‘Bu Risma’ Trending Gara-Gara Paksa Anak Tuli Bicara

  • Bagikan
Bu Risma Tuli Bicara

Ngelmu.co – Seorang teman Tuli, Stefanus, mengoreksi sikap Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, yang memaksa teman Tuli lainnya untuk bicara.

Apalagi ini terjadi di hadapan banyak orang, tepatnya ketika peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2021.

Potret inilah yang kemudian ‘Bu Risma‘ menjadi trending di media sosial Twitter, Kamis (2/12/2021) siang.

Sebagai perwakilan dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin), Stefanus–biasa dipanggil Stefan–bicara.

Ibu mohon maaf, saya mau berbicara dengan ibu, sebelumnya. Ibu, saya harap sudah mengetahui CRPD [Convention on the Rights of Persons with Disabilities].

Bahwasanya anak Tuli itu memang menggunakan alat bantu dengar, tapi tidak untuk kemudian dipaksa untuk berbicara.

Tadi saya sangat kaget, ketika ibu memberikan pernyataan…

Belum selesai bicara, Risma menghampiri Stefan. Ia pun bertanya, “Mohon maaf, apakah saya salah?”

Risma menjawab, tidak. Lalu, Stefan pun melanjutkan penjelasannya.

Jadi, perkenalkan, nama saya Stefanus, panggilannya Stefan.

Saya ingin menyampaikan, bahwasanya bahasa isyarat itu penting bagi kami.

Bahasa isyarat itu adalah seperti harta bagi kami…

Namun, lagi-lagi, belum selesai bicara, Risma memotong.

Namanya siapa dia? Stefan?

Jadi, Stefan, kamu bisa lihat aku? Jadi, Stefan, ibu tidak, ibu tidak mengurangi bahasa isyarat.

Tapi Stefan, kamu tahu? Tuhan, itu memberikan mulut, memberikan telinga, memberikan mata kepada kita.

Yang ingin ibu ajarkan kepada kalian, terutama anak-anak yang menggunakan alat bantu dengar, sebetulnya, tidak mesti dia bisu, sebetulnya tidak mesti bisu.

Jadi, karena itu, kenapa ibu paksa kalian untuk bicara? Ibu paksa memang.

Supaya kita bisa maksimal, memaksimalkan pemberian Tuhan kepada kita. Mulut, mata, telinga.

Jadi, ibu tidak melarang menggunakan bahasa isyarat, tapi kalau kamu bisa bicara, maka itu akan lebih baik lagi… Mengerti ya, Stefan?

Stefan pun kembali menanggapi Risma. “Ibu, saya mau menambahkan sebentar.”

Jadi, kemampuan bicara anak-anak Tuli itu bermacam-macam.

Ada yang memang dia Tuli dari sejak kecil, ada yang tidak Tuli sejak kecil seperti Mbak Angkie [Re: Angkie Yudistia].

Dan kemampuan bahasa isyaratnya juga beragam. Ada yang bisa bahasa isyarat, ada yang tidak bisa bahasa isyarat.

Jadi, itu yang harus dihargai. Bahasa isyarat bisa memberikan pemahaman juga kepada orang Tuli…

Risma pun kembali menjawab, “Aku setuju itu, aku sangat setuju itu.”

Tapi Stefan, ibu sangat setuju sekali, tapi saya berharap kita harus mencoba.

Ibu pengin coba, seberapa kemampuan, terutama anak, untuk dia memaksimalkan telinganya, memaksimalkan mulutnya.

Tidak boleh menyerah Stefan, tidak ada kata menyerah, tidak boleh berhenti.

Kamu boleh belajar, boleh tetap gunakan bahasa isyarat, bahkan kalau perlu, ibu minta sendiri juga.

Kalau ibu bicara, ibu selalu didampingi penerjemah bahasa isyarat.

Tapi Stefan, ibu pengin melatih kepada kalian semua untuk tidak menyerah, kalian harus terus berlatih, terus berlatih…

‘Bu Risma’ Trending

Setelah Stefan mengoreksi sikap Risma, dan Risma menjelaskan, mengapa ia memaksa anak Tuli untuk bicara, ‘Bu Risma’ pun trending di media sosial Twitter.

Potongan video dari acara yang disiarkan langsung di kanal YouTube Kemensos RI–bagian Stefan dan Risma bicara–itu viral.

“Baru kali ini gua denger orang bisu disuruh ngomong,” kata @askha_bayu.

“Bu Risma bahkan enggak sedikit pun coba memahami penjelasan si Stefan,” kritik @WidasSatyo.

“Iya, ini gue juga kaget banget, ya,” timpal @slvnabs. “Setelah tahu konteksnya Stefan, mau mengkritik dirinya, dia justru motong pembicara dan langsung ‘klarifikasi’.”

“Bahkan dari klarifikasinya saja dia ragu apa yang dikatakannya itu benar atau engga. Apa salahnya bilang, ‘Maaf, saya telah salah’,” sambungnya.

Baca Juga:

Pengguna Twitter @githamys, juga bicara. “Mana ada orang yang pengin enggak bisa ngomong sama dengar?”

“Mungkin ibu enggak tahu gimana rasa sakit mereka saat memakai ABD [alat bantu dengar], dan juga ketika dipaksa berbicara saat terapi wicara,” imbuhnya.

“Saya kesal dan emosi sekali mendengar pernyataan ibu,” lanjutnya.

Pemilik akun @pejabrut, juga mengingatkan Risma. “Bu, manusia juga diberi karunia untuk bisa mendengarkan, memahami, dan diam.”

“Seharusnya ibu juga memaksimalkan karunia Tuhan tersebut,” sentilnya.

“Merupakan contoh nyata, betapa pentingnya merasakan posisi orang lain dan ‘menjadi’ seperti mereka dahulu, sebelum mengeluarkan statement. Bisa jadi bumerang diri sendiri,” sahut @ptrprat.

  • Bagikan