Arti Serangan Kilat Iran ke ‘Israel’

Serangan Iran Israel

Ngelmu.co – Iran melancarkan serangan militer langsung terhadap ‘Israel’ pada Sabtu (13/4/2024) waktu setempat.

Iran meluncurkan lebih dari 200 drone, rudal jelajah, dan rudal balistik ke ‘Israel’.

Ini adalah serangan pertama Iran dalam sejarah terhadap ‘Israel’.

Situasi ini terjadi setelah ‘Israel’ menghancurkan konsulat Teheran di Suriah pada 1 April lalu yang menewaskan 12 orang, termasuk dua jenderal elite Iran.

Tidak jelas, apakah pertempuran ini berlanjut?

Namun, yang jelas, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Baqeri, mengatakan, Teheran telah menyelesaikan serangan balasannya terhadap ‘Israel’.

“Menurut pandangan kami, operasi sudah selesai, tetapi angkatan bersenjata siap, dan kami akan bertindak jika perlu,” kata Baqeri.

Tel Aviv pada Ahad (14/3/2024), pukul 03.30 pagi juga sudah mencabut imbauan kepada warga agar bersembunyi di tempat-tempat aman, selama serangan.

Artinya, ‘Israel’ menyimpulkan, serangan telah berakhir.

Baca juga:

Kita tidak melihat, tidak ada ekskalasi yang besar atau korban di pihak militer penjajah ‘Israel’ yang signifikan, sebagaimana serangan Hamas dan perlawanan bersenjata dari jalur Gaza.

Apa yang bisa kita baca dari serangan singkat ini?

Pertama, alih-alih sebuah deklarasi perang terbuka kepada ‘Israel’, serangan Iran ini lebih merupakan skala terbatas sebagai balasan kepada ‘Israel’.

Durasi serangan hanya berlangsung lima jam.

Bukanlah perlawanan intens seperti yang dilakukan Hamas kepada ‘Israel’ yang sudah hampir memasuki bulan ketujuh sejak Oktober, dan banyak merugikan tentara serta fasilitas militer ‘Israel’, sejak hari pertama pertempuran.

Dalam konteks serangan Iran, ‘Israel’ hanya butuh waktu tujuh jam untuk kembali membuka penerbangannya yang ditangguhkan.

Tentu, kita tidak sedang mengganggap pertempuran ini sebagai sebuah sinetron, tapi ini jauh dari ekspektasi narasi Iran, selama ini yang ingin melenyapkan ‘Israel’.

Iran sudah komunikasi dengan AS

Kedua, beberapa hari sebelum serangan terjadi, Iran sudah membuka komunikasi kepada Inggris, Australia, dan Jerman.

Informasi ini diketahui oleh Washington.

Bahwa Iran, hanya akan merespons tindakan ‘Israel’ secara terbatas atas, dan tidak akan mengarah pada eklasasi di kawasan.

Bahkan, pejabat AS lainnya mengatakan, Washington berkomunikasi langsung dengan Iran, melalui perantara Swiss, dan Iran tidak menyampaikan ancaman melalui saluran ini.

Hal ini yang menyebabkan serangan dari Iran, relatif sudah diketahui sejak awal.

Pada Sabtu, Tel Aviv mengatakan, serangan akan berlangsung dalam 48 jam ke depan.

Waktu yang sangat cukup bagi Tel Aviv dan Washington untuk mengantisipasinya.

Tidak mengherankan, pasukan AS, mencegat lebih dari 70 drone serang satu arah, dan setidaknya, tiga rudal balistik; selama serangan Iran terhadap ‘Israel’.

Rudal balistik tersebut dicegat oleh kapal perang di Laut Mediterania bagian timur, menurut sumber pejabat AS yang dilansir CNN.

Rudal balistik tersebut dicegat oleh kapal perang di Laut Mediterania bagian timur.

Bukan serangan well-prepared

Ketiga, serangan Iran, sangat berbeda dengan Hamas.

Apa yang dilakukan Hamas bersama faksi perlawanan di Gaza, sangat well-prepared.

Mereka menyiapkannya sudah lima tahun. Sangat rahasia, dan terjaga.

Tanpa ada bocoran informasi ke Washington, apalagi ‘Israel’.

Hal ini yang membuat badai Taufan Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023 lalu, sangat efektif melumpuhkan kekuatan ‘Israel’.

The Economist, mengatakan, Hamas melancarkan operasi militer seperti yang tertera dalam buku teks perang.

Mereka memulai serangan secara hati-hati terhadap sensor dan komunikasi militer ‘Israel’.

Banyak kamera pengintai ‘Israel’ menjadi sasaran penembak jitu, dan berhasil dinonaktifkan oleh Hamas.

Perang perangat elektronik juga terlibat dalam operasi Hamas.

Serangan komando terhadap markas besar komando ‘Israel’ di Gaza selatan, mengganggu komunikasinya, dan mencegah para komandan mengeluarkan sinyal peringatan.

Selanjutnya, puluhan kendaraan dan ratusan personel militer Hamas, bergerak menerobos pagar perbatasan yang dibangun penjajah.

Serangan tersebut juga memanfaatkan apa yang disebut oleh militer sebagai perang senjata gabungan.

Roket salvo besar-besaran saat fajar, pergerakan militer di darat, pesawat tempur yang menggunakan pesawat layang bertenaga, dan serangan melalui jalur laut.

Situasi ini sangat berbeda dengan serangan yang dilakukan Iran.

Mengapa Iran (hanya) melakukan serangan terbatas?

Pertanyaannya kemudian, “Kenapa serangan yang dilakukan Iran, masih dalam taraf terbatas?”

Penulis menilainya pada empat hal.

Dalam membaca politik luar negeri Iran, ada satu prinsip yang kita pegang:

Bahwa mereka akan lebih memprioritaskan prinsip memperluas pengaruh ideologinya [Syiah], ketimbang harus berbenturan dengan ‘Israel’ secara terbuka.

Jikapun Iran, mau menyerang lebih kepada serangan terbatas.

Trita Parsi, dalam disertasinya “The Treacherous Alliance: The Secret Dealings of ‘Israel’, Iran, and The US”, mengatakan, Iran memiliki dua kebijakan luar negeri dalam Palestina.

Baca juga:

Pertama, kebijakan retorika.

Di mana Iran akan terus mengecam sekeras mungkin, setiap tindakan ‘Israel’.

Namun, dalam kebijakan operasional, Iran akan tetap menjaga hubungan pragmatismenya dengan ‘Israel’.

Iran, kata Parsi, juga lebih mempertimbangkan faktor strategis daripada ideologis.

Untuk hal itu, Teheran akan sangat hati-hati untuk merealisasikan perlawanan kepada Tel Aviv.

Serangan terbatas mungkin jalan tengah yang diambil Teheran.

Kedua, Iran bukanlah negara yang stabil secara ekonomi. Inflasi masih tinggi di Iran, sekitar 35 persen.

Mereka pasti akan mempertimbangkan faktor domestik dalam konteks perang melawan ‘Israel’.

Apalagi Iran, sudah diingatkan akan adanya dampak serangan balik yang sangat besar terhadap Teheran.

Narasi-narasi perlawanan Iran terhadap ‘Israel’ juga kerap dimanfaatkan Teheran untuk meredam desakan domestik.

Baca juga:

Ketiga, Iran akan lebih banyak mengandalkan serangan dengan menggunakan proksinya di Timur Tengah, seperti Hezbollah, Houthi, dan lainnya.

Serangan melalui jalur proksi akan lebih irit dana dan menghindari risiko, dari revenge yang dilalukan Tel Aviv.

Keempat, Iran juga belum bisa memastikan, siapakah sekutunya yang siap mem-back-up-nya, jika memang mendelarasikan perang terhadap ‘Israel’.

Cina, saat ini masih fokus pada isu ekonomi dan keteganan terhadap Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Rusia, masih berperang dengan Ukraina, sedangkan Korea Utara, masih memiliki konflik dengan ‘Israel’.

Terlepas dari kondisi-kondisi itu, walaupun Beijing dan Moskow, memainkan narasi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, mereka tidak memiliki riwayat permusuhan kepada ‘Israel’.

Hubungan ekonomi dan pertahanan di antara mereka, masih tetap terjaga.

Dalam pernyataannya, Beijing hanya menyampaikan ‘keprihatinan yang mendalam’ atas eskalasi yang terjadi, dan meminta pihak-pihak terkait untuk bersikap tenang, serta menahan diri untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Serangan Iran ini memang tidak menampik, menjadi tamparan bagi negeri-negeri Sunni yang dinilai diam terhadap kezaliman ‘Israel’.

Namun, menjadikan Iran pahlawan dalam serangan kilat ini juga terlalu berlebihan.

Faksi Brigade Izzudin Al Qassam, sudah sangat jauh meninggalkan keduanya soal arti perlawanan terhadap entitas zionis.

Belum lagi jika kita menengok pelanggaran-pelanggaran HAM Iran bersama rezim Assad terhadap warga Suriah.

Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, Pizaro Gozali Idrus