Ardes Goenawan, Pembawa Acara Kuis yang Harap Timnas Indonesia Kalah di Final AFF

  • Bagikan
Ardes Harap Timnas Kalah
Foto: Instagram/ardesgoenawan

Ngelmu.coArdes Goenawan–pria yang menyebut dirinya sebagai pembawa acara televisi Indonesia–harus menerima ‘serangan’ dari warganet.

Pasalnya, usai Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Singapura, ia justru berharap Skuad Garuda kalah di final Piala AFF 2020.

Dengan ringan; melalui Instagram Story-nya, ia menulis:

Masuk final AFF, gembiranya serasa pahlawan legenda juara Piala Dunia.

Hampir kalah di kandang sendiri melawan 9 pemain. Banyak gaya dan provokatif. Intinya, OVER-RATED.

No offense, tapi ini adalah salah satu dari sedikit indikator bahwa Indonesia, masih belum matang di cabang sepak bola.

Apresiasi untuk kerja keras pelatih dan para pemain muda Indonesia, tapi gue harap gak juara sih.

Aneh banget tim yang hampir kalah dari 9 pemain bisa juara.

Semoga Thailand atau Vietnam aja yang juara.

And please, gak usah mengaitkan keberpihakan tim sepak bola dengan nasionalisme. GAK ADA KORELASINYA.

Gue dukung Singapore dan Thailand, bukan berarti gue gak cinta negara.

Alasannya? Yah ribet… Seribet ngorek hati wanita.

Siapa sih Ardes Goenawan?

Kalau melihat komentar warganet, banyak yang tidak mengenal Ardes Goenawan.

Pengguna Twitter @rockysigiro, misalnya. Ia bilang, “Siapa sih Ardes Goenawan ini?”

Sementara pemilik akun @joshuafmmassie, menyoroti pernyataan Ardes, ‘Hampir kalah di kandang sendiri’.

Ia pun menyentil, “Kandang sih, tapi bukan kandang, malah kandangmya tandang. Ah sudahlah…”

Baca Juga:

Lebih lanjut jika melihat klaimnya sebagai pembaca acara televisi, Ardes diduga berprofesi sebagai presenter di Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Grup.

Namun, Direktur Surya Citra Media Harsiwi Achmad, tegas menampik.

“Yang bersangkutan bukan presenter SCTV atau Indosiar, yang bersangkutan hanya sesekali jadi pembawa acara kuis sponsor.”

“Biasa durasi tiga menit di SCTV atau Indosiar,” demikian jelas Harsiwi pada Ahad (26/12/2021) kemarin, mengutip Kumparan.

“Jadi, yang bersangkutan dan semua pernyataannya, tidak ada sangkut pautnya dengan Indosiar dan SCTV, juga Emtek,” tegas Harsiwi.

“Itu murni urusan pribadi yang bersangkutan,” tutupnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Ardes Goenawan (@ardesgoenawan)

Darius Sentil Balik Ardes

Bukan cuma dari warganet, Ardes juga mendapat sentilan balik dari Darius Sinathrya; aktor sekaligus pencinta sepak bola.

Melalui Instagram Stories dan juga unggahan Twitter-nya, Darius bicara. Berikut selengkapnya:

Duh, Bro @ardesgoenawan, wajar pemain gembira serasa juara Piala Dunia.

Beban para pemain muda ini segitu beratnya, untuk memenuhi hasrat publik Indonesia [kecuali lu] untuk bisa jadi juara.

Setelah kita selalu gagal di lima final sebelumnya.

Mereka udah ngelewatin proses latihan yang panjang dan berat di bawah STY [Shin Tae-yong].

Bahkan, ada beberapa pemain yang memilih menyingkir, karena enggak kuat.

Mereka yang tampil tadi malam, memilih bertahan demi Merah Putih.

Semifinal, artinya, ada empat tim terbaik, dan harus main dua kali di stadion lawan, walau format dua leg.

Singapura, dalam 10 tahun terakhir, bukan lagi lawan mudah buat dikalahkan.

Bahkan, kita beberapa kali kalah menyakitkan dengan berbagai faktor non teknis.

Aneh memang, lawan 9 pemain, kita nyaris kalah.

Tapi itulah sepak bola. Banyak hal bisa terjadi dalam satu pertandingan. Kita memulai dengan luar biasa.

Ungguh cepat, lalu lawan bangkit dan balik menekan. Bahkan, setelah kehilangan dua pemain.

Membuat pemain frustasi dan sepertinya semua yang dilakukan, salah!

Tapi pertandingan belum selesai, dan setiap dari mereka tetap berusaha.

Dengan cara apa pun untuk menyatukan fokus dan menguatkan kaki-kaki mereka tanpa lelah, sekali lagi!

Akhirnya, mereka berhasil menundukkan lawan yang secara mental dan efektivitas bermain, sempat di atas pemain Indonesia.

Banyak gaya itu ekspresi. Mungkin lu menangkapnya beda, jadi bebas-bebas saja.

Provokatif? Ada kejadian di mana pemain kita protes atau ‘menekan’ wasit untuk menghukum lawan.

But, that’s just normal. Ada yang narik, dorong, nunjuk-nunjuk wasit? Bahkan, saat dihukum penalti di ujung laga?

Kadang, provokasi perlu dan penting. Sepak bola bukan cuma permainan fisik, tapi ada faktor lain.

Seperti inteligensi, power of mind, mental, dan emosi.

Over-rated? Well, kalau bicara pemain-pemain muda terpilih dan dilatih pelatih kelas Piala Dunia yang pernah mengalahkan Jerman, memang sebesar itu harapan dan potensi mereka di turnamen ini.

Walau opini pribadi gue, tim ini memang masih butuh waktu untuk jadi versi terbaik.

[Tapi] Tanpa mengurangi harapan dan dukungan gue supaya mereka bisa jadi juara!

Tanpa perjuangan yang mereka rayakan seperti juara Piala Dunia, hasil akan berbeda.

Mereka mau juara. Kita mau juara! Dan apa pun hasilnya, sekecewa apa pun kita, dukungan itu enggak akan pernah pudar.

Silakan kalau mau jagoin Thailand atau Vietnam, itu hak lu, tapi jangan meremehkan perjuangan pelatih dan pemain sepak bola untuk Indonesia.

Kita bisa debat soal peluang siapa yang lebih kuat dan layak jadi pemenang dan juara.

Sebagai fans Inter, harus paham dong, kalau Inter main jelek di semifinal UCL.

Masa mau bilang, ‘Biarin yang juara Juve atau Milan saja?’

Gue enggak akan mempertanyakan nasionalisme lu, karena gue percaya, dalam hati kecil, lu tetap sayang, cinta, dan dukung Timnas Indonesia.

Cuma mungkin ekspektasi dan perspektif lu lagi agak keganggu sama keribetan ngorek hati wanita.

Anyway, lain kali jangan dikorek, biasanya mereka suka kalau disayang dan dingertiin.

  • Bagikan
ngelmu.co