksi ‘Pengawal Penguasa’ di parlemen. Kami duduk berhadap, hadapan dan bisa melihat jelas lawan bicara kami. Beberapa kawan mewakili berbicara menyampaikan aspirasi kami, amat tegas menolak pidato pertanggungjawaban Soeharto, yang kalau di jadikan aspirasi parlemen artinya Pak Harto gagal, dan tak laik dipilih lagi.

Seperti hari hari ini pasca ‘Aksi Kartu Kuning’ yang dibully para buzzer, lawan bicara kami Fraksi ABRI berlaku seolah menjadi herder penguasa, menyatakan aksi kami sebagai ‘hanya bicara’ , ‘tak sesuai realitas’, ‘ditunggangi kepentingan politik’ dan beragam stigma tidak substantif lainnya.

Kenyataannya kami semua yang hadir hanya berpikir berdasarkan apa yang dibaca, dialami dan dirasakan. Keluguan dan kejujuran mahasiswa kemudian tercermin dari pernyataan -pernyataan yang berani, polos tanpa beban.

Mungkin kehadiran kami di parlemen hari itu tidak seheroik menumpahkan darah, namun pikiran dan suara ‘Menolak Pertanggung Jawaban Soeharto’ menjadi salah satu momentum reformasi yang penting, dan bergaung ke seluruh penjuru negri. Tak ada media sosial hari itu, beberapa koran yang hadir batal meliput aksi kami, yang sempat saya baca hanya Jakarta Post yang cukup punya nyali menuliskan peristiwa hari itu secara mendetail.

Lima hari kemudian Soeharto kembali terpilih untuk masa jabatan lima tahun yang ketujuh kali dengan B.J. Habibie sebagai wakil presidennya. Namun kekuasaanya hanya bertahan 2 bulan, 21 Mei 1998 Jam 9 Pagi Soeharto pun kemudian lengser. dan peristiwa 5 Maret 1998 menjadi catatan sejarah, banyak linimasa sejarah yang kemudian mencantumkan hari itu sebagai awal rangkaian peristiwa reformasi.

Mahasiswa zaman now hidup dalam konteks sejarahnya sendiri, aksi kreatif kemarin di acara dies natalis UI saya akui cukup kreatif dan lebih efisien memicu dinamika diskursus publik. L’ Histoire se Repete, para pembully adik adik mahasiswa hari ini tampil seperti lawan bicara kita kala dulu, para pembela penguasa, dan penggebuk demokrasi, mereka menjadi antek penguasa yang seolah suci, dan tak boleh dikritik.

Diskursus publik seharusnya masuk kearah substansi, dan kritikan pada penguasa tidak selalu diarahkan untuk menggulingkan kekuasaan. Para penguasa harusnya menanggapi dengan bernas tuntutan seperti ini, menelisik dan bertindak cepat mendengar suara mahasiswa, dan suara rakyat.

Jadi aksi Mahasiswa itu ‘biasa’, agar selamat tanggapi saja dengan perbaikan substantif. Jangan ikuti Soeharto dan para herdernya.

Toh, aksi dan suara Jujur mahasiswa diperlukan, karena ia akan memecah bebatuan hegemoni kesadaran, memantik api harapan, dan selalu mendorong roda perubahan di negri ini.

 

Dokumentasi video bersejarah ini dipinjam dari wall FB Prof Raldi Artono Koestoer, terimakasih Prof !

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214719185724210&id=1561211316