Cak Anam: Jaga Betul, Hanya PKS yang Konsisten dengan Politik Islam

Cak Anam PKS Partai Politik Islam Konsisten
Cak Anam dan Ustaz Muhammad Aziz [Ketua Bidang Pembangunan Keummatan DPW PKS Jatim]

Ngelmu.co – Dewan Kurator Museum Nahdlatul Ulama (NU), Choirul Anam (Cak Anam), berpesan kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS), di acara penutupan Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK) Tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Pesan saya, jaga betul PKS. Saya telah mencermati gerakan partai politik di negeri ini,” tuturnya, mengutip duta.co, Ahad (20/12).

“Saya melihat, hanya PKS, parpol Islam yang konsisten dengan politik Islam,” sambung Cak Anam.

“Gerakan politik Islam seperti inilah yang diharapkan para masyayikh,” lanjutnya lagi, di Gedung Museum NU.

Termasuk peduli regenerasi dakwah Islam, menjaga hasanah, salah satunya dengan menggelar lomba baca kitab kuning.

Cak Anak yang juga pernah menjadi wartawan Majalah Tempo–sekaligus editor–itu, mengisahkan awal ketertarikannya masuk dunia politik praktis.

Semua tak lepas dari kedekatannya dengan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang terbangun sejak tahun 1978.

Ketika menjabat Wakil Ketua PWNU Jatim (1998), tiba-tiba, Cak Anam, dipercaya menjadi Ketua DPW PKB Jatim.

Maka ia pun, harus menyiapkan segala sesuatu, menjelang Pemilu 1999, agar partainya bisa menjadi menang.

“Alhamdulillah, Pemilu 1999, PKB Jawa Timur juara, mendapat 7.000.000 suara, atau 34 persen dari 19 juta suara yang diperebutkan,” kenang Cak Anam.

“Begitu juga Pemilu berikutnya, 2004, nomor satu. Jawa Timur menjadi pemasok terbesar suara nasional, 52 persen suara PKB di Senayan, dari Jatim,” imbuhnya.

Baca Juga: Pesan Tentang Pancasila dari Ketum PP Muhammadiyah untuk PKS

Namun, menurut Cak Anam, peristiwa tersebut tidak lagi bisa terulang saat ini.

“Karena partai ini [PKB–re], sudah ‘lari’ dari harapan para masyayikh.”

“Keinginan para masyayikh itu, memiliki partai politik yang konsisten dengan politik Islam,” sambungnya.

Islam ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah, lanjut Cak Anam.

“Bukan parpol yang menghalalkan segala cara. Garong sana, garong sini, hanya untuk mengejar uang dan jabatan,” tegasnya.

Cak Anam yang juga merupakan mantan Ketua GP Ansor Jatim, menyinggung salah satu kebijakan politik yang sangat menyita perhatian publik.

Kemunculan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), yang memanen penolakan dari seluruh Ormas Islam, pun kelompok non-Muslim.

Para penolak sepakat jika RUU, berpeluang mengancam eksistensi Pancasila.

“Ironisnya, seluruh parpol di Senayan, mendukung. Hanya PKS, satu-satunya partai Islam yang konsisten menjaga Pancasila dan UUD 1945,” ujar Cak Anam.

“Karena itu, harapan saya kepada seluruh kader PKS, pegang teguh politik Islam yang rahmatan lilalamin ini,” imbuhnya.

“Jaga Pancasila dan UUD 1945 yang asli. Saya yakin, PKS akan menjadi partai besar, partai yang mendapat kepercayaan rakyat,” lanjutnya lagi.

Baca Juga: Apresiasi Anies untuk PKS yang Senantiasa Jaga Kecintaan pada Rasulullah

PKS, sambung Cak Anam, harus memerhatikan pemilih Jawa Timur.

Sebab, menurutnya, jika di Jawa Timur kuat, maka secara nasional, PKS akan kuat.

“PKS tidak perlu takut dengan stigma radikal, garis keras, karena itu hanya modus orang mencari uang,” kata Cak Anam.

“Buktinya di PKS, banyak tokoh NU. Percayalah, rakyat pasti melihat, mana politisi santri dan dapat dititipi aspirasi,” pesannya.

Pada kesempatan itu, Cak Anam, juga menyinggung pembangunan Museum NU.

“Museum NU ini dibangun atas perintah Gus Dur kepada saya. Masih ada satu lagi perintah Gus Dur yang belum terealisir,” akuannya.

“Adalah Gedung Menara Rukyat,” sambung Cak Anam.

Peletakan batu pertama Museum NU sendiri, dilakukan oleh Gus Dur, dan diresmikan Rois Aam PBNU, KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudh (Mbah Sahal).

Lebih lanjut, Cak Anam, mengatakan jika museum tersebut siap bekerja sama dengan parpol mana pun, demi umat.

“Kalau PKS peduli terhadap perkembangan dakwah Islam, santri, dan pesantren, Museum NU, siap membackup,” ucapnya.

“Silakan kerja sama dengan Museum NU, dengan Ormas PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah),” sambung Cak Anam.

“Demi pemberdayaan umat. Politik seperti inilah yang diharapkan para masyayikh,” pungkasnya.