Semula Rp2,5 Juta, Biaya Tes PCR Ternyata Bisa Cuma Rp10.000

  • Bagikan
Tes PCR 10 Ribu
Foto: YouTube/Kompas Tv

Ngelmu.co – Semula, biaya tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Indonesia, mencapai Rp2,5 juta.

Namun, siapa sangka jika ternyata, harganya bisa ditekan ke angka Rp10.000.

Kemungkinan ini tetap berselisih jauh, meski biaya tes PCR sudah turun empat kali.

Dari Rp2,5, juta; Rp900 ribu; Rp500 ribu; dan terakhir Rp300 ribu.

Produser eksekutif sekaligus pembawa acara, Aiman Witjaksono, pun bergerak.

“Saya menelusuri. Ternyata dimungkinkan, harganya hanya Rp10.000,” tuturnya, seperti Ngelmu kutip dari Kompas, Rabu (10/11).

“Pertanyaannya, tentu saja, kenapa harga di awal begitu mahal? Lalu, kenapa baru turun sekarang?,” tanya Aiman.

“Kenapa juga ada perbedaan signifikan dari negara-negara lain, seperti India dan negara ASEAN?,” imbuhnya.

Pasalnya, harga tes PCR di beberapa negara tersebut, sejak beberapa bulan lalu sudah di bawah dari Rp500 ribu.

“Ada pula pertanyaan, berapa sih harga tes PCR sebenarnya?,” kata Aiman.

Belum lagi, di antara ragam pertanyaan itu, muncul informasi [diungkap pertama kali oleh Majalah Tempo].

“Konglomerat, politisi, hingga pejabat, ikut berbisnis laboratorium tes PCR,” tutur Aiman.

Dua nama pejabat bahkan terseret, yakni Menteri Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Baca Juga:

Dugaannya adalah Luhut, terlibat bisnis tes PCR, melalui afiliasi anak perusahaan miliknya, PT Toba Bumi Energi.

Sementara Erick, lewat perusahaan Yayasan Kemanusiaan Adaro, yang tak lain milik kakak kandungnya, Garibaldi Thohir.

Meskipun keduanya telah membantah dugaan ini.

Sebagaimana klarifikasi Luhut di akun Instagram resminya, @Luhut.Pandjaitan.

Begitu juga dengan Erick, yang buka suara lewat Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.

“Di Yayasan Kemanusiaan Adaro ini, Pak Erick Thohir, sejak jadi menteri, tidak aktif lagi di urusan bisnis dan yayasan seperti itu.”

“Jadi, sangat jauh-lah dari keterlibatan atau dikaitkan dengan Pak Erick Thohir,” jelas Arya.

“Apalagi dikatakan main bisnis PCR. Jauh sekali,” sambungnya lagi, pekan lalu.

Berapa Biaya Tes PCR yang Wajar?

Terlepas dari dua nama pejabat tadi, kita kembali ke pertanyaan pokok. Berapa sih harga wajar untuk tes PCR?

Aiman pun mencoba mencari tahu langsung ke Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab).

Ia menemui Sekjen Gakeslab Randy Teguh, dan mendapat informasi mengejutkan.

Pasalnya, Randy membeberkan biaya tes PCR terkait dengan mesin dan reagen.

Artinya, biaya ini tidak terkait dengan peralatan untuk tes PCR, seperti baju hazmat, batang pengambil sampel, dan sejumlah lainnya.

“Mesin dan reagen ini seumpama printer dan tinta. Tidak bisa digunakan tanpa salah satunya,” kata Aiman.

Harga mesin PCR, mencapai ratusan juta rupiah, tetapi penggunaaannya untuk jangka panjang.

Sementara harga reagen, bervariasi. Belasan, puluhan, hingga ratusan ribu rupiah di awal pandemi.

“Di awal pandemi, harga reagen tinggi, karena susah didapat,” ujar Aiman.

Lantas, berapa harga tes PCR sebenarnya?

“Rp10.000 pun bisa,” jawab Randy kepada Aiman.

“Lo, kenapa bisa semurah itu?” jawab Aiman, penasaran.

“Jika dilakukan kerja sama operasi, alias skema bisnis tertentu,” jelas Randy.

Kuncinya, kata Randy, adalah pada efektivitas penggunaan mesin PCR.

Jika penggunaan mesin sendiri, dan waktu operasionalnya terbatas, tentu pebisnis akan menaikkan harga. Tujuannya agar modal kembali.

“Namun, jika mesin bisa digunakan bersama, dan waktu operasi bisa maksimal, maka harga tes PCR bisa ditekan,” ucap Aiman.

Maka jalan keluar dari polemik ini adalah mencari model bisnis kolaboratif yang dapat memaksimalkan mesin-mesin PCR yang ada.

“PCR ini memang bisnis luar biasa besar,” kata Aiman.

Sebagaimana ICW dan Koalisi Masyarakat Sipil yang menghitung keuntungan dari bisnis PCR, selama kurang lebih satu tahun terakhir pandemi.

Angkanya mencapai lebih dari Rp10 triliun.

“Meskipun tak bisa dilepaskan dari aspek bisnis, PCR punya dimensi kepentingan publik dan kepentingan nasional,” tutur Aiman.

“Oleh karena itu, harga paling murah, perlu diupayakan,” pungkasnya.

Simak selengkapnya:

  • Bagikan